
Jakarta, businessnews.id — Pemulihan ekonomi global masih terus berlanjut, meskipun dengan kecepatan yang moderat. Pemulihan terutama ditopang oleh perbaikan ekonomi negara maju sejalan dengan masih berlanjutnya stimulus moneter. Itu dikatakan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara di Jakarta (8/4/14).
Di negara emerging markets, khususnya di Tiongkok, perlambatan ekonomi terjadi seiring dengan kebijakan rebalancing ekonomi yang ditempuh. Kondisi ini berpotensi mepengaruhi perkembangan harga komoditas global yang masih rendah. Sementara itu, perbaikan terjadi pada pertumbuhan ekonomi di negara mitra dagang lainnya, seperti India.
Ke depan, dia mengatakan, Bank Indonesia akan terus mencermati risiko pertumbuhan ekonomi dunia tersebut serta risiko eksternal lain seperti rencana normalisasi kebijakan The Federal Reserve dan kondisi di beberapa negara emerging markets yang masih cukup rawan gejolak.
Bank Indonesia menilai moderasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berlanjut ke arah yang lebih sehat dan seimbang. Permintaan eksternal membaik dan mengimbangi moderasi permintaan domestik sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. “Beberapa indikator dini dan indikator penuntun mengindikasikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2014 meningkat antara lain didorong kegiatan Pemilu (Pemilihan Umum) 2014,” kata Tirta.
Dia pun menjelaskan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 8 April 2014 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%; dengan suku bunga lending facility dan suku bunga deposit facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%.
“Kebijakan tersebut tetap konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5% plus minus 1% pada 2014; dan 4,0% plus-minus 1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat,” dia mengatakan. (ZIZ)
EDITOR: DHI