Jakarta, TopBusiness—Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Juda Agung, menekankan bahwa terdapat 3 tantangan SSK (stabilitas sektor keuangan) yang perlu menjadi perhatian bersama. “Pertama, adanya pergeseran lanskap perekonomian dunia sejalan dengan semakin meredanya ketidakpastian kebijakan moneter negara maju dan melambatnya tekanan inflasi global,” kata Juda dalam keterangan resmi dari Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, hari ini.
Tentunya siklus keuangan global yang melonggar ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong pembiayaan ekonomi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi domestik.
Kedua, risiko operasional yang muncul dari digitalisasi keuangan dalam bentuk ancaman siber, risiko fraud, dan risiko operasional dari layanan penyedia teknologi kritikal.
Ketiga, risiko perubahan iklim yang termaterialisasi menjadi risiko fisik dan risiko transisi. Laporan Risiko Global 2024 menunjukkan bahwa risiko iklim merupakan risiko terbesar kedua dalam jangka 2 tahun ke depan, dan akan menduduki risiko terbesar dalam 10 tahun ke depan.
Oleh karena itu, BI bersinergi dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menginisiasi Kalkulator Hijau sebagai langkah nasional dalam mencapai target net zero emission. “Kalkulator Hijau menyediakan pendekatan yang mudah dan sistematis dalam menghitung emisi dari aktivitas ekonomi, sekaligus membantu perusahaan memahami dan mengurangi dampak lingkungannya.”
