Jakarta, TopBusiness—Target pemerintah Indonesia dalam NZE (Net Zero Emission) 2060 membuat kebutuhan talenta di bidang energi baru dan terbarukan (EBT) sangat besar. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengakui bahwa permintaan talenta-talenta di bidang EBT ini semakin besar dari waktu ke waktu.
“Saat ini sudah ada beberapa program studi yang berorientasi pada energi baru terbarukan, renewable energy, baik diploma, S1, S2 dan S3. Ini untuk membangun SDM dan inovasi serta mendorong transformasi energi baru terbarukan di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi Kemendikbudristek, Prof. Nizam, dalam keterangan tertulis (13/7/2023).
Salah satu kampus yang membuka keilmuan renewable energy adalah School of Applied Science Technology Engineering and Mathematics (STEM) Universitas Prasetiya Mulya yang sudah berdiri sejak tahun 2016 silam. Hadirnya STEM di Prasetiya Mulya sejalan dengan perkembangan bisnis yang semakin dinamis, khususnya di bidang energi terbarukan.
Prasetiya Mulya dari segi bisnis memiliki banyak experience, dan melihat ke depan bahwa bisnis juga mencakup bisnis berbasis sains dan teknologi sebagai bisnis masa depan.
“Hal tersebut yang mendorong Prasetiya Mulya membangun School of Applied STEM, salah satunya jurusan Renewable Energy Engineering,” kata Head of Renewable Energy Engineering Study Program School of Applied STEM Prasetiya Mulya, Dr. Adinda Ihsani Putri, yang menjadi salah satu pembicara dalam ajang Indo EBTKE Conex di ICE BSD kemarin.
Meski dalam ilmu sains, namun School of Applied STEM tetap pada DNA Prasetiya Mulya, yakni mengintegrasikan antara engineering dan bisnis. Lulusannya siap terjun ke industri energi terbarukan dengan arah menjadi renewable energy engineer, energy auditor serta energypreneur.
