Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT BPR Bank Tulungagung Perseroda atau Bank Tulungagung memiliki komitmen tinggi untuk mewujudkan visi perusahaan menjadi bank sehat, profesional, dan mampu bersaing secara nasional.
Bank BUMD Kabupaten Tulungagung ini juga berupaya mewujudkan bisnis yang berkelanjutan dengan menerapkan governance (tata kelola), risk management (manajemen risiko), dan compliance (kepatuhan) atau GRC sebagai fondasi utama perusahaan.
“GRC mendukung pertumbuhan yang tidak hanya cepat tetapi juga aman dan bertanggung jawab terutama dalam pelayanan kepada UMKM dan masyarakat lokal,” ujar Suhermin, Direktur Utama Bank Tulungagung dalam presentasi penjurian TOP GRC Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Selasa (8/7/2025).
Dalam penerapan GRC, Bank Tulungagung juga mengarahkan bisnis ke sektor produktif yang inklusif dan ramah lingkungan serta mengintegrasikan GRC dalam perencanaan bisnis.
Bank Tulungagung saat ini memiliki dua komite atau organ yang mendukung pelaksanaan GRC di Perusahaan, yakni pertama, SKKMR (Satuan Kerja Kepatuhan dan Manajemen Risiko) yang berada di bawah direktur kepatuhan. Tugas utamanya adalah membantu Direktur Kepatuhan & SDM dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan perencanaan, operasional dan pengawasan pelaksanaan fungsi manajemen risiko dan kepatuhan BPR serta Pengelolaan SDM.
Organ kedua adalah SKAI (Satuan Kerja Audit Internal) yang berada di bawah direktur utama/komisaris dengan tugas utama membantu direktur utama dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan perencanaan, operasional dan pengawasan pelaksanaan fungsi audit intern BPR.
Implementasi GRC
Menurut dia, kebijakan manajemen terkait tata kelola perusahaan adalah menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) dalam seluruh aktivitas operasional, serta meningkatkan pengawasan aktif direksi dan dewan komisaris terhadap penerapan tata kelola dan manajemen risiko. Manajemen Bank Tulungagung juga berupaya memperkuat kerangka manajemen risiko dan pengendalian internal.
“Terkait kebijakan kepatuhan, kami memastikan seluruh kegiatan sesuai regulasi OJK dan perundang-undangan lainnya yang berlaku,” ujar Suhermin.
Untuk implementasi GCG di Bank Tulungagung tidak hanya mengacu pada prinsip prinsip dasar seperti transparansi, akuntabilitas , tanggung jawab , independensi dan kewajaran. Terdapat aspek penting lainnya yang juga turut berperan besar dalam menunjang keberhasilan GCG secara menyeluruh.
Di antaranya, manajemen puncak menunjukkan komitmen penuh dan berkelanjutan terhadap penerapan prinsip GCG dalam setiap keputusan dan tindakan strategis Perusahaan. Selain itu, budaya perusahaan yang sehat di mana nilai-nilai etika dan integritas menjadi bagian budaya Perusahaan.
Terdapat pula kebijakan dan prosedur internal yang mendukung pelaksanaan GCG. Selain itu, Perusahaan menyediakan informasi yang relevan , akurat dan tepat waktu kepada seluruh pemangku kepentingan.
Aspek penting lainnya adalah Fungsi Audit Internal bersifat independen dan memiliki kompetensi dalam mengawasi implementasi GCG.” Penerapan GCG yang baik, mencakup pendekatan manajemen risiko yang proaktif,” ucapnya.
Perusahaan juga senantiasa mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku , termasuk ketentuan dari regulator seperti OJK,BI dan lembaga terkait lainnya. Aspek lainnya adalah keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholder engagement), evaluasi dan monitoring pelaksanaan GCG. “Selain itu, pelatihan dan sosialisasi dilaksanakan secara berkelanjutan untuk membentuk perilaku perusahaan yang selaras dengan tata kelola yang baik,” kata Suhermin.
