Jakarta, TopBusiness – PT Paguntaka Cahaya Nusantara (PCN), anak usaha dari PT PLN Nusa Daya, terus memantapkan langkah transformasi bisnisnya melalui penguatan tata kelola perusahaan berbasis prinsip Governance, Risk, and Compliance (GRC).
PCN sendiri menjadi salah satu nominator penerima penghargaan TOP GRC Awards 2025 untuk kali pertama. Untuk itu, PCN baru saja mengikuti proses penjurian. Dalam presentasi paparan di depan Dewan Juri TOP GRC Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness, Rabu (6/8/2025), manajemen PCN menegaskan bahwa GRC bukan sekadar kewajiban tata kelola, melainkan strategi inti dalam membangun perusahaan yang tahan banting dan berkelanjutan.
Mengusung visi “Menjadi Perusahaan Penyedia Tenaga Kerja Bidang Ketenagalistrikan dan Jasa Lainnya yang Terpercaya di Indonesia” ini, PCN mencatat kinerja positif sepanjang 2024 lalu. Hal ini tak lepas dari adanya implementasi GRC secara solid itu.
“Dengan visi tersebut berarti, perusahaan memiliki visi untuk menjadi penyedia tenaga kerja terkemuka dan terpercaya di Indonesia. Terutama di bidang kelistrikan, namun tetap terbuka terhadap bidang jasa lainnya. Ini dengan tujuan membangun reputasi yang baik dan hubungan jangka panjang dengan klien dan tenaga kerja yang disalurkan,” terang Direktur Utama PCN, Irawan Hernanda di depan Dewan Juri mengawali presentasi itu.
Untuk diketahui, PCN merupakan perusahaan yang didirikan pada tanggal 8 Desember 2017, yang memiliki peran sebagai pengelola jasa tenaga kerja (Workforce Management) bidang ketenagalistrikan dan jasa penunjang ketenagalistrikan lainnya.
Dengan wilayah kerja PCN adalah wilayah kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Semu aitu dikelola oleh 8 Cabang, dengan jumlah tenaga kerja yang dikelola 23.089, tenaga kerja teknik 19.317 dan tenaga kerja non teknik 3.772. PCN juga mengelola sewa mobil 133 unit, dan sewa motor listrik 465 unit.
Hadir dalam menemani Pak Dirut adalah, F Yogi Amibowo selaku Direktur Operasi & Pengembangan Usaha, Andry Apriawan sebagai Direktur Keuangan dan Administrasi, dan jajaran di bawah Board of Director (BOD) yakni Rizka Abdullah (Manajer Perencanaan/Ketua Tim GCG), Roesmin (Manajer Operasi), dan lainnya.
Disebutkan Irawan Hernanda, keberhasilan tersebut erat kaitannya dengan implementasi GRC yang menyeluruh di seluruh lini bisnis yang dilakukan sejak lama. Kendati PCN sendiri adalah perusahaan baru.
“Jadi, GRC ini bukan hanya tentang tata kelola, melainkan cara berpikir perusahaan untuk tetap relevan, berintegritas, dan adaptif di tengah perubahan dan risiko bisnis,” ujarnya.
Dengan implementasi tersebut memang sudah berdampak positif terhadap kinerja. Tercatat, PCN berhasil mengantongi pendapatan mencapai Rp331,25 miliar, melampaui target RKP sebesar Rp327,03 miliar. Ini juga berarti melonjak 27% Secara year on year (yoy) dari tahun 2023 yang di angka Rp260,08 miliar.
Dengan laba usaha yang meleset signifikan sebesar 175% (yoy) dari Rp11,48 miliar (2023) menjadi Rp20,06 miliar di akhir 2024. Dan laba bersih senilai Rp1,47 miliar. Dengan EBITDA sebesar Rp27,98 miliar melonjak 157% (yoy). Dan jumlah asset mencapai Rp224,47miliar. Namun capaian tersebut tak membuat perusahaan berpuas diri.
“Implementasi GRC ini membawa dampak nyata terhadap kinerja perusahaan. Di tengah tekanan biaya operasional dan tantangan ekspansi wilayah layanan, PCN berhasil menjaga operating ratio dan EBITDA tetap stabil,” lanjut dia lagi.
Hal ini dimungkinkan, tegas Irawan, karena pendekatan pengendalian risiko yang ketat, peningkatan efektivitas operasional, dan digitalisasi dalam pengelolaan anggaran.
