TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

ESDM Kaji Mandatori Nasional Bioetanol

Albarsyah
19 May 2025 | 10:24
rubrik: Business Info
Kementerian ESDM Hadirkan PEP

foto : istimewa

Jakarta, TopBusiness – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menggodok pelaksanaan program mandatori Bahan Bakar Nabati (BBN) bioetanol. Langkah ini diambil menyusul keberhasilan yang dilakukan pemerintah terkait implementasi program mandatori biodiesel 40% (B40).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan, sebelumnya pemerintah sudah memiliki regulasi yang memandatkan penyusunan roadmap pengembangan bioetanol. Namun, implementasi dari roadmap tersebut belum berjalan optimal lantaran belum siapnya industri bioetanol dalam negeri.

Menurut dia, dari 13 industri bioetanol hanya sekitar tiga di antaranya yang mampu memproduksi etanol dengan kualitas bahan bakar. Sedangkan selebihnya merupakan industri yang memproduksi etanol untuk kategori pangan dan minuman.

“Jadi kalau etanol kategori makanan, minuman itu sudah banyak yang bisa, tapi kalau untuk bahan bakar lebih dinaikkan ya, apa namanya itu spesifikasinya untuk menjadi fuel grade itu hanya tiga,” ujar Eniya dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, Jumat (16/5/2025).

Di sisi lain, tiga industri tersebut hanya mampu memproduksi etanol untuk bahan bakar alias fuel grade, dengan total 60 ribu kiloliter (KL). Padahal, bila mengacu pada roadmap sebelumnya, penggunaan bioetanol dalam campuran bahan bakar seharusnya sudah mencapai 20 persen pada tahun 2025.

“Nah tetapi belum ada yang ngejar. Nah karena memang masalah negara dan masalah isu cukai yang masih menjadi problem dan ini baru kita lihat bagaimana skenario nya di sektor regulasi ya,” kata dia.

Eniya membeberkan bahwa dengan kapasitas produksi yang hanya sekitar 60 ribu kiloliter saat ini, kebutuhan bioetanol untuk mencapai porsi 5 persen dalam campuran bahan bakar diperkirakan sekitar 1,2 juta kiloliter.

“Nah dari sini kita sedang berpikir ini 5 persen sudah dicoba sama Pertamina saat ini. Dan kalau kita ingin memandatorikan paling gak step pertama itu 400 ribuan, 400 ribuan kiloliter, 10 kali lipat, hampir 10 kali lipat ya dari yang sekarang. Paling tidak step 1 dulu, lalu kita makin tambah industrinya,” kata Eniya.

BACA JUGA:   49 Penyelewengan BBM Subsidi Ditindak Tegas
Tags: kementerian esdm
Previous Post

Raksasa Migas AS, Chevron Berhasrat Masuk Lagi ke Indonesia

Next Post

Bahlil Soroti Blok Migas Mangkrak, Produksi Energi Nasional Terhambat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR