Jakarta-Thebusinessnews. PT Bank Negara Indonesia Tbk(BBNI) mencatatkan pertumbuhan kredit bermasalah atau non performence loan (NPL) gross pada akhir kuartal III 2016 tercatat 3,1 persen. Sementara NPL gross pada akhir kuartal II 2016 sebesar 3 persen.
Menurut Direktur BBNI, Rico Rizal Budidarmo bahwa pihaknya akan berusaha akan menekan rasio kerdit bermasalah.” Kami harap sampai akhir tahun 2016, angka NPL gross tak lebih dari 3,1 persen,”harap dia di gedung pusat BNI, Jakarta, kamis(13/10/2016).
Untuk menekan rasio kredit bermasalah, kata Rico, pihaknya terus melakukan restrukturisasi dan pada kuartal III 2016 telah portofolio kredit bermasalah yang mengalami restrukturisasi turun menjadi 7 persen menjadi 8 persen. “Kebanyakan membaik dengan membayar dan ada yang keluar ” ujar dia.
Ia menjelaskan, dari total kredit yang di restrukturisasi 75 persen diantaranya masuk dalam kolektifbilitas 1. Sedangkan sektor-sektor yang masih menjadi penyumbang kredit bermasalah datang dari perdagangan, manufaktur dan pertambangan. “Sedangkan segmennya 60 persen di korporasi,”terang dia.
Sedangkan kedepan, ia melihat potensi perbaikan rasio kredit bermasalah terbuka lebar. Pasalnya, kredit bermasalah di segmen korporasi yang restrukturisasi di kolektif I.” Intinya untuk lebih baik sangat besar dan yang bukan sudah jelek kami restrukturisasi,” terang dia.
Sementara untuk pencadangan kredit bermasalah, sampai akhir tahun akan berada pada angka 130-140 persen atau dibawah Rp8 triliun. “Itu kalau restrukturisasi tidak berhasil,” terang dia. (az)