Jakarta, TopBusiness – Alih-alih pulang dengan membawa untung, tak sedikit pedagang kecil di pasar-pasar trandisional maupun pelaku usaha mikro yang justru buntung karena terjerat pinjaman bunga tinggi dari para rentenir. Apalagi jika dagangan atau usaha tak sesuai dengan yang diharapkan.
Praktik rentenir masih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional Tanah Air, termasuk tren pinjaman online (pinjol) yang praktiknya tak jauh beda dengan praktik lintah darat para rentenir yang menawarkan pinjaman mudah namun mengenakan bunga mencekik. Bahkan tak sedikit akibat terjerat utang pinjol, kehidupan masyarakat berantakan, sampai ada yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Menyikapi fenomena rentenir ini, Pemerintah Kota Bukitttinggi-Sumatera Barat bersama PT BPRS Jam Gadang (Perseroda) bekerja sama menghadirkan program penyaluran pembiayaan untuk usaha mikro dengan nama “Tabungan Utsman”. Dalam skema pembiayaan ini, marginnya dibayarkan oleh Pemerintah Kota Bukittinggi, dan masyarakat hanya membayar pokok pembiayaan, dimana pembayaran dicicilkan melalui Tabungan Ustman.
“Melalui program ini, nasabah diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat terutama sektor UMKM serta mengurangi rentenir dan praktek ijon di Kota Bukittinggi. Untuk mendapatkan layanan dari program ini, nasabah harus membuka Tabungan Ustman. Dan responsnya cukup bagus. Sejak Launching pada Maret 2022 sampai akhir Desember 2023 telah terealisasi sebanyak 3.577 orang dengan jumah plafon sebesar Rp29.373.800.000,- (dua puluh sembilan miliar tiga ratus tujuh puluh tiga juta delapan ratus ribu rupiah),” ujar Direktur Utama PT BPR Syariah Jam Gadang, Feri Irawan, saat presentasi dan wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2024 yang diadakan Majalah TopBusiness Jakarta secara virtual pada (04/03/2024) melalui aplikasi zoom meeting.
Dibanding tahun sebelumnya, peraihan di 2023 mengalami kenaikan. Tercatat dalam satu tahun perjalanannya, Tabungan Utsman telah mencapai Rp21,8dan meningkat di 2023 yang mencapai Rp29,3 miliar. Program ini kian mendapat respons besar, di mana masyarakat dapat memanfaatkan pembiayaan ini secara syariah. Tidak ada bunga dan agunan. Nasabah hanya membayar atau mencicil pinjaman pokok saja, dengan sistem menabung. “Kita akan terus tingkatkan sekaligus dukung ekonomi masyarakat, terutama agar terbebas dari jeratan rentenir,” ungkapnya.
Dalam presentasinya berjudul “Bank Sahabat UMKM”, Dirut Feri Irawan juga menyampaikan banyak hal terkait terobosan, inovasi, strategi bisnis, Kebijakan Tata Kelola Perusahaan, dan keberhasilan atas kinerja bank yang dipimpinnya meski sempat terdampak situasi pandemi Covid -19. Sedangkan tim juri penilai terdiri Prof.DR. Wahyudin Zarkasi-Guru Besar FE Universitas Padjajaran Bandung, Prof.DR Satya Arinanto Guru Besar FH Universitas Indonesia (UI), Kusuma Prabandari – Ceo Dwika Consulting, Benyamin De Haan-Senior Advisor MSI Group, Nurul Yakin Setiabudi (IDTUG dan konsultan bisnis), dan Subandi- Akademisi Universitas Budhi Luhur Jakarta-DBC Conswulting, yang dipandu moderator Ahmad Chury (Solusi Kinerja Bisnis).
Selama dua tahun terakhir BPRS Jam Gadang juga banyak melakukan terobosan dan inovasi, termasuk berbasiskan teknologi digital, baik di sistem manajemen, layanan nasabah, maupun produk perbankan. Terobosan, inovasi yang dilakukan di antaranya, strategi promosi dengan menggunakan media sosial, Penggunaan SMS Banking, Jasa Transfer Online, serta beberapa lainnya.
Upaya transformasi digital juga terus diperkuat dengan membangun digital culture bagi jajaran sumber daya manusia (SDM) untuk peningkatan kinerja dan penguatan corporate branding sejalan dengan tuntutan layanan perbankan modern. “Upaya peningkatan kompetensi SDM, dilakukan melalui program pelatihan dan seminar untuk meningkatkan pengetahuan karyawan, Direksi, Komisaris dan Pengawas tentang pebankan syariah maupun ketentuan yang mengatur. Kami juga melakukan studi banding dan studi tiru ke BPR/BPRS yang ada di luar provinsi Sumatera Barat,” ujarnya.
Secara umum, pasca pandemi Covid-19, BPRS Jam Gadang bisa terus membukukan kinerja yang kian solid. Secara financial juga mampu meningkatkan performa yang lebih tinggi, baik dari penjualan atau pendapatan, peraihan laba, asset, maupun kontribusi bagi daerah, baik langsung maupun tidak langsung. Termasuk peran sosial kemasyarakatan untuk pemberdayaan ekonomi mikro kerakyatan, di antaranya melalui pembiayaan dan program-program CSR.
Hal ini selaras dengan visi dan misi-misi yang diembannya, sebagai salah satu alat kelengkapan ekonomi daerah di bidang keuangan/perbankan. Misinya antara lain, Pertama-Fokus kepada pemberian pembiayaan yang memberikan nilai tambah kepada kesejahteraan masyarakat. Kedua- Meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat melalui pembiayaan yang kompetitif. Ketiga- Berperan aktif dalam memberantas prakter-praktek keuangan ribawi. Keempat-Menjadi mitra pemerintah dalam meningkatkan ekonomi umat. Dan kelima- Menciptakan tata kelola bank pembiayaan syariah dengan prinsip GCG.
Dari sisi performa usaha, tercatat kinerjanya sampai dengan tahun 2023 terus tumbuh. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian laba sejak bangkit dari dampak pandemi covid-19, di mana tahun 2022 terealisasi Rp1,4 miliar dan tahun 2023 kembali meningkat menjadi Rp 2,2 miliar. Pembiayaan yang diberikan juga meningkat, di mana tahun 2022 sebesar Rp48,3 miliar dan tahun 2023 melonjak menjadi Rp78,3 miliar, dengan pertumbuhan secara year on year sebesar 62,19%.
Pengumpulan dana pihak ketiga juga meningkat, di mana tahun 2022 sebesar Rp48,1 miliuar dan tahun 2023 naik menjadi Rp54,4 miliar. Perusahaan juga dapat mempertahankan tingkat kesehatan pada peringkat Bank yang umum sehat. Demikian juga meraih skor nilai GCG tahun 2023 sebesar 1,2 dengan predikat Sangat Baik.
Editor: Agus H
