
Jakarta, businessnews.id — Pasar obligasi tahun ini akan mengalami beberapa tantangan,bahkan nilainya akan turun ketimbang tahun 2013. Hal itu disebabkan, 2014 adalah tahun politik, dan ada tappering off oleh The Federal Reserve di Amerika serikat dengan kenaikan suku bunga perbankan 1 persen.
Menurut Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia Wahyu Trenggono, di Jakarta hari ini, jika dibanding tahun lalu nilai penerbitan obligasi tahun ini akan mengalami penurunan nilai. “Tahun lalu itu angkanya Rp 50 triliun sampai Rp 60 triliun. Tahun ini angkanya akan lebih kecil dari itu.”
Hal itu karena calon penerbit obligasi masih kehabisan waktu untuk menunggu waktu yang tepat. Untuk menerbitkan obligasi memang butuh waktu panjang, sekitar tiga sampai empat bulan untuk mengambil keputusan. Di samping itu, harus menyiapkan penerbitan.
“Saat ini masih dilihat dulu, awal tahun ini ekonom mengatakan BI Rate akan naik terus antara 1 persen sampai 1,5 persen. Namun ternyata tidak,” kata dia.
Dengan kondisi BI Rate tetap, inflasi terkendali, dan Rupiah menguat, maka menjadi kondisi baik untuk menerbitkan obligasi. Karena momen pengambilan keputusan dimulai sekarang, butuh empat bulan lagi untuk pengurusan ijin penerbitan hingga tercatat di pasar surat utang.
“Itu Juli 2014, jadi enam bulan pertama ini sudah terbuang,” terangnya.
Setelah itu , pada semester II 2014, calon penerbit obligasi akan kembali menunggu tahapan Pemilihan Umum RI selesai. Itu selesai di September 2014.
Tantangan lainnya, The Federal Reserve Amerika Serikat menaikan bunga sebesar satu persen, kenaikan suku bunga perbankan tersebut akan mendorong pemilik modal menarik uang dari negara emerging market seperti Indonesia.
- Dan hal ini akan menjadi pertimbangan untuk menunda penepatan investasi di obligasi,” kata dia. (ZIZ)