Jakarta-Thebusinessnews. Perbankan nasional terus mengalami penurunan profil kredit, hal itu terlihat dari turunnya pertumbuhan dan rasio kredit bermasalah. Pada Juli 2016, pertumbuhan kredit hanya 7,7 persen(yoy) sedangkan bulan Juni 2016 sebesar 8,9 persen (yoy).
Menurut Gubernur Bank Indonesia, Agus Dw Martowardoyo pertumbuhan kredit itu dipengaruhi peningkatkan NPL( non performence loan) gross pada Juli 2016 3,18 persen naik dibandingkan Juni sebesar 3,05 persen.”Bank melakukan langkah kehati-hatian dalam penyaluran kredit,” terang dia di gedung BI, Jakarta,Kamis(22/9/2016).
Menurut dia, pemburukan rasio kredit bermasalah itu telah disikapi oleh sebagian perbankan dengan membentuk unit khusus pembenahan kredit bermasalah.” Namum ada juga bank yang butuh waktu untuk pembenahan,” terang dia.
Sementara pada akhir Agustus 2016, NPL gross kembali naik menjadi 3,22 persen dan NPL net 1,5 persen. Untuk perbaikan rasio kredit itu menurut Agus, perlu perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia maupun nasional. “Kalau mau mendorong pertumbunan dan perbaikan rasio NPL harus ada perbaikan pertumbuan ekonomi global” ujar dia.
Namum demikian, Bank Indonesia sendiri telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan hanya sebesar 5 persen.
Pelemahan pertumbuhan kredit itu, lebih disebabkan menurunkan pertumbuhan kredit dalam mata uang asing. Sebab pada Juli 2016, kredit dalam mata uang rupiah tumbuh 9 persen namum dalam mata uang asing hanya 2 persen.”Bahkan banyak perusahaan yang melunasi utangnya karena melihat pertumbuhan ekonomi global,” terang dia. (az)