Jakarta, TopBusiness – Manajemen Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Projotamansari Kabupaten Bantul atau biasa disingkat Perumdam Bantul mempunyai strategi bisnis. Ini dilakukan agar perusahaan dapat terus berkembang, berkelanjutan dan mampu bertahan di tengah kompetisi industri air minum demi memberikan layanan prima kepada pelanggan.
Menurut Anita Tri Hastuti, S.E. sebagai Direktur Umum & Keuangan, pihaknya dalam menjalankan bisnis proses dilatarbelakangi dengan strategi bisnis. “Jadi, kalau boleh kami kelompokan strategi bisnis. Mungkin bisa kami bagi tiga,” kata Anita, di hadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2025, yang berlangsung secara dalam jaringan melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta Jumat (17/1/2025).
Anita tak sendiri, tampak di layar monitor aplikasi zoom meeting sejumlah tim dari Perumdam Bantul. Di antaranya, Reza Kamal sebagai Kepala Sub Bag. IT, dan Briyan Limbogo (Kepala Sub Bag. Pemasaran & Pelayanan Pelanggan), lalu Team Support.
Sementara itu, tampak hadir Dewan Juri TOP BUMD Awards seperti Melani K. Harriman sebagai CEO Melani K. Harriman & Associates, yang sekaligus bertindak sebagai moderator. Ada Ben de Haan sebagai Penasihat MSI, kemudian Sentot Baskoro (LSP MSDMKI) dan Satya Arinanto (Guru Besar – Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI).
Dia lantas menjelaskan strategi bisnis yang pertama, itu untuk jangka pendek. “Jangka pendek, saat ini kami sedang konsentrasi untuk menaikkan tarif atau menyesuaikan tarif air minum Perumdam Bantul,” ujar dia.
Dia mengungkapkan latar belakang mengapa perumdam mesti melakukan penyesuaian tarif. “Karena saat ini, tarif yang berlaku adalah tarif yang sejak tahun 2017 belum disesuaikan. Sementara, kalau di DIY ini ada empat tetangga kami yang lain sudah beberapa kali dinaikkan tarifnya. Sementara kami, (karena) satu dan lain hal maka sampai tahun 2024 kemarin, belum disesuaikan,” katanya.
Bahkan Anita menegaskan rencananya di tahun 2025 akan direalisasikan. “Ini target di triwulan I tahun 2025, tarif kami akan disesuaikan. Idealnya memang tarif itu ditinjau setahun sekali maksimal bulan November. Ditinjau dalam arti bisa tetap atau bisa naik sesuai dengan kondisi,” imbuh dia.
Dalam pandangan dirinya, biaya yang dikeluarkan meningkat, meski begitu perumdam masih bisa bertahan dalam menjalankan roda operasional. “Sebagaimana kita tahu bahwa dalam sejarah namanya biaya tidak ada yang turun, yah. Tetapi, selalu mengalami kenaikkan. Kami bisa tetap eksis walaupun dengan tarif yang murah cuma pengembangan tidak sebesar yang kita harapkan,” kata dia.
Dia melanjutkan soal strategi bisnis kedua. Dalam hal ini, perumdam akan meningkatkan jumlah cakupan pelanggan dengan tetap terkontrasi pada bisnis intinya. “Kemudian, untuk strategi bisnis yang kedua. Ini kami konsen pada peningkatan sambungan rumah karena memang kondisi Perumdam Bantul adalah jualan air. Sehingga, kita berupaya sekuat tenaga untuk menambah pertumbuhan pelanggan, dan sambungan rumah. Dan itu tentu harus didukung juga beberapa inovasi,” papar Anita.
Terakhir, Anita mengutarakan strategi jangka panjang Perumdam Bantul melalui pengembangan pangsa pasar yang lebih luas. “Dan yang terakhir strategi jangka panjangnya, mungkin kami akan melakukan pengembangan pasar dengan cara membuka jalur-jalur distribusi perpipaan yang saat ini belum terjangkau di Kabupaten Bantul. Sehingga akan meningkatkan cakupan layanan Perumdam Bantul,” ucapnya.
