Jakarta, TopBusiness – PT Energi Batubara Lestari (EBL), anak usaha Hasnur Group yang bergerak di sektor pertambangan batubara, terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Melalui berbagai program CSR unggulannya, perusahaan tidak hanya mematuhi regulasi pascatambang, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan sekitar operasional PT EBL.
“Bagi kami, CSR bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. Kami ingin masyarakat sekitar tumbuh bersama kami, bahkan setelah kegiatan penambangan berhenti,” ujar Bambang Octaryono, Head of Operation PT EBL dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Rabu (28/5/2025).
Hadi pula dalam penjurian ini Ahmad Riadi (CSR Hasnur Group), Wira Pugar (CSR PT EBL), M. Rezky Wahyudi (CSR PT EBL), dan M. Aziz Assidiqi (CSR PT EBL).
Berdiri sejak 2001, PT Energi Batubara Lestari merupakan perusahaan pertambangan yang melakukan kegiatan eksploitasi batubara di wilayah Kecamatan Lokpaikat, Kecamatan Piani dan Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 1.894,5 hektare. Potensi cadangan batubara diperkirakan sebesar 35,549.530 ton dengan produksi rata-rata per tahun sebesar 2,5 juta ton.
Salah satu program CSR unggulan PT EBL adalah Integrasi Farming atau Program Pertanian dan Peternakan yang Terintregasi. Melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat ini, PT EBL memliki komitmen besar terhadap pendapatan ekonomi, sosial dan lingkungan masyarakat di area sekitar tambang terutama di desa ring 1 dari PT EBL. Salah satu komitmennya yaitu dengan menangkap potensi masyarakat Ring 1 dimana mayoritas sebagai pertanian dan peternakan.
Pada program ini PT EBL memberikan kemitraan kepada Desa Shabah sebanyak 15 ekor sapi dan lahan pasca tambang seluas 6 + 1 hektare untuk tanamana holtikultura, pakan ternak dan sebagai cover crop agar tidak terjadi erosi pada tanah.
Sejak tahun 2023, kata Bambang, masyarakat Desa Shabah beternak secara mandiri di pekarangan rumah, dan dalam perjalanannya terdapat banyak kendala kesulitan dalam pakan hijauan kadang harus ke tempat jauh baru dapat rumput untuk pakan sapi.
“Hal ini mamakan waktu yang cukup banyak, apalagi pada saat musim kemarau rumput hijau untuk pakan sapi pada kering dan mati. Kemudian PT EBL memilik ide dan inisiatif dengan merangkul warga untuk berternak sapi dengan sistem peternakan sapi yang terintregasi. Maka dengan itu dibentuklah kelompok ternak dan tani yang dinamakan Lestari Shabah yang beranggotakan 20 orang yang mana terdapat dua bagian dalam kelompok tersebut bagian yang mengelola hewan sapi 10 orang dan 10 orang mengelola pertanian,” tutur Bambang dalam materi presentasinya.
Pembagian keuntungan dari hasil peternakan dan pertanian tersebut adalah 50 persen untuk anggota kelompok yang memelihara dan 50 persen untuk pegembangan usaha. Sapi yang dipelihara oleh kelompok untuk memenuhi kebutuhan hewan qurban PT EBL sebanyak 32 ekor dan kebutuhan hewan qurban Hasnur Group 267 ekor, yang mana sapi tersebut dibagikan kepada warga desa di sekitar tambang PT EBL.
Selain peternakan sapi, kata Bambang, terdapat pengelolaan kotoran sapi yang dijadikan pupuk kompos sebagai pupuk pembenah tanah untuk budidaya pertanian dan reklamasi revegetasi. Dalam satu bulan pupuk kompos yang dihasilkan dari kotoran sapi sekitar 1.350 kg. Adapun pemasaran dari pupuk kompos ini 60 % ke perusahaan dan 40 % untuk petani sekitar area tambang
Pogram CSR unggulan lainnya dari PT EBL adalah Agrowisata Desa melalui Pertanian terpadu berkelanjutan. Program Agrowisata ini dilakukan di Desa Bitahan Baru dengan kegiatan mulai dari Budidaya Tanaman Semusim, Perikanan sistem Bioflog dan Pertanian Hidroponik.
“Hasil dari agrowisata menjadi pendapatan BUMDes Desa Bitahan Baru, Masyarakat Desa dan untuk pembangunan Desa. Sedangkan hasil panen agrowisata ini dibeli oleh catering untuk karyawan PT EBL,” ujar Bambang.
Dengan program CSR ini tidak hanya meningkatkan citra dan reputasi Perusahaan, tai juga mengurangi risiko bisnis dan konflik dengan masyarakat sekitar tambang.
PT EBL juga memiliki Program CSR Peduli Kearifan Lokal Masyarakat Daerah dengan kegiatan antara lain Aruh Adat Dayak Masyarakat Dayak Meratus dan Tapin Art Festival di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dengan program tersebut, PT EBL menunjukkan komitmen pada kearifan lokal aruh adat budaya yang dilakukan secara turun temurun.
“Kekaguman terhadap kegiatan ini, membuat Hasnur Group berkontribusi terhadap kegiatan Aruh Adat Budaya ini, tepatnya di Desa Harakit dan Desa Balawaian. Aruh Adat ini menjadi bentuk rasa syukur Masyarakat Meratus atas hasil panen melimpah, dengan dilaksanakan di sepanjang lereng Meratus.
Menurut Bambang, pelaksanaan Aruh Adat Budaya ini tidak hanya diikuti oleh pemeluk agama leluhur, tetapi juga masyarakat keturunan Dayak yang sudah memeluk agama Islam, kristen, ataupun Hindu. Sebab itu, PT EBL terus berkomitmen berkontribusi agar Aruh Adat ini terus terlaksana karena adanya pluralisme yang tertanam di masyarakat dalam ajang tersebut.
Sedangkan untuk kegiatan Tapin Art Festival di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan menampilkan berbagai Kebudayaan daerah Tapin mulai dari, Balogo, bagasing, bakuntau, tarian daerah dan madihin. “PT EBL hadir dalam mendukung terselanggaranya kegiatan yang menjadi agenda tahunan Kabupaten Tapin,” kata Bambang.
Menurut Berbagai program CSR yang dijalankan PT EBL juga sejalan dengan Asta Cita dan Program Prioritas Kabinet Merah Putih 2024-2029.
Dalam pelaksanaannya, program CSR PT EBL mengacu pada prinsip-prinsip ISO 26000 dan kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Perusahaan secara juga aktif melibatkan pemangku kepentingan lokal dalam penyusunan hingga evaluasi program, termasuk melalui forum masyarakat dan musyawarah desa.
Berkat inovasi program-program CSR tersebut, PT EBL terpilih menjadi salah satu kandidat peraih TOP CSR Awards 2025.
