Jakarta, TopBusiness – Tidak mudah memang berbisnis air minum di daerah yang memilik sumber air melimpah. Hal ini pun dirasakan oleh Perusahaan Air Minum Lae Nciho Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Secara topografi, kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam di utara ini terdiri dari daerah pegunungan, namun begitu beberapa kecamatan juga masih dilintasi oleh daerah wisata Danau Toba yang tentu saja memiliki sumber air melimpah.
“Secara topografi, sejatinya kami ini sangat diuntungkan dengan kondisi alam yang kaya akan air. Namun di sisi lain juga menjadi tantangan kami. Di beberapa tempat ibukota kecamatan dan di daerah pegunungan banyak dilintasi sungai, sehingga air melimpah. Dari 15 kecamatan yang ada, masih ada dua kecamatan yang sama sekali belum tersentuh cakupan wilayah Perumdam yakni Kecamatan Silahisabungan dan Siempat Nempu Hilir. Karena di belakang rumah wargaya masih banyak air,” terang Direktur Perumdam Lae Nciho, Wahlin Munte, saat mengikut proses penjurian TOP BUMD Awards 2023, Selasa (14/2/2023).
“Dua daerah yang di belakangnya ada Danau Toba belum bisa kami sentuh, padahal itu daerah wisata. Ini tentu masih menjadi tantangan kami,” imbuhnya lagi.
Sejatinya, ada beberapa tantangan lain yang masih dihadapi oleh Perumdam satu ini. Kata dia, tantangan yang dihadapinya saat ini adalah masih banyaknya pengelolaan air minum di pedesaan yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Selain itu, masih banyaknya alih fungsi lahan yang mengakibatkan debit sumber air Baku Perumdam menjadi menurun. Serta adanya kondisi kurangnya pemakaian air, hal ini dikarenakan adanya curah hujan yang sangat tinggi.
“Istilahnya di kami ini untuk mandi saja sehari sekali, jadi penggunaan air memang sedikit. Karena selain daerah dingin, di kami ini curah hujan juga tinggi,” cerita dia.
Kendati begitu, pihak Perumdam Lae Nciho ini tidak lantas patah arang. Pihaknya terus berupaya untuk bisa menggaet pelanggan sebanyak mungkin, terutama dari pelanggan perumahan dapat dilayani sesuai target yang sudah dicanangkan.
Untuk itu, pihaknya pun sudah memasang sederet target yakni, pertama, memproduksi dan mendistribusikan air minum secara kontinyu dalam jumlah yang cukup, sesuai dengan standart mutu; kedua, memperluas jangkauan wilayah pelayanan serta meningkatkan cakupan pelayanan; ketiga, membina dan membekali SDM untuk berdedikasi tinggi dan terampil sesuai dengan bidang tugasnya.
Keempat, membudayakan sistem pelayanan yang lebih menggutamakan kepuasan pelanggan; dan kelima, melaksanakan dan melestarikan standart etik dalam setiap rangkaian kegiatan operasional perusahaan.
Pencapian Kinerja Bisnis
Meskipun Perumdam milik Pemerintah Kabupatan Dairi ini sarat dengan tantangan, menurut Wahlin, pihaknya tetap mampu mencapai kinerja bisnis yang positif. Adapun beberapa pencapaian yang sudah dilakukan antara lain, jumlah SR Perumdam Lae Nciho mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dimana Perumdam ini juga menerapkan sistem sambungan mudah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan cara sambungan rumah sistem kredit.
Selanjutnya, Perumdam Lae Nciho juga sudah menerapkan billing sistem (rekening online) dalam hal penagihan percepatan jumlah hari penagihan. Dan juga Perumdam Lae Nciho ini sudah menerapkan service center pengaduan langganan yang siap 24 jam.
Keberhasilan lainnya tentu saja terkait tingkat kehilangan air (non revenue water) yang rendah di level 21,58%. Makanya untuk peringkat di provinsi pun berada di tangga keempat dari total 19 PDAM se-Sumatera Utara. Dengan jumlah langganan (SL) di posisi 22.451 pelanggan. Dan cakupan wilayahnya baru di angka 29,32% (teknis) serta 24,10% (adminsitrasi).
“Namun untuk kontribuasi ke Pemda sendiri, saat ini baru disebuat sebagai perusahaan yang bisa membuka lapangan kerja untuk daerah. Sebab hingga kini kami belum bisa memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) lantaran Perumda Air Minum Lae Nciho ini statusnya masih Break Even Point. Artinya tidak untung dan tidak rugi,” jelas Wahlin.
Meski begitu, lanjut dia, secara tata kelola keuangan sudah sangat positif. Hal ini dikarenakan berdasar hasil audit keuangan sudah berstatus Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
“Berdasarkan audit keuangan yang dilakukan oleh BPKP dan auditor independen dari Kantor Akuntan Publik (KAP), dilaporkan bahwa manajemen keuangan yang dilaksanakan berdasarkan SAK-ETAP mendapat opini ‘Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)’ dari tahun 2017 hingga tahun 2022. Atau menurut BPKP kategori ‘SEHAT’,” tegas dia, bangga.
Selain itu, dalam target kinerja bisnis ini pihaknya juga terus mengalami pertumbuhan. Meskipun memang belum bisa memenuhi target yang ada. Baik itu target penjualan atau pendapatan maupun target jumlah pelanggan.
Untuk pencapaian pendapatan berhasil di angka 70% atau sebesar Rp14,61 miliar dari target sebesar Rp20,94 miliar. Berarti masih lebih baik dari pencapaian tahun 2021 lalu sebesar Rp13,97 miliar atau tercapai 60% dari target. Sementara secara tahunan (year on year) pendapatannya bertumbuh 10%.
Pun demikian dengan target jumlah pelanggan. Di tahun 2022 lalu sebanyak 22.451 pelanggan atau tercapai 96% dari target sebesar 23.269 pelanggan. Juga angka ini masih lebih baik dari tahun 2021 lalu sebanyak 21.656 pelanggan alias tercapai 90%. Sehingga jika dilihat secara tahunan bertumbuh sebesar 6% (yoy).
