Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Gas – Operation North Sumatra Area (ONSA) mempunyai inovasi program tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat alias corporate social responsibility/CSR yang menjadi unggulan yaitu Kampung Stabat Mandiri. Program ini dilakukan untuk menegakkan keberlanjutan bisnis perusahaan, sekalian mendukung upaya pemerintah mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dalam sesi pemaparan materi presentasi bertema ‘Kampung Stabat Mandiri’, Diana sebagai External Relations dari West Region Sumatra, menjelaskan soal inovasi program CSR unggulan Pertamina Gas ONSA.
Dia menyatakan, CSR Kampung Stabat Mandiri sendiri merupakan program pemberdayaan kelompok masyarakat rentan di wilayah Ring 1 PT Pertamina Gas ONSA (Operation North Sumatera Area), tepatnya di Kabupaten Langkat di Distrik Brandan yang berfokus pada budidaya dan pengolahan ikan lele dengan memanfaatkan lahan pekarangan warga yang mengintegrasikan hulu hingga hilir produksi.
Tampak hadir juga tim CSR Pertamina Gas ONSA diantaranya, Teddy dan Yedo dari tim CSR Jakarta. Sementara, Rizky dan Syauqi dari Palembang.
Dia menceritakan, asal muasal dicetuskannya program CSR unggulan. “Latar belakangnya waktu itu ada tergerus pipa di sungai, lalu kita melakukan perbaikan sekalian juga dimulainya CSR Kampung Stabat Mandiri ini,” kata Diana di hadapan Dewan Juri TOP CSR Awards 2024, yang berlangsung secara dalam jaringan melalui aplikasi rapat zoom, di Jakarta, hari ini.
Program CSR atau tanggung jawab sosial dan lingkungan dilakukan perusahaan adalah di Desa Stabat Lama. Perusahaan melakukan pemberdayaan masyarakat guna melaksanakan program CSR, sekalian untuk menciptakan keberlanjutan pertumbuhan bisnis. “Di sana ada dua kelompok yaitu kelompok Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Kelompok Bapak-bapak yang melakukan budidaya ikan lele, sedangkan kelompok Ibu-ibu, turunannya yaitu mengelola ikan lele menjadi keripik bawang,” kata Diana.
Adapun keunggulan program ini ialah mampu memberikan manfaat terhadap 2 kelompok dengan total penerima manfaat sebanyak 25 orang. Rata-rata 10 kilo gram limbah organik rumah tangga terserap sebagai pakan ikan lele.
Dikatakan Diana, setidaknya ada 25 orang yang bergelut di program CSR Kampung Stabat Mandiri. “Jadi totalnya 15 ditambah 10 yang memperoleh manfaat dari CSR ini, dengan perolehan pendapatan sekitar Rp 2 juta per bulan secara rata-rata bagi 25 orang tersebut,” kata Diana.
Di depan Dewan Juri TOP CSR Awards 2024 yang terdiri dari Dwinda Ruslan yang berasal dari Yayasan PAKEM, diikuti Melani K. Harriman (CEO Melani K. Harriman & Associates), Ermon Idrus dan Syaifudin (LKN), serta Peggy Arnolia (Isvi), Diana mengatakan bahwa tujuan program CSR ini tentu saja meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi di Ring 1, juga untuk menjamin keamanan operasional pipa di sana.
“Tujuan program CSR kami adalah peningkatan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Desa Stabat Lama guna mendukung upaya pemerintah mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s) melalui program CSR berbasis ESG (environmental, social and governance),” ungkap dia.
Dalam pandangan Diana, program CSR ini juga merupakan wujud strategi membangun citra positif pada stakeholder dan masyarakat sekitar wilayah buffer zone maupun masyarakat secara luas untuk mendukung kelancaran bisnis operasional perusahaan.
Menurut Diana, adapun dampak atau manfaat bagi perusahaan yaitu mewujudkan penerimaan masyarakat di sekitar wilayah bufferzone atau jalur pipa PT Pertamina Gas terhadap operasional perusahaan.
Sementara itu, untuk stakeholders adalah meringankan upaya pemerintah dalam mencapai keberlanjutan masyarakat di wilayah Desa Stabat Lama, Kec. Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. “Sebanyak 25 penerima manfaat memperoleh pendapatan tambahan sebesar rata-rata Rp 2.000.000 per bulan,” pungkas Diana.
