Jakarta, TopBusiness—Menyambut 100 tahun aspal Buton, Kementerian Perindustrian RI (Kemenperin) merilis Peta Jalan Hilirisasi Aspal Buton. Peluncuran ini menandai komitmen menjadikan aspal Buton sebagai tulang punggung kebutuhan aspal nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
“Dengan potensi cadangan aspal alam yang besar, Indonesia siap memerkuat sektor infrastruktur nasional dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya alamnya sendiri,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Kementerian Perindustrian RI (IKTF Kemenperin), Reni Yanita, dalam keterangan resmi (7/11/2024).
Pengembangan aspal Buton dapat memberikan dampak besar pada berbagai sektor di Indonesia. “Aspal Buton adalah aset nasional yang memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung infrastruktur nasional. Melalui pemanfaatan ini, kita dapat meningkatkan kemandirian nasional dalam sektor aspal, mengurangi impor, dan membuka lapangan kerja baru,” ujar dia.
Aspal Buton merupakan satu-satunya aspal alam di Indonesia dengan cadangan yang sangat besar. “Kami berupaya untuk terus membangun industri Aspal Buton agar dapat memberi dampak besar pada ekonomi dan pemerataan pembangunan di Indonesia, terutama di daerah seperti Buton,” lanjut Reni.
Kemenperin telah meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Aspal Buton di Jakarta beberapa waktu lalu. Peta ini memiliki visi besar, yaitu aspal Buton Menjadi tuan rumah pasok aspal nasional 2030.
Untuk mencapainya, terdapat tiga misi utama yang dicanangkan, yaitu meningkatkan utilisasi industri aspal Buton yang berkualitas, mendorong pertumbuhan industri aspal murni, dan menciptakan ekosistem industri yang berbasis hijau.
“Melalui langkah-langkah ini, pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan aspal Buton hingga 90% dari kebutuhan nasional, mengembangkan dua industri pengolahan aspal murni, dan menyertifikasi sepuluh pabrik dengan standar industri hijau pada tahun 2030.”
Saat ini, terdapat 37 pabrik pengolahan Aspal Buton yang tersebar di seluruh Indonesia dan memproduksi berbagai jenis produk seperti B5/20, B50/30, CPHMA, pracampur, dan aspal murni, serta menyerap lebih dari 800 tenaga kerja. Namun, pada periode 2019-2023, rata-rata penggunaan aspal Buton dalam proyek nasional hanya mencapai sekitar 5%, sedangkan kebutuhan aspal lainnya sebagian besar masih dipenuhi melalui impor.
“Dengan beroperasinya pabrik-pabrik ini secara penuh, diperkirakan substitusi impor dapat meningkat drastis dan berkontribusi pada pengurangan defisit perdagangan,” kata Reni.
