TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Industri Hulu Migas Andalan Turunkan Emisi Karbon

Albarsyah
15 May 2024 | 15:27
rubrik: Business Info
Industri Hulu Migas Andalan Turunkan Emisi Karbon
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, TopBusiness – Industri hulu migas adalah   aktor utama dalam  menurunkan emisi karbon di industri ekstraktif. Ini tidak lepas dari risiko tinggi serta biaya besar yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan penggunaan teknologi Carbon Capture Storage (CCS).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja menerbitkan angka Potensi Penyimpanan Karbon Nasional Tahun 2024 guna  mendukung program CCS. Potensinya sebesar 572 miliar ton CO2 pada saline aquifer, dan sebesar 4,85 miliar ton CO2 pada depleted oil and gas reservoir. Potensi penyimpanan yang besar tersebut akan cukup signifikan dalam mendukung target penurunan emisi jangka panjang. Hal itu semakin membuat industri hulu migas jadi yang terdepan untuk merealisasikan CCS.

Noor Arifin Muhammad, Direktur Teknik Lingkungan Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan Indonesia merupakan pemain baru dalam implementasi CCS untuk itu pemerintah dalam menyusun aturan pasti melihat praktik yang telah dilakukan di negara lain. Proses penyusunan aturan juga melibatkan para ahli dari luar negeri. 

“Pertama kita membutuhkan kesepakatan bilateral antar pemerintah baru kemudian detail bisnisnya akan dibahas ditingkat antarperusahaan,” ujar  Noor Arifin disela Plenary Session 3 “CCS as the Potential New Business Opportunity for Upstream Players and Supporting Economic Growth dalam IPA Convex 2024 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (15/5).

Dan M Sparkes, VP Subsurface Asia Pacific and India BP Indonesia, mengungkapkan  teknologi CCS sudah tersedia hanya saja karakteristik berbeda masing-masing wilayah turut berpengaruh dalam praktik penerapan CCS. Di Tangguh misalnya, sebenarnya perencanaan CCS sudah ada bahkan sebelum gas diproduksikan.

“CCS di Tangguh mulai dikembangkan bahkan sebelum gas mulai dikembangkan. Tapi ini masalah keekonomian,” ujar Dan.

BACA JUGA:   Pengumuman Lelang Tiga WK Migas Total Cadangan Tembus 2,2 Miliar BOE dan Perjanjian Pemanfaatan Migas di IPA Convex 2025

BP memiliki peluang langsung mendapatkan keuntungan dengan menginjeksikan lagi CO2 ke dalam reservoir sehingga bisa membantu menutup biaya tinggi yang ditimbulkan akibat penerapan CCS. “Enhanced Gas Recovery fundamental bagi BP. Kalau subsidi bukan untuk selesaikan masalah jangka panjang,” kata Dan.

Belladonna Troxylon Maulianda, Direktur Eksekutif Indonesia CCS Centre, menegaskan meskipun tantangan dalam penerapan CCS cukup kompleks namun industri migas tetap menjadi garda terdepan yang bisa mengimplementasikannya  

“Jika bukan industri hulu migas siapa lagi yang bisa implementasikan CCS? memang ada industri lain seperti petrokimia dan lainnya tapi bagaimana dengan human capital, teknologi, butuh waktu lama jika dilakukan industri lain,” jelas Belladona.

Tags: IPA Convex
Previous Post

Utang Luar Negeri Pemerintah dan Swasta: Menurun

Next Post

Technical Rebound Akhir Perdagangan Saham

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR