Jakarta, TopBusiness—Untuk tahun 2023, Perumda Air Minum Tirta Taman Sari Kota Madiun (Jawa Timur) mencatatkan sejumlah pencapaian. Misalnya, untuk tahun pembukuan 2023,mencatatkan laba bersih setelah audit oleh akuntan publik senilai Rp12,98 miliar.
“Hingga tahun 2023, target setoran PAD (pendapatan asli daerah) untuk kami selalu naik. Dan kami selalu bisa mencapai target,” kata Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Taman Sari Kota Madiun, Suyoto, dalam presentasi melalui jaringan internet untuk Dewan Juri Top BUMD Awards 2024, hari ini.
Suyoto pun memberikan pencapaian lain di tahun 2023. Dalam hal tersebut, jumlah pelanggan di 42.821. Area cakupan layanan tercatat sebesar 73,93%.
Kemudian, tingkat NRW (non revenue water) pada 21,60%. Level kualitas air bersih, sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan). “Adapun untuk jam layanan kami, secara rata-rata sudah mencapai 24 jam per hari,” Suyoto menjelaskan lagi.
Bagaimana dengan penilaian kinerja Perumda Air Minum Tirta Taman Sari Kota Madiun? Suyoto mengatakan bahwa, untuk tahun 2022, BUMD tersebut mendapatkan nilai kinerja 3,98 atau ‘sehat’, berdasarkan sejumlah indikator dari Kementerian PUPR RI.
Kemudian, untuk tahun yang sama,Perumda Air Minum Tirta Taman Sari Kota Madiun mendapatkan nilai kinerja 74,10 atau ‘baik’, dari Kementerian Dalam Negeri RI.
BUMD tersebut pun telah menggelar survei kepuasan pelanggan bekerjasama dengan kalangan eksternal. Dalam hal tersebut, nilai yang didapatkan adalah 89,45.
Suyoto pun, dalam presentasi tersebut,memaparkan sejumlah kondisi/tantangan khusus yang dihadapi dalam berekspansi. Di sini, penambahan cakupan layanan terkendala oleh banyaknya masyarakat yang mengandalkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari. “Wilayah Madiun kan terletak di cekungan. Cadangan airnya banyak. Jadi, cukup menggali sumur sedalam tujuh sampai delapan meter, air sudah didapatkan,” papar Suyoto.
Mengatasi hal itu, Perumda Air Minum Tirta Sari Kota Madiun menggelar sejumlah strategi. Satu di antara itu dengan menaikkan kualitas air minum yang disediakan untuk masyarakat.
Air yang dipakai BUMD tersebut diambil dari kedalaman melebihi 100 meter di bawah permukaan tanah. Kemudian, sudah menempuh proses pematian bakteri e.coli. “Jadi, sebenarnya bila menggunakan air yang kami sediakan, kesehatan masyarakat lebih terjamin,” Suyoto menjelaskan.