GRC Sebagai Fondasi Bisnis
Bagi manajemen, implementasi GRC menjadi “alat strategis dalam memperkuat komitmen perusahaan terhadap sustainability”. Pendekatan ini memastikan perusahaan tetap tangguh, bertanggung jawab, dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, tuntutan sosial, dan regulasi yang berkembang.
Makanya Perusahaan juga banyak memiliki kebijakan terkait dengan governance tersebut. Bahkan skor untuk GCG assessment dalam dua tahun ini, sudah tinggi. Di 2023 di angka 82,78 (Baik) dan di 2024 mneingkat jadi 85,13 (Sangat Baik).
Selain itu, selama dua tahun terakhir, PCN mengantongi pencapaian penting lainnya yakni penghargaan “Zero Accident” dari unit proyek di Kalimantan Tengah, hingga prestasi sebagai salah satu cabang perusahaan terbaik versi internal.
Kemudian, GRC di PCN juga memastikan manajemen risiko berjalan dengan baik sesuai ISO 31000: Risk Management Guideline. Sehingga, PCN mengembangkan secara sistematis dalam kerangka Three Lines of Defense yang melibatkan struktur perusahaan, manajemen risiko, dan kepatuhan hukum.
Pengawasan internal dijalankan oleh Satuan Pengawasan Internal (SPI), yang memiliki independensi kuat dalam memantau risiko dan kepatuhan.
“Manajemen risiko kami tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi jadi dasar dalam pengambilan keputusan. Setiap rencana kerja tahunan kami berbasis RKP berbasis risiko. Tercatat kami memiliki 10 risk profile yang teridentifikasi,” lanjut dia lagi,
Tak hanya itu, perusahaan juga telah mengembangkan regulasi internal terkait manajemen anti-gratifikasi, sistem pelaporan pelanggaran (Whistleblowing System), serta kebijakan anti-penyuapan yang mengacu pada standar ISO 37001:2016.
Di sisi kepatuhan, PCN telah memastikan seluruh jajaran direksi dan komisaris menandatangani komitmen anti-gratifikasi, serta aktif melaporkan harta kekayaan melalui LHKPN. Komunikasi internal mengenai integritas juga rutin dilakukan, bahkan hingga ke tingkat pekerja proyek.
Dalam aspek teknologi juga, lanjut Irawan, PCN mengembangkan sejumlah aplikasi berbasis digital untuk menunjang proses bisnis, termasuk sistem pelaporan keuangan, pelacakan anggaran, serta pemantauan risiko secara real-time.
GRC dan Sustainability
Tak hanya fokus pada bisnis, PCN juga mulai membangun kerangka kerja sustainability berbasis ESG (Environmental, Social, Governance). Tahun ini, perusahaan telah membentuk tim ESG internal untuk merumuskan kebijakan keberlanjutan yang terintegrasi.
“Ke depan, GRC dan ESG akan berjalan beriringan. GRC menjaga perusahaan tetap taat dan sehat, sementara ESG membuat perusahaan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial,” terang Irawan.
Pandangan ini sejalan dengan transformasi model bisnis PCN yang mulai merambah sektor energi bersih, seperti penyewaan motor listrik, serta ekspansi jasa ke sektor non-kelistrikan dengan pendekatan green operation.
Lebih jauh ditegaskannya, transformasi GRC yang dilakukan PCN membuktikan bahwa tata kelola yang baik bukan sekadar alat pelengkap perusahaan, akan tetapi menjadi instrumen strategis dalam membangun bisnis yang adaptif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
“GRC bukan hanya milik manajemen atas. Semua elemen harus terlibat. Jika itu bisa dilakukan, kita tidak hanya bicara tentang kepatuhan, tapi tentang daya tahan jangka panjang,” tandas Irawan.
Apalagi memang, kata dia, tantangan tetap ada. Seperti, kekurangan formasi tenaga kerja hingga lebih dari 100 orang masih menjadi pekerjaan rumah. Demikian pula dengan beberapa target keuangan yang belum seluruhnya tercapai. Antara lain EBITDA margin yang masih di bawah RKP.
“Namun, dengan kerangka GRC yang solid, digitalisasi proses bisnis, serta SDM yang berkompeten, manajemen optimistis dapat menutup gap tersebut di 2025 ini,” pungkas dia.
