Jakarta, TopBusiness – PT Hakaaston (HKA) menegaskan komitmennya terhadap tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (GRC) sebagai fondasi utama transformasi bisnis. Sejak 2021, perusahaan menghadapi tantangan besar akibat beban keuangan dan hampir mengalami default. Namun, melalui restrukturisasi dan penerapan GRC yang konsisten, HKA mampu memperbaiki kinerja.
“Di tahun 2021-2022 manajemen memutuskan untuk melaksanakan structuring financial and organization. Ini tidak lepas dari implementasi juga GRC yang dilakukan dan juga kajian-kajian risiko yang dilakukan oleh perusahaan dan juga pengawal-pengawalan tata kelola,” ungkap M. Izzan Zubair, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko HKA dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2025 secara daring, Senin (1/9/2025).
Masih menurut Izzan, PT hakaston juga mencatat kinerja bisnis yang solid dengan pertumbuhan aset, revenue, dan rasio profitabilitas (ROA) yang tetap terjaga. Dia menegaskan bahwa penguatan keuangan ini tidak lepas dari strategi restrukturisasi dan pengelolaan aset yang konsisten.
“Kalau kita perbandingkan dengan Jasa Marga yang pertama, dia punya 1.238 kilo (km) yang existing. Kami sekarang punya 940 di mana mungkin akhir Desember nanti kami mungkin akan bisa mencapai seribu lebih,” bebernya.
Pencapaian tersebut menjadi indikator kemampuan perusahaan menjaga stabilitas aset sekaligus mendorong pertumbuhan revenue. Adapun tingkat pengembalian aset (ROA) juga menunjukkan tren positif seiring dengan efisiensi operasional yang dilakukan.
Capaian ini bukan hanya soal pertumbuhan angka, melainkan hasil nyata dari tata kelola perusahaan yang sehat. Keberhasilan bisnis yang ditunjukkan PT Hakaaston saat ini merupakan buah dari penerapan prinsip governance, risk, dan compliance (GRC) secara menyeluruh.
Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan Jadi Pilar Utama
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Perusahaan, Aditya Nur Rahadi memaparkan secara komprehensif tentang penerapan GRC di Hakaaston yang merujuk pada regulasi Kementerian BUMN dan standar internasional. Perusahaan telah mengimplementasikan ISO 37001 Sistem Manajemen Anti Penyuapan, sistem whistleblowing, hingga berbagai kebijakan internal terkait tata kelola.
“Kemudian untuk penerapan GCG, kita telah menerapkan ISO 3071, sistem manajemen anti penyuapan dan juga beberapa sistem yang mendukung seperti WBS (whistle blowing system) dan juga sosialisasi secara periodik yang dilakukan di perusahaan atas pelaksanaan GCG perusahaan,” kata Aditya.
Manajemen risiko juga ditekankan sebagai instrumen keberlanjutan usaha. “Manajemen risiko di PT Hakaaston ini sendiri tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban regulasi, tapi kami memang menerapkannya dalam setiap proses bisnis untuk menjamin keberlangsungan dari usaha itu sendiri,” jelasnya.
Inovasi Digital
Selain tata kelola, Hakaaston juga mengembangkan berbagai inovasi digital untuk memperkuat operasional dan meningkatkan transparansi. Perusahaan mengembangkan sistem terpadu mulai dari dashboard, risk management system, hingga aplikasi pengelolaan jalan tol berbasis digital.
“Beberapa teknologi informasi yang digunakan untuk mendukung bisnis proses antara lain adalah penggunaan dashboard, kemudian RMS, risk management system dan juga QSS. Adapun untuk teknologi informasi yang digunakan dari sisi tata kelola adalah kita menggunakan whistle blowing system untuk kepatuhan dalam perundangan juga ISO 301,” paparnya.
Hakaaston bahkan menciptakan sistem TROM (Toll Road Operation Management System) yang memungkinkan seluruh aktivitas operasional jalan tol tercatat secara digital dan real time.
“Jadi simpelnya aplikasi ini merupakan pengganti dari pelaporan-pelaporan manual, kemudian pengganti dari dokumentasi manual sehingga terbentuk di dalam satu aplikasi in one hand,” lanjutnya.
Inovasi ini berdampak nyata pada efisiensi administrasi, percepatan penanganan insiden, hingga peningkatan kepuasan pelanggan. “Dengan aplikasi ini akan ada beberapa items besar yaitu activity control setiap pegawai, sehingga kita memiliki integrated information secara digital baik administrasi kejadian kecelakaan, patroli, inspeksi layanan, transaksi maupun umpan balik pelanggan sebagai driven mechanism dari perusahaan,” tambah Aditya.
Lebih jauh, seluruh aplikasi yang telah dikembangkan akan diintegrasikan dalam satu Super Apps HKD. “Super Apps ini akan dapat mengendalikan atau mengontrol dan juga memonitor setiap kegiatan dan juga bagaimana transparansi yang terjadi di HK Aston,” pungkasnya.
