Jakarta, BusinessNews Indonesia—Bisnis film animasi di Indonesia memerlukan biaya produksi yang mahal. Selain itu, saat ini, bisnis tersebut masih lebih dikuasai pemain asing; pemain lokal bisa dihitung dengan jari. Demikian dijelaskan oleh seorang petinggi bisnis tersebut, dalam percakapan santai dengan Majalah BusinessNews Indonesia di Jakarta.
Bagaimanakah gambaran mahalnya biaya produksi? “Tiap dua menit film animasi, biaya produksi mencapai Rp 400-an juta. Maka, Anda bisa membayangkan biaya produksi bila suatu film animasi berdurasi 30 menit,” kata eksekutif yang enggan namanya disebutkan ini.
Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa ada beberapa skema yang bisa digunakan ketika menjual film animasi ke stasiun televisi. Yakni, menjual putus, ataupun berbagi hasil. “Lazimnya, stasiun televisi meminta skema bagi hasil ketika memerkirakan bahwa penonton film animasi itu banyak,” dia menjelaskan.
Tidakkah teknologi informasi (TI) dan perangkat lunaknya, memudahkan pembuatan film animasi untuk saat ini dibandingkan dulu? Dia menjawab, hal itu ada benarnya. Tetapi, tetap ada hal yang tidak bisa digantikan oleh perangkat lunak tersebut.
“Misalnya, menggambar karakter animasi tertentu, tetap memerlukan keterampilan tinggi dari seorang pekerja. Bisa saja, menggunakan cara template, tetapi yang dihasilkan tentunya berkualitas rendah,” dia berkata.
Karena mahalnya biaya produksi, produsen film animasi biasanya menjual film itu secara berulang. Dalam arti, sebuah film tidak dijual ke satu stasiun televisi saja. Film itu dipasarkan juga ke stasiun lain. “Maka, untuk rerun sebuah film animasi, kami mengenakan biaya lagi,” dia menjelaskan.
