Jakarta, TopBusiness – PT Multisarana Intan Eduka Tbk (MSIE) telah resmi melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis (10/8/2023). Aksi korporasi ini melalui skema Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering/IPO).
Perusahaan yang fokus pada penyediaan infrastruktur pendidikan bertaraf internasional di Indonesia ini baru saja menawarkan 360 juta lembar saham pada harga penawaran Rp100 per saham, sehingga menargetkan dana sebesar Rp36 miliar dari IPO. MSIE juga memberikan insentif berupa waran dengan rasio 2:1 bagi investor IPO.
Dalam IPO ini, MSIE menggandeng dua sekuritas sebagai underwriter yakni PT MNC Sekuritas dan PT KB Valbury Sekuritas. Sebelumnya, KB Valbury Sekuritas dan MNC Sekuritas sukses mengantarkan PT Sarana Mitra Luas Tbk melantai di bursa pada Mei 2023 lalu.
Menurut Direktur MSIE, Ian Griffin Prawiromaruto, alokasi penggunaan dana dari IPO ini, sebagian besar untuk ekspansi bisnis ke depan. Seperti akuisisi gedung sekolah dan lainnya.
“Penggunaan dana ini sebanyajk 70% akan digunakan untuk ekspansi. Artinya kami akan banyak akusisi tanah dan bangunan atau prasarana lain dari dana ini. Sehingga bisa menghasilkan pendapatan. Apalagi secara keuangan kami tak punya utang, sehingga kita bisa efisien. Makanya kami yakin untuk kinerja bisnis kami bisa naik 5% setiap tahunnya,” ujar dia saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Kamis (10/8/2023).
Dengan kondisi tersebut, kata dia, pihaknya telah fokus untuk membiayai kebutuhan belanja modal terkait ekspansi usaha dan modal kerja Perseroan.
“Sehingga dengan IPO ini diharapkan akan memperkuat struktur permodalan, meningkatkan brand image & GCG Perseroan, serta meningkatkan kemampuan ekspansi usaha Perseroan lebih cepat dan lebih baik,” tandas Ian lagi.
MSIE sendiri memiliki visi dan misi untuk terus berkontribusi aktif pada perkembangan dunia pendidikan melalui penyediaan infrastruktur modern dengan skema jangka panjang dengan sewa yang terjangkau, sehingga penyedia pendidikan tidak perlu mengeluarkan modal awal yang besar untuk ekspansi usahanya dan cukup fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, seperti perumusan kurikulum, penyiapan tenaga pengajar berkualitas, dan kegiatan belajar mengajar yang baik dan optimal.
Lebih jauh ditegaskannya, perseroan yang beroperasi di Jawa Timur itu telah mengembangkan bisnisnya di daerah Jawa Tengah dan Bali. Untuk itu, pihaknya sudah siap melakukan akuisisi property sekolah atau lahan untuk gedung pendidikan.
“Akuisisinya apa nanti akan kami jelaskan di laporan keuangan di tahun ini seteah realisasi. Yang jelas saat ini kami akan akusisi di Jateng dan Bali. Karena dekat dengan posisi kami di Jatim. Kami sudah siapkan proses akuisisinya,” katanya.
Terkait di Bali, untuk fasilitas sarana dan prasara pendidikan yang berskala global cukup prospektif. Mengingat sekolah di sana banyak siswa ekspatriat atau keturunan asing. Untuk itu, pihaknya bakal menyasar beberapa pengelola yayasan sekolah yang satu visi untuk bekerja sama.
“Pendidikan di Bali ini menarik. Case-nya sekolah di Bali itu, justru di sana yang WNI-nya itu sedikit. Lebih banyak siswa keturunan atau bahkan WNA, sehingga perospek bisnisnya bagus,” ujar Ian.
Direktur Investment Banking PT MNC Sekuritas Hary Herdiyanto meyakini IPO MSIE dapat menjadi salah satu pilihan yang menarik bagi calon investor di tengah maraknya penawaran umum di awal Agustus tahun ini.
Menurut Hary, faktor-faktor seperti pendapatan yang pasti, aliran kas yang berkelanjutan, kondisi keuangan yang sehat, dan struktur penawaran yang menarik akan menjadi pertimbangan utama bagi para calon investor dalam berinvestasi pada MSIE. Sejalan dengan itu,
CEO PT KB Valbury Sekuritas Oh Cheolwu menyambut hangat IPO ini. Menyoroti keunikan MSIE sebagai emiten pertama dalam bisnis penyediaan infrastruktur pendidikan di BEI, dia berharap IPO ini akan mendorong lebih banyak perusahaan sejenis untuk melakukan penawaran umum, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan sektor pendidikan di seluruh Indonesia.
