TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Dana IPO Rp532 Miliar Tak Masuk ke Perusahaan, Emiten NICE Milik Caleg PDIP Ini Klaim Bukan untuk Politik

Busthomi
9 January 2024 | 15:20
rubrik: Capital Market
Dana IPO Rp532 Miliar Tak Masuk ke Perusahaan, Emiten NICE Milik Caleg PDIP Ini Klaim Bukan untuk Politik

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (IDX: NICE) baru saja mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/1/2024) melalui skema penawaran umum perdana saham (IPO). Dalam aksi korporasi ini, perseroan bakal mengantongi dana sebesar Rp532,78 miliar.

NICE dalam aksi korporasi kali ini menawarkan jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO ini adalah sebanyak 1.216.404.000 saham yang merepresentasikan 20% kepemilikan NICE dengan harga penawaran Rp438 per lembar saham, sehingga nilai IPO NICE adalah Rp532,78 miliar, dengan kapitalisasi pasar saham NICE mencapai Rp2,66 triliun.

Namun ketika diteliti, sebanyak 20% saham Perusahaan yang di-IPO-kan itu bukan saham baru, melainkan saham lama yang dimiliki oleh pengendalinya. Sehingga dipastikan dana IPO ini tak masuk ke kas perusahaan. Masuk ke salah dua pemegang saham pengendali, sehingga setelah IPO saham mereka itu berkurang.

Untuk diketahui, NICE merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan bijih nikel. Adapun saham sebanyak 20% atau sekitar 1,21 miliar saham biasa yang di-IPO-kan adalah milik PT Sungai Mas Minerals dan PT Inti Mega Ventura yang merupakan pemegang saham pengendali.

Pemegang saham pengendali NICE saat ini adalah PT Sungai Mas Minerals (SMM), PT Inti Mega Ventura (IMEV), Michael Adhidaya Susantyo (MAS), dan Victor Agung Susantyo (VAS) masing-masing sebesar 1.859.577.615 lembar saham, 1.739.634.385 lembar saham, 25.000.000 lembar saham dan 25.000.000 lembar saham kepada LX International Corp (LXI) Group atau entitas yang ditunjuk.

Dan setelah IPO, pemegang saham NICE yaitu SMM dengan kepemilikan sebesar 41% atau sekitar 2,49 miliar saham, IMEV dari sebelumnya 48,18% menjadi 38,18% ke posisi 2,32 miliar. MAS dan VAS masing-masing masing sama 25 juta lembar.

BACA JUGA:   Pendapatan Era Media Naik 430% Pasca-Pandemi dan Tahun Politik

Namun dengan adanya penjualan terhadap pengendali baru yaitu PT Energy Battery Indonesia EBI, anak usaha dari LXI. Maka MAS dan VAS tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham, SMM hanya menggenggam 634.220.385 lembar dan IMEV sebanyak 582.183.615 lembar.

Jadi, setelah tercatat di BEI ini, NICE juga akan memulai fase baru dengan masuknya LXI Group[ tersebut sebagai pemegang saham pengendali NICE yang baru (melalui PT EBI). LX International Corp akan memiliki 60% saham NICE dengan harga perolehan sama dengan harga IPO.

Kondisi ini pun membuat asumsi penggunaan dana IPO untuk kegiatan politik ini mencuat. Mengingat pengendali dari NICE adalah politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Herman Herry Adranacus. Herman sendiri adalah anggota DPR Fraksi PDIP selama empat periode ini.

Dan di Pileg 2024 ini, dia tidak mencalonkan diri lantaran diteruskan oleh anaknya yang maju ke kancah politik menjadi Calon Legislator (Caleg)/DPR dari dapil NTT 2, Stevano Rizki Adranacus. Secara kebetulan, Stevano merupakan Presiden Direktur NICE.

Ketika dikonfirmasi, Stevano langsung membantahnya. Kata dia, dana IPO ini murni untuk aktivitas bisnisnya. “Dana IPO ini bukan untuk dana politik, ini purely untuk menjalankan bisnis. Tidak ada sangkut paut dengan politik,” sangkal Stevano.

Kata dia, Perusahaan sudah memiliki langkah-langkah ke depan untuk mengembangkan bisnisnya. Terlebih pasca IPO ini NICE diakuisisi oleh perusahaan energi asal Korea Selatan, LX International Corp (LXI).

Untuk target produksi, dengan masuknya LXI ini, NICE menargetkan produksi bijih nikel menjadi 2,5 juta ton dari produksi tahun 2023 sebanyak 2 juta ton. “Karena dengan menggandeng mereka (LXI) ini, karena mereka pelaku energi dan memiliki ekosistem kendaraan listrik. Sehingga mendapat kesempatan untuk ikut masuk ke dalam value chain kendaraan listrik mereka. Ini bisa kami sinergikan, sesuai dengan rencana jangka panjang kami untuk hilirisasi,” ungkap dia.

BACA JUGA:   Masuk Tahun Politik, Investasi 2023 Bakal Melambat

Untuk itu, terkait kinerja di tahun ini, NICE menargetkan raihan pendapatan dan laba bersih sama-sama meningkat sebanyak 5-10%. Target ini berdasar dari kontribusi bijih nikel yang menjadi penyokong utamanya.

“Kontribusi utama tetap produksi bijih nikel untuk smelter-smleter yang beroperasi di Indonesia. Dan kita juga melayani tambang-tambang pihak ketiga lainnya. Jadi sekitar 95% dari revenue kita adalah berasal dari penjualan biji nikel itu sendiri,” ujar dia.

Mengacu laporan keuangan per 30 Juni 2023, pendapatan usaha Perseroan sebanyak Rp378,56 miliar, dengan laba usaha di angak Rp40,54 miliar. Sementara total asset Perusahaan mencapai Rp265,71 miliar, dengan ekuitas sejumlah Rp119,03 miliar, namun liabilitas juga cukup tinggi di angka Rp146,65 miliar.

Tags: dana ipoemiten NICEPT Adhi Kartiko Pratama Tbktahun politik
Previous Post

TOP BUMD Awards 2024 Siap Digelar, Awas Terlewat!

Next Post

Sinergi Mandiri Sekuritas dan BSI Perkuat Investasi Syariah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR