Jakarta, TopBusiness — PT Pertamina Maintenance & Construction (PertaMC), anak usaha PT Pertamina Patra Niaga, menegaskan komitmennya dalam memperkuat pengelolaan Human Capital (HC) sebagai katalis utama akselerasi bisnis.
Dalam ajang Top Human Capital Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness, perusahaan memaparkan strategi dan inisiatif pengembangan SDM yang terintegrasi melalui sistem Human Capital Management System (HCMS).
Untuk diketahui, PT Pertamina Maintenance & Construction merupakan anak perusahaan PT Pertamina Patra Niaga yang bergerak di bidang jasa pemeliharaan, konstruksi, dan penunjang bisnis energi. Saat ini PertaMC memiliki empat lini bisnis utama: Construction, Operation & Maintenance, Plant Services, serta Consulting & Manpower Services.
Direktur Layanan Usaha PertaMC, Ambar Dwi Sustomo, menjelaskan bahwa HCMS dirancang untuk menjadikan fungsi Human Capital sebagai strategic business partner. Sistem ini mengintegrasikan seluruh aspek pengelolaan SDM — mulai dari perencanaan tenaga kerja, pengembangan kompetensi, manajemen kinerja, hingga suksesi kepemimpinan — untuk mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan yang berkelanjutan.
“HCMS kami bukan sekadar sistem administratif, tapi menjadi alat strategis dalam menyiapkan organisasi dan talenta yang siap menghadapi tantangan bisnis. Human capital harus menjadi katalis pertumbuhan dan keunggulan perusahaan,” ujar Ambar dalam presentasinya.
Dalam proses penjurian kali ini, Ambar didampingi Suparjono selaku VP HC, GA & Procurement dan Istika Muvitasari sebagai Manager Human Capital. Mereka berdua beberapa kali turut menjelaskan proses pengembangan HC di PertaMC.
Berbasis Kompetensi dan Digitalisasi
PertaMC menerapkan Project Management Academy sebagai program unggulan untuk membentuk tim manajemen proyek yang kompeten, efektif, dan berdaya saing global.
Melalui lima tahapan utama — mulai dari project categorization hingga evaluation and recognition — program ini berhasil meningkatkan tingkat project management readiness perusahaan hingga 74%.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan Learning Framework 70–20–10, yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman kerja (on-the-job experience), coaching & mentoring, serta pelatihan formal dan sertifikasi.
Strategi ini memastikan setiap karyawan mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan operasional dan arah bisnis perusahaan.
Digitalisasi menjadi faktor kunci dalam implementasi HCMS. Seluruh proses promosi, mutasi, dan pengelolaan data karyawan kini telah terintegrasi secara real-time melalui sistem database yang terkoneksi dengan Pertamina Group. PertaMC juga mengembangkan Employee Self Service (IIM App) untuk pengajuan cuti, pemantauan KPI, hingga akses informasi kepegawaian, sehingga efisiensi administrasi meningkat signifikan.
Sebagai bagian dari strategi regenerasi dan employer branding, PertaMC menjalankan program STRIVE (Sustainable Talent Readiness and Valuable Experience) — program magang berkelanjutan yang dikembangkan bersama Universitas Pertamina.
Program ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dan lulusan muda untuk terlibat langsung dalam proyek-proyek perusahaan, sekaligus menjadi wadah pembinaan bagi calon talenta masa depan.
“Program STRIVE merupakan program kerja sama pemagangan antara PertaMC dengan Universitas Pertamina untuk mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa melalui pengalaman kerja yang inovatif dan bernilai,” katanya.
Selain STRIVE, perusahaan juga aktif menjalankan program Learn & Share yang berfokus pada transfer pengetahuan antarpegawai melalui forum pembelajaran internal berbasis digital.
Ke depan, PertaMC berkomitmen memperkuat digitalisasi proses SDM, memperluas kolaborasi dengan universitas, serta memperdalam program pengembangan kepemimpinan di seluruh level organisasi.
“Kami percaya, pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan hanya dapat dicapai jika fondasinya adalah SDM yang unggul, adaptif, dan berdaya saing tinggi,” tandas Ambar.
Sejatinya, dijelaskan Ambar, ada dua rekomendasi HCMS dan HC Iniciatives yang bisa digunkaan oleh organisasi lain. Pertama, program pengembangan kompetensi pekerja yang berfokus pada aspek operasional, yaitu Project Management Academy, dilaksanakan untuk membentuk tim manajemen proyek yang kompeten dan berdaya saing.
“Dengan berpedoman pada framework yang telah disusun, diharapkan seluruh tim operasi memiliki standar kompetensi yang seragam serta sejalan dengan visi dan arah strategis Perusahaan,” katanya.
Kedua, program kerja sama dengan Universitas yang bersifat berkelanjutan, dimulai dari Internship Program, dilanjutkan dengan Apprenticeship Program, hingga PWT Proyek bagi peserta Project Management Team (PMT).
Genjot Produktivitas dan Efisiensi
Kinerja bisnis PertaMC sepanjang 2024 menunjukkan hasil positif. Perusahaan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp1,99 triliun, naik 32% dari tahun sebelumnya, dengan EBITDA tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Bidang usaha O&M mendominasi pendapatan usaha tahun 2024, seiring dengan strategi penguatan bisnis O&M.
Selain itu, di tahun 2024, PertaMC berhasil mencatatkan Commercial Sales atau Contract Value sebesar Rp3,31 triliun, mengalami peningkatan 51% dari tahun sebelumnya.
Di tahun 2024 juga, perusahaan berhasil mencatat realisasi kontrak atau proyek sebesar 384 kontrak. Adapun segmen usaha Construction atau EPC tercapai 36 kontrak, Operation & Maintenance (O&M) tercapai 145 kontrak, Plant Services (PS) tercapai 71 kontrak dan Consulting & Manpower Services (CMPS) tercapai 132 kontrak.
Meskipun jumlah karyawan menurun dari 139 menjadi 135 orang, tingkat produktivitas meningkat — mencerminkan efektivitas strategi pengembangan SDM dan efisiensi organisasi.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap pegawai PertaMC memiliki nilai tambah tinggi. Produktivitas naik bukan karena beban kerja, tapi karena peningkatan kompetensi dan efisiensi sistem,” jelas Ambar.
Langkah transformasi ini juga didukung dengan penyederhanaan struktur organisasi dari 200 menjadi 190 formasi tanpa mengurangi efektivitas kinerja. Perubahan ini memperkuat budaya kerja yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi hasil.
