Jakarta, TopBusiness – Data perdagangan hingga tanggal 27 Desember 2024 lalu baru saja dirilis oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Dan ternyata dari beragam data-data positif, tingkat keuntungan dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lumayan jeblok dibanding yield dari Indeks global.
Tercatat, kinerja IHSG hingga tanggal 27 Desember 2024 itu berada di angka 7.036,57 atau turun 3,25%. Dengan market cap sebesar Rp12.264 triliun. Dengan penurunan tersebut, IHSG berada di urutan keempat dari bawah dari total 36 Indeks Global secara year to date (ytd) atau peringkat kedua secara global.
Untuk 10 besar yang tertinggi berasal dari Turki yang bertumbuh 34,21%, US Nasdaq (31,38%), Taiwan (29,81%), Israel (28,38%), UAE (26,35%), US S&P500 (25,18%), Jepang (20,37%), Jerman (19,30%), Kanada (18,31%), dan Hongkong (17,85%).
“IHSG kita per 27 Desember 2024 di angka 7.036,57 atau turun 3,25%. Dengan all time high dari IHSG kita terjadi pada tanggal 19 September 2024 di angka 7.905,” tandas Direktur Utama BEI, Iman Rachman dalam konferensi pers penutupan perdagangan saham akhir tahun di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin (30/12/2024).
Sementara untuk tahun 2025 nanti, BEI mengaku optimistis beberapa target bakal tercapai. Untuk itu, indicator seperti Rata-rata Nilai Transaksi Harian Saham (RNTH), jumlah investor baru, dan pencatatan efek baru bisa terus meningkat di tahun depan.
“Tahun 2025 nanti, beberapa target yang kita ingin capai adalah dari sisi RNTH saham bisa mencapai Rp13,5 triliun, investor baru bisa bertambah sebanyak 2 juta, dan untuk pencatatan efek baru kita targetkan bisa mencapai 407 efek baru dengan 66 adalah dari saham,” jelas Iman.
Adapun untuk kinerja BEI hingga 27 Desember 2024 untuk RNTH saham sebanyak Rp12,85 triliun atau naik 19,6% dari 2023 yang di angka Rp10,75 triliun. Dengan rerata nilai transaksi harian EBUS (SPPA) surat utang sebesar Rp1,04 triliun atau melonjak 51,9% dari 2023 sebesar Rp686 miliar.
Sementara total nilai transaksi non saham yaitu dari rights, warrant, SW, SSF, KIK, dan derivative sebanyak Rp4,38 triliun atau menurun dari tahun 2023 di angka Rp8,9 triliun. Sedang untuk pencatatan saham baru hingga akhir tahun hanay terdapat 41 perusahaan tau menurun drastic dari 2023 di angka 79. Dengan penambahan 41 perusahaan, maka total Perusahaan tercatat saham sebanyak 943.
“Dengan jumlah investor per 27 Desember 2024 sebanyak 14,8 juta investor. Dan saya yakin di tahun 2025 bisa bertambah 2 juta investor baru. Karena sepanjang 2024, kami juga banyak melakukan optimalisasi kegiatan edukasi dan literasi melalui seluruh kanal distribusi informasi dan akan tetap kita lanjutkan,” kata Iman.
