Jakarta, TopBusiness – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) perusahaan pertambangan dan hilirisasi nikel terintegrasi yang memiliki kemampuan hulu dan hilir dengan pengalaman operasional lebih dari 10 tahun di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara disebut-sebut memiliki prospek kinerja kian menjanjikan.
Telebih, kondisi tersebut didukung oleh mulai beroperasinya pabrik nikel sulfat milik Grup Harita ini pada awal April 2023 ini yang menjadikannya sebagai pabrik nikel sulfat pertama di Indonesia. Ini tentu saja berkontribusi besar terhadap suksesnya program Pemerintahan Jokowi ini yakni mengembangkan kendaraan listrik.
Menurut Presiden Direktur NCKL, Roy A. Arfandy, merujuk riset yang dilakukan AME Mineral Economics Pty Ltd (AME), berdasarkan ekspektasi produksi volume nikel tambang Perseroan pada tahun 2022 lalu, NCKL diharapkan menjadi emiten produsen nikel murni terbesar di Indonesia dibandingkan perusahaan tambang nikel tercatat lainnya.
“Saat ini, Perseroan dan Entitas Anak memiliki dan mengoperasikan dua proyek pertambangan nikel laterit aktif. Pertama seluas 4.247 hektar di Kawasi yang dioperasikan oleh NCKL dan 1.277 hektar di Loji yang dioperasikan oleh entitas anak, PT Gane Permai Sentosa. Keduanya terletak di Pulau Obi, Provinsi Maluku Utara,” tutur dia usai pencatatan saham NCKL di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu (12/4/2023).
“Dengan demikian, total luas kawasan pertambangan milik Perseroan adalah sekitar 5.524 hektar,” sambungnya.
Selain itu, sampai dengan saat ini, Enttas Anak Perseroan memiliki dua prospek pertambangan nikel yaitu PT Obi Anugerah Mineral seluas 1.775 hektar dan PT Jikodolong Megah Pertiwi dengan luas 1.885 hektar. “Keduanya juga berlokasi di Pulau Obi,” kata Roy.
Berdasarkan laporan keuangan interim untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 November 2023 (tidak diaudit), pendapatan NCKL dari kontrak dengan pelanggan mencapai Rp9,04 triliun selama periode Januari 2022 hingga November 2022.
Pencapaian itu naik 17,40% dibandingkan pendapatan NCKL pada periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp7,70 triliun. NCKL juga mencatatkan kenaikan laba usaha NCKL sebesar 18,43%, dari Rp3,31 trilun menjadi Rp3,92 triliun per 30 November 2022.
Saat Ini, kata dia, NCKL telah menyelesaikan 3 lini produksi refinery High Pressure Acid Leach (HPAL) dan telah mencapai 100% kapasitas produksi sehingga total kapasitas produksi mencapai 55 ribu metal ton per tahun.
“Tidak hanya itu, kami (NCKL) juga semakin ke hilir dengan memasuki fase commusioning untuk produksi nikel sulfat sejak awal April 2023. Ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam industri baterai kendaraan listrik dengan hadir dan beroperasinya pabrik nikel sulfat pertama di Indonesia itu,” katanya bangga.
PT Trimegah Bangun Persada Tbk merupakan perusahaan patungan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan Lygend Resources & Technology Co., Ltd (Lygend), yakni PT Halmahera Persada Lygend (HPL), berencana memulai produksi komersial Nikel Sulfat (NiSO4) dan Kobalt Sulfat (CoSO4). Mengutip prospektus perusahaan, NCKL memiliki kepemilikan saham sebesar 45,10%. HPL merupakan entitas asosiasi NCKL.
Hilirisasi nikel berkembang pesat semenjak pemerintah melarang ekspor bijih (ore) sejak 1 Januari 2020. Hasilnya, nilai tambah ekspor nikel melejit dari hanya US$1,1 miliar atau Rp16,5 triliun (asumsi kurs Rp15 ribu per dolar AS) menjadi US$33,81 miliar atau Rp507,15 triliun tahun lalu.
Mengutip paparan Menteri Investasi/ Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam Investment Forum B20 di Bali pada November lalu, nilai tambah nikel sulfat 11,4 kali lipat dari limonit. Lalu, nilai tambah prekursor 19,4 kali lipat, katoda 37,5 kali lipat, dan sel baterai 67,7 kali lipat.