Dalam pelaksanaan GCG, Bank Tulungagung juga sudah menerapkan Whistleblowing System (WBS) sebagai sistem pelaporan pelanggaran sekaligus juga sebagai bagian integral dari GRC. WBS ini juga untuk melindungi pelapor dan mengarahkan tindakan korektif.
Manajemen Bank Tulungagung dalam dua tahun terakhir atau pada 2023 dan 2024 juga melakukan penilaian GCG dengan Skor 2 atau Baik. Hasil penilaian internal ini sudah dilaporkan ke OJK.
Sedangkan untuk penerapan manajemen risiko, Bank Tulungagung melakukan identifikasi risk profile, mulai dari perencanaan risiko, identifikasi risiko, evaluasi risiko, hingga mitigasi risiko.
Terkait mitigasi risiko, kata Suhermin, ada beberapa cara yang dilakukan Bank Tulungagung, antara lain dengan risk transfer (pengalihan risiko) melalui kerja sama dengan perusahaan asuransi untuk menghindari risiko gagal bayar kredit ketika nasabah meninggal maupun PHK.
Bank Tulungagung juga melakukan risk avoidance (menghindari risiko) dengan menghindari produk yang berpotensi pada kerugian misalnya kredit pembelian HP tanpa jaminan.
“Kami juga melakukan risk reduction (mengurangi risiko) melalui kerja sama dengan Mandiri Consulting untuk menggunakan Aplikasi SIAK yang telah disesuaikan dengan regulasi yang berlaku sebagai sarana analisa kredit guna mengurangi risiko gagal bayar pada kredit yang diberikan,” kata Suhermin.
Menurut dia, penerapan manajemen risiko di Bank Tulungagung sudah mengacu pada ISO 31000 Risk Management – Guidelines.
Untuk manajemen kepatuhan, Bank Tulungagung mengacu pada regulasi eksternal dan internal Perusahaan. Untuk regulasi eksternal antara lain Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 9 tahun 2024 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah. Selain itu, SEOJK No. 08/seojk.03/2025 tentang Penerapan Fungsi Kepatuhan Bagi Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah.
Sedangkan regulasi internal antara lain Surat Keputusan (SK) Direksi, SK Komisaris, Peraturan Perusahaan, Pedoman Perusahaan, dan aturan lainnya yang terkait manajemen kepatuhan.
Menurut Suhermin, keberhasilan Bank Tulungagung dalam mengimplementasikan GRC juga didukung penerapan teknologi informasi antara lain: Sistem Anti Money Laundering (AML), Core Banking System, Whistleblowing system, Digitalisasi Proses Manajemen Risiko, dan Teknologi untuk Penilaian Risiko Kredit.
Keberhasilan penerapan GRC di Bank Tulungagung tercermin dalam kinerja bisnis atau keuangan perusahaan yang meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Total aset Bank Tulungagung naik dari Rp 250,21 miliar pada 2023 menjadi Rp 255,16 miliar pada 2024. Demikian pula total pendapatan meningkat dari Rp 27,955 miliar menjadi Rp 30,772 miliar. Sedangkan laba bersih pun terdongkrak dari Rp 5,76 miliar pada 2023 menjadi Rp 6,4 miliar pada 2024.
Dengan peningkatan kinerja bisnis ini, kontribusi PAD (pendapatan asli daerah) Bank Tulungagung pun naik dari Rp 3,16 miliar (2023) menjadi Rp 3,51 miliar (2024).
Komitmen manajemen Bank Tulungagung dalam mengimplementasikan GRC membuat BUMD ini Kembali terpilih menjadi salah satu kandidat peraih TOP GRC Awards 2025. Dua tahun terakhir atau pada 2023 dan 2024, Bank Tulungagung meraih Top GRC Awards star 4 berturut-turut.
