Jakarta, TopBusiness – Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas kopi Indonesia yang mencakup luas lahan perkebunan kopi sekitar 1,2 juta hektare di seluruh tanah air.
Produktivitas perkebunan kopi per hektare di Indonesia saat ini masih di kisaran 1-2 ton. Presiden berharap tingkat produktivitas itu bisa mencapai 8-9 ton seperti di negara lain.
“Target tersebut menjadi tugas bersama. Bagaimanaa membuat produktivitas kopi per hektare, meningkat drastis. Itu bisa terealisasi melalui perawatan yang lebih baik. Begitu juga dengan pemberian pupuknya. Lalu pengaturan jarak tanam. Jarak tanam mungkin lebih rapat sehingga produktivitasnya per hektare bisa menjadi lebih naik. Dan kalau produktivitas per hektare naik, kesejahteraan petani kopi akan menjadi lebih baik,” ujar Jokowi dalam keterangan resminya, yang dikutip Selasa (16/7/2024).
Pernyataan presiden tersebut disampaikan saat panen kopi bersama para petani di Desa Kembahang, Kecamatan Batubrak, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, pada Jumat, 12 Juli 2024 lalu.
Menurut Kepala Negara, meskipun harga kopi fluktuatif, tetapi secara tahunan cenderung mengalami kenaikan dan permintaan ekspor juga terus meningkat. Untuk itu, Presiden mendorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar memberi perhatian pada komoditas kopi.
“Inilah yang tadi saya sampaikan ke Menteri Pertanian agar memberi perhatian kepada kopi. Yang paling penting adalah produktivitas per hektarenya harus naik,” jelasnya.
Presiden menyatakan subsidi pupuk telah meningkat hampir dua kali lipat. Ini untuk mendukung para petani dalam meningkatkan produksi. Orang nomor satu di tanah air ini menyempatkan waktu berdiskusi dengan petani padi perihal subsisi pupuk tersebut.
“Jadi kalau saya bertanya ke petani-petani yang padi, kemarin-kemarin dalam dua minggu ini, enggak ada masalah,” ujarnya, menambahkan.
Presiden Jokowi mendorong hilirisasi produk pertanian, termasuk kopi. Menurutnya, ini mencakup kemasan yang baik dan siap ekspor, bukan hanya menjual dalam bentuk bahan mentah. Kunjungan tersebut diharapkan bisa menjadi momentum untuk peningkatan sektor pertanian kopi di Indonesia. Secara khusus di Kabupaten Lampung Barat, dan sekaligus menguatkan kesejahteraan para petani kopi di masa depan.
Saat ini harga komoditas kopi sekitar Rp 70 ribu per kilogram dalam bentuk kering atau green bean. Rata-rata produktivitas kopi petani mencapai tiga hingga empat ton per hektare. Ini menurut data Kementerian Pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan luas areal kopi nasional tahun 2023 mencapai 1.268.905 hektare. Rata-rata produksinya mencapai 756.097 ton atau terbesar keempat dunia dan menyumbang enam persen kopi dunia.
Mentan mengatakan Indonesia memproduksi 91 persen kopi robusta dan sembilan persen kopi Arabika, dengan nilai ekspor tahun 2020-2022 mengalami kenaikan sebesar US$ 326. atau 40 persen, dari sebelumnya US$ 821.932 menjadi US$ 1.148.383. Volume ekspor naik sebesar 58.201 ton atau 15 persen, dari 379.354 ton menjadi 437.555 ton.
Khusus provinsi Lampung, saat ini menempati urutan kedua terbesar produksi kopi nasional dengan luas perkebunan mencapai 155.165 hektare atau 108.069 ton. Itu didominasi kopi robusta. “Yang menarik adalah petani kopi Lampung Barat sebagian besar menerapkan teknologi sambung pucuk pada budidaya kopi Robusta dan menghasilkan produktivitas 1,1 ton per hektare atau di atas produktivitas rata-rata Nasional 0,813 ton per hektar,” ujar Mentan, dalam siaran pers.
Seperti sudah disinggung di atas, Kementerian Pertanian dan berbagai stakeholder terkait mendapat tugas penting. Kementan diharuskan memberi perhatian lebih pada komoditas kopi demi target peningkatan produktivitas.
