Jakarta, TopBusiness – PT. GTS Internasional Tbk. (GTSI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam RUPS Tahun Buku 2022, membahas enam agenda antara lain, persetujuan Laporan Keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2022, Penetapan Penggunaan Laba Bersih Perseroan, Penunjukkan Akuntan Publik Perseroan (KAP).
Dalam paparannya, Direktur Utama GTSI, Tammy Meidharma menegaskan, realisasi penggunaan dana Hasil Penawaran Umum yakni terkait rencana Perseroan untuk membeli dan memodifikasi kapal LNG.
“Untuk target realisasi pembelian kapal LNG dalam proses, tapi di akhir tahun sudah bisa dibeli. Pembelian itu untuk bisnis jangka panjang khususnya di tahun 2024 ini yang diproyeksi lebih menarik bisnis angkutan laut,” tutur Tammy usai RUPST, di Jakarta, Selasa (6/6/2023).
Sementara itu untuk agenda lainnya terkait dividen, karena perseroan melakukan penyisihan cadangan wajib, maka GTSI memutuskan untuk tidak membagikan dividen kali ini.
Kata dia, berdasarkan aturan dalam Pasal 71 UU Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007, manajemen GTSI ini mengusulkan kepada pemegang saham dan kuasa pemegang saham untuk tidak membagikan dividen.
“Sebagaimana ketentuan Pasal 71 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dividen dibagikan dalam kondisi laba positif. Sementara pada 2022 lalu, Perseroan masih membukukan saldo laba negatif,” ujarnya.
Tammy berjanji, GTSI kemungkinan baru bisa membayarkan dividen tersebut dalam waktu sekitar dua atau tiga tahun lagi.
Adapun untuk RUPSLB, hanya terdiri dari agenda tunggal yaitu Perseroan mengajukan persetujuan perubahan Anggaran Dasar Perseroan. Agenda tersebut sekaligus menutup rangkaian Rapat Umum Pemegang Saham GTSI.
Kendati begitu, kata Tammy, pihaknya bersyukur dengan kondisi bisnis perusahaan tersebut. “Kami bersyukur atas pencapaian GTSI. Ini semua kerja keras semua pihak. Tidak mudah dan tantangan industri pasti ada. Namun GTSI terus fokus pada excellence service dan menjaga kepercayaan pelanggan,” ujar dia.
Untuk diketahui, di tahun 2022, Perseroan berhasil mencetak kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan tahun 2021. Secara pendapatan, per 31 Desember 2022, Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar USD 41.226.395, lebih tinggi 34,03% dibandingkan 2021 sebesar USD30.759.409.
Selain itu, laba bersih Perseroan juga mengalami peningkatan sebesar 143,03%, dari rugi sebesar USD 11.914.342 menjadi mencetak laba bersih sebesar USD 5.126.255.
Direktur GTSI, Dandun Widodo mengatakan, “Perseroan juga tetap berada dalam posisi keuangan yang sehat, dengan total asset sebesar USD 123.802.012 di tahun 2022,” katanya.
Hal ini didukung dengan Ekuitas Perseroan menguat di tahun 2022 menjadi USD 56.962.210, meningkat sebesar 18,55% dari USD 48.049.953 di akhir tahun 2021.
Ekuitas Perseroan per tanggal 31 Desember 2022 tercatat sebesar USD 56.962.210 atau naik sebesar 18,55% dibandingkan pencapaian tahun 2021 yang disebabkan oleh peningkatan penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi.
Perseroan per tanggal 31 Desember 2022 mencatat peningkatan nilai pendapatan sebesar 34,03% menjadi USD 41.226.395 dibandingkan kinerja tahun 2021 sebesar USD 30.759.409. Hal ini disebabkan oleh peningkatan seluruh komponen pendapatan termasuk jasa sewa kapal dan pengelolaan kapal.
Prospek Usaha
Dandun menegaskan, industri gas alam cair di Indonesia di tahun 2023 diperkirakan masih stabil. Gas bumi juga mengambil bagian penting dari proses transisi energi.
Di Indonesia masih didominasi dengan rencana proyek regasifikasi yang telah dicanangkan oleh Pemerintah dalam KepMen ESDM no 249/2022 tentang penunjukan PLN dalam melakukan migrasi dari bahan bakar minyak ke bahan bakar LNG.
“Makanya, hal ini mencakup energi transisi dan energi bersih untuk beberapa pembangkit listrik di Indonesia dan GTSI siap untuk mengambil peran di dalamnya,” ungkap dia.
