Jakarta, TopBusiness—Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menyepakati terus memerkuat sinergi kebijakan menjaga inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024. Hal tersebut disampaikan dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) pada tanggal 29 Januari 2024.
Asisten Gubernur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, menjelaskan dalam keterangan tertulis kemarin sore, bahwa rapat itu dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. Dan dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Erwin Haryono, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian, Plt. Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti, Direktur Utama Bulog Bayu Krisnamurthi. Juga dihadiri pejabat eselon I dan/atau setingkat perwakilan Kementerian/Lembaga anggota TPIP.
Pemerintah dan BI akan menempuh tujuh langkah strategis pengendalian inflasi 2024 yakni:
1.Melaksanakan kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten dengan upaya mendukung pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi;
2.Mengendalikan inflasi kelompok Volatile Food agar dapat terkendali di bawah 5%, dengan fokus pada komoditas beras, aneka cabai, dan aneka bawang;
3.Menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan untuk memitigasi risiko jangka pendek, termasuk mengantisipasi pergeseran musim panen dan peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN);
4.Memperkuat ketahanan pangan melalui upaya peningkatan produktivitas dan hilirisasi pangan;
5.Memperkuat ketersediaan data pasokan pangan untuk mendukung perumusan kebijakan pengendalian inflasi;
6.Memperkuat sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) antara lain melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP); serta
7.Memperkuat komunikasi untuk menjaga ekspektasi inflasi.
Sinergi kebijakan yang kuat antara Pemerintah dan BI turut menjaga inflasi IHK 2023 menurun dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1%. Capaian inflasi IHK 2023 sebesar 2,61% (yoy/year on year) lebih rendah dibandingkan capaian inflasi pada tahun sebelumnya sebesar 5,51% (yoy).
“Hal ini didukung konsistensi kebijakan BI yang pro-stability diiringi sinergi erat bersama Pemerintah dalam TPIP-TPID melalui program GNPIP di berbagai daerah. Respons kebijakan diarahkan untuk menjaga keterjangkauan harga termasuk harga pangan, memperkuat ketersediaan pasokan, memastikan kelancaran distribusi, dan memperkuat strategi komunikasi, guna menahan tekanan inflasi,” kata Erwin.
Ke depan, TPIP akan terus memperkuat sinergi dengan melanjutkan implementasi kebijakan dan program kerja sebagaimana pada peta jalan pengendalian inflasi tahun 2022–2024, melalui penguatan program GNPIP di berbagai daerah.
Sinergi kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia akan difokuskan pada implementasi berbagai inovasi program untuk memperkuat kesinambungan pasokan dan meningkatkan kelancaran distribusi.
Erwin pun menjelaskan bahwa sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat efektivitas upaya pengendalian inflasi tersebut, TPIP selanjutnya akan melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi Tahun 2024 dengan tema “Pengamanan Produksi dan Peningkatan Efisiensi Rantai Pasok untuk Mendukung Stabilitas Harga”.
HLM TPIP juga menyepakati sasaran inflasi 3 (tiga) tahun ke depan sebagai tindak lanjut akan berakhirnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.101/PMK.010/2021 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2022, 2023, dan 2024. Selanjutnya sasaran inflasi tahun 2025, 2026, dan 2027 disepakati masing-masing sebesar 2,5±1%, yang kemudian ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjangkar ekspektasi inflasi ke depan, menjaga daya saing perekonomian, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
