Jakarta, TopBusiness—Sektor hilirisasi, baik minerba maupun non-minerba, bukan hanya meningkatkan nilai tambah namun juga dapat memperbaiki struktur perekonomian serta memperbaiki neraca pembayaran Indonesia.
“Peran penting sektor hilirisasi tersebut menjadi pertimbangan Bank Indonesia menetapkan sektor tersebut sebagai salah satu sektor yang didorong melalui implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM),” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Juda Agung, dalam keterangan tertulis untuk wartawan pagi ini.
Juda, dalamaeminar Nasional KLM bertajuk “Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial: Insentif untuk Kredit/Pembiayaan Sektor Hilirisasi”, yang digelar BI di Jakarta kemarin, juga menyampaikan KLM ditempuh sebagai upaya meningkatkan kontribusi perbankan, untuk memerkuat kegiatan dunia usaha dengan lima prinsip utama.
Pertama, memberi daya ungkit pertumbuhan ekonomi, melalui peningkatan/penguatan nilai tambah, backward-forward linkages, struktur ekonomi, lapangan kerja, peluang usaha, dan ketahanan pangan. Kedua, mendukung momentum pemulihan sektor-sektor tertentu yang masih membutuhkan dukungan. Ketiga, mendukung pembiayaan inklusif dan berwawasan lingkungan.
Keempat, mengimplementasikan pembiayaan secara targeted ke sektor/komoditas tertentu. Dan terakhir, sinergi kebijakan dan program Pemerintah untuk memerkuat struktur ekonomi, selaras dengan upaya pengendalian inflasi termasuk Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang menjadi salah satu fokus utama di tingkat pusat dan daerah.
Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut diperlukan dukungan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif. Dan penguatan inovasi strategi bisnis dari para pelaku bisnis sangat penting untuk memerkuat sisi permintaan. ”Dengan penguatan sisi penawaran dan permintaan secara simultan, diharapkan akan efektif memerkuat struktur ekonomi nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” Juda Agung mengatakan.
