Jakarta, TopBusiness—Pandemi Covid-19 merupakan salah satu krisis yang dihadapi sektor manufaktur. Pulihnya sektor ini pascapandemi menunjukkan bahwa manufaktur masih punya kekuatan, didukung oleh kekayaan sumber daya alam serta pasar yang luas. Hal itu dikatakan oleh Rektor Universitas Padjajaran, Prof. Rina Indiastuti, dalam diskusi online yang digelar Kementerian Perindustrian RI (Kemenperin), belum lama ini.
Karenanya, untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur, perlu dilakukan reorientasi dan penguatan strategi dalam mengoptimalkan peluang pasar global. Upaya yang ditempuh antara lain adalah dengan menyetarakan kemampuan dan kualitas sektor industri di dalam negeri dengan di negara lain, termasuk dengan update tekonologi.
“Selanjutnya, perlu mengikuti kebijakan-kebijakan kelembagaan yang diambil oleh negara lain karena berpengaruh pada keputusan investasi yang akan ditanamkan di Indonesia,” kata Rina.
Produktivitas dan daya saing sektor manufaktur harus terus ditingkatkan. Transformasi struktural membutuhkan sektor industri, baik manufaktur maupun konstruksi, agar ekonomi nasional dapat tumbuh lebih cepat.
Sejak krisis ekonomi Asia di tahun 1998, khususnya dari tahun 2003, pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi nasional sehingga proporsi manufaktur terhadap PDB terus menurun. “Kondisi ini perlu ditingkatkan melalui transformasi struktural manufaktur Indonesia dengan memanfaatkan kekuatan global.”
