Jakarta, TopBusiness – Top manajemen Perumda BPR Bank Kota Kediri atau BPR Kota Kediri membangun kinerja bisnis dan keuangan melalui pelaksanaan governance, risk and compliance alias GRC dengan menitikberatkan sikap legowo para karyawan yang terlibat di dalamnya.
Ditegaskan Direktur Utama BPR Kota Kediri Popy Setyaningrum, sejak 2021, pihaknya langsung melakukan aksi nyata dalam mengelola tata kelola perusahaan agar bisa menjadi lembaga BPR yang diharapkan, pada giliranya mampu membangun perekonomian Kota Kediri, karena sebagai agen perubahan.
Aksi Popy dalam menyelamatkan perusahaan daerah ini merupakan langkah nyata. Struktur GRC langsung diterapkan kepada seluruh insan BPR Kota Kediri. Pasalnya, dirinya mengeluarkan kebijakan penandatanganan pakta integritas bagi seluruh karyawan, agar mereka melakukan tata kelola yang sangat tepat.
“Saya tidak muluk-muluk, seluruh insan wajib menandatangani pakta integritas, dan seluruh tanda tangan integritas ini ditempelkan langsung di dinding tempat kerja karyawan. Saya juga tidak membuat rambu-rambu pakta integritas ini, saya berharap langsung dari karyawan yang membuat rambu-rambu tersebut. Apabila ada kesalahan, maka seluruh insan BPR Kota Kendiri harus legowo dengan kesalahan yang dilakukan dan mereka yang harus mempertanggung-jawabkan kesalahan tersebut. Manajemen tidak harus sulit-sulit mengajukan kesalahan bagi insan BPR Kota Kediri yang tersangkut permasalahan. Jika sampai karyawan tersebut harus berhadapan dengan hukum, tentunya harus dilaksanakan. Manajemen tidak melindungi karyawan tersebut”, tegas Popy kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2024, melalui aplikasi rapat zoom, di Jakarta, Rabu, (24/7/2024).
Selain itu, manajemen melakukan kerja sama dengan pihak kejaksaan terhadap kredit macet yang sulit dilakukan penagihan pihak BPR. “Selama ini dilakukan penagihan kredit macet oleh pihak kejaksaan, dengan harapan tagihan kredit di BPR dapat cepat diselesaikan,” ucap dia.
Menurut Popy, dengan suksesnya bersinergi dengan pihak kejaksaan, maka telah dilakukan kerja sama lanjutan sehingga risiko penagihan bisa terus berjalan efektif.
Selanjutnya, juga membangun kontra positif terhadap berbagai pemberitaan di mass media terhadap kinerja BPR. Hal tersebut juga memberikan hasil yang sangat positif serta sangat memuaskan.
“Saat ini kepercayaan atau trust bagi seluruh pemangku kepentingan, baik itu para investor dan nasabah BPR ini semakin tinggi. Kinerja BPR sudah mendapatkan kepercayaan penuh terhadap perubahan sebab tata kelola perusahaan yang berbasiskan GCG”, ujar Popy.
Disebutkannya, dalam melakukan tata kelola perusahan nan apik maka diterapkan KPI, reward, dan punisment dan juga menerapkan core banking system, dan tahun 2024 nanti akan berjalan secara penuh sesuai dengan aturan dari OJK.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai ujung tombak dari keberhasilan BPR, maka dilakukan kegiatan seperti, pelatihan penjulan, pelatihan analisa kredit, pelatihan penagihan, pelatihan pelaporan management resiko dan tata kelola, pelatihan penyusunan RBB, pelatihan audit, pelatihan SDM, pelatihan APU PPT, pelatihan SAKEP.
Dengan gebrakan Popy, sebagai sang nakoda baru BPR berhasil meningkatkan kinerja BPR. Itu tercermin dari deposito sebesar Rp 22 miliar. Serta, memberikan kontribusi besar dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 2% sebesar Rp 10,6 miliar, kredit umum (Rp 9 miliar). “Ini hasil kerja sama dan apik dengan Pemerintah Kota Kediri, dalam rangka mendukung program dalam meningkatkan perekonomian,” pungkasnya.
