Jakarta, TopBusiness – Manajemen PTAM Berkah Banua (Perseroda) mempunyai program harmoni guna menciptakan suasana kerja agar para pegawai bekerja lebih bersemangat. Pada gilirannya budaya kerja tersebut menjadi sebuah karakter di setiap insan perusahaan.
Ketika sesi pendalaman atau tanya-jawab materi presentasi berjudul ‘Peningkatan Tata Kelola, Kinerja Bisnis dan Layanan PTAM Berkah Banua (Perseroda)’, Direktur Utama Rudi Syahrinsyah membeberkan pengalaman dirinya dalam memasuki bidang kerja yang berbeda dari sebelumnya dan harus mengelola sumber daya manusia.
Dia mengakui bahwa sejatinya setiap perusahaan mempunyai budaya kerja yang berbeda-beda. Sehingga, bertekad membangun budaya kerja bagi insan di internal perusahaan. “Memang budaya kerja di setiap perusahaan itu sangat berbeda. Ketika saya masuk di PTAM Berkah Banua ini, saya melihat budaya kerja yang begitu lemah. Berbeda sekali, walaupun kami di BUMD juga. Saya tiga puluh tahun di lembaga keuangan, perbankan daerah dari staf yang paling rendah sampai menjadi direktur bisnis. Sehingga mengakhiri masa tugas. Saya melihat ini budaya kerja, budaya kerja itu yang harus dibangun,” ujarnya di hadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2024, dalam jaringan melalui skema aplikasi rapat zoom, di Jakarta, hari ini.
Lantas, Rudi menyebut program harmoni untuk memajukan kinerja insan perseroda. “Jadi budaya kerja itu kami istilahkan dengan harmoni. Jadi saling menghargai, bersemangat kemudian berkontribusi. Dan program harmoni itu, kami budayakan menjadi karakter di setiap insan di PTAM Berkah Banua,” ujarnya.
Hal utama dan pertama dilakukan oleh manajemen dalam menjalankan program harmoni adalah memanusiakan para pegawai dengan cara menaikkan gaji, tapi tetap memperhatikan kondisi keuangan perusahaan.
“Kami manusiakan, misalnya, pertama dari sisi salary. Terus terang saja banyak sekali bahkan kami di sini yang masih di bawah UMR. Terus terang saya juga begitu malu, ketika ada teman-teman yang level-nya pejabat malah dapat bansos. Saya malu sebagai perusahaan kok ini dapat bansos, masih gitu. Akhirnya, terus terang dengan berani, kami memanusiakannya itu dulu. Tentu saja, kami memperhatikan kemampuan kinerja perusahaan. Kami menghitung juga berulang-ulang karena latar belakang saya adalah keuangan, pendidikan saya adalah magister keuangan. Saya pikir ini tak masalah sehingga gaji dinaikkan dulu,” papar Rudi.
Tak berhenti di situ saja, manajemen memperhatikan kemampuan dari masing-masing individu pegawainya. “Setelah gaji saya naikkan, baru saya seleksi orang-orangnya yang mampu dan tidak. Ketidakmampuan mereka apakah karena memang tidak mampu, atau mereka yang tidak mau. Jadi saya membedakan antara kemauan dan kemampuan. Jadi kalau mereka memang tidak mampu ya sudahlah. Saya (berbicara) dengan baik-baik. Dan rata-rata mereka menerima, atau merasa mampu, kita yuk coba di bagian lain atau apalah. Dan saya ukur kontribusi mereka. Itu yang pertama, sehingga kami melihat terukur kemajuan mereka dari sisi semangat mereka,” kata Rudi.
Selanjutnya adalah peningkatan kompetensi dengan memberikan pegawai pendidikan dan pelatihan atau diklat sehingga akan mengoptimalkan kemampuan dan perkembangan dalam bekerja.
“Saya tidak mampu memberikan pembelajaran kepada mereka bagaimana mereka bekerja. Karena saya bukan orang PDAM. Jadi secara teknis, saya tidak menguasai. Tapi seara manajerial saya tahu, bahwa kemampuan mereka harus di-up grade. Saya mengundang teman-teman yang paham dengan PDAM, semangat mereka,” imbuhnya.
Selain, perseroda memanfaatkan alokasi dana bagi pengembangan kompetensi pegawai yang telah dianggarkan. “Kemudian yang pasti ternyata di PTAM ini diatur anggaran yang sangat besar untuk pelatihan. Saya gunakan untuk mereka-mereka ikut kepesertaan sebagai diklat ini, sehingga membuka wawasan mereka. Minimal semangat mereka dulu untuk bekerja lebih baik terhadap kita. Jadi mungkin hanya sebatas itu yang saya lakukan tapi saya merasakan dampaknya luar biasa, semangat mereka bekerja bagus, mereka juga saling bersosialisasi semakin akrab, semakin saling menutupi dari sisi kelemahan,” ungkap Rudi.
