Jakarta, TopBusiness – Perusahaan tambang tembaga dan emas salah satu yang terbesar di Indonesia, PT Amman Mineral Internasional Tbk (IDX: AMMN) resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia melalui skema penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).
Di perdagangan debutnya, AMMN langsung terkerek sebesar 1,18% ke posisi Rp1.715 dari harga penawarannya sebesar Rp1.695 per saham. Dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.465, dengan volume transaksi sebesar 212,30 juta saham, dan nilai transaksi mencapai Rp36,5 miliar.
Bahkan penguatan AMMN juga masih terus terjadi. Hingga pukul 9.10 WIB, saham emiten ke-45 di tahun 2023 ini menguat 2,95% ke posisi Rp1.745. Pergerakan AMMN ini ditopang volume transaksi mencapai 130,35 juta saham dan nilai transaksi sebesar Rp223,68 miliar.
Dalam aksi korporasi kali ini, AMMN melepas saham ke publik sebanyak 6.328.208.800 lembar atau setara 8,8 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO dengan nominal Rp125 per saham.
Saat IPO itu, harga penawaran senilai Rp1.695 per saham, maka dipastikan AMMN dapat meraup dana segar mencapai Rp10,73 triliun, yang merupakan emisi IPO terbesar di 2023. Perseroan juga mengadakan Program MSOP dengan menerbitkan saham baru maksimal 602.336.000 lembar atau sebesar 0,83 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Direktur Utama AMMN, Alexander Ramlie mengatakan, prospek usaha pertambangan tembaga akan melanjutkan tren positif, karena peningkatan permintaan tembaga di dunia, seiring dengan pertumbuhan sektor industri energi terbarukan dan kendaraan listrik.
“AMMN melihat dinamika pasar tersebut sebagai peluang untuk memperkuat posisi perseroan sebagai salah satu produsen tembaga terbesar di dunia,” ujar Alexander di Gedung BEI Jakarta usai listing AMMN, Jumat (7/7/2023).
Berdasarkan siaran pers AMMN, Wood Mackenzie menilai bahwa tambang Batu Hijau milik perseroan merupakan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia, serta memiliki cadangan setara tembaga terbesar kelima di dunia apabila dikombinasikan dengan proyek eksplorasi Elang.
Melalui anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) kini tengah melakukan penambangan fase 7 dan pengembangan fase 8 yang diperkirakan dapat memperpanjang usia tambang Batu Hijau hingga 2030.
Perseroan juga akan mempersiapkan proyek eksplorasi Elang untuk memulai operasional penambangan di tahun 2031 hingga 2046.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana mengatakan, pada pelaksanaan IPO AMMN terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 13,6 kali, dengan jumlah pemegang saham sebanyak 27 ribu investor.
“Pooling size juga meningkat dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen dari seluruh jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO AMMN sebagai dampak dari oversubscription tersebut,” ujar Oki.
Seperti diketahui, pada IPO ini manajemen AMMN menunjuk empat penjamin pelaksana emisi Efek, yaitu PT BNI Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia dan PT Mandiri Sekuritas. Sedangkan bertindak sebagai penjamin emisi Efek adalah PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Maybank Sekuritas Indonesia dan PT Samuel Sekuritas Indonesia.
Rencananya, seluruh dana IPO AMMN – setelah dikurangi biaya-biaya emisi – sebesar Rp1,79 triliun akan digunakan untuk penyetoran modal kepada PT Amman Mineral Industri (AMIN) melalui pengambilbagian saham baru dan selanjutnya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran modal atas proyek smelter di Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, sebesar Rp3,05 triliun akan digunakan untuk melunasi utang kepada PT AMNT, sedangkan sisanya untuk penyetoran modal kepada AMNT melalui pengambilbagian saham baru, yang selanjutnya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran modal atas proyek ekspansi pabrik konsentrator dan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap di Nusa Tenggara Barat.
