Jakarta, TopBusiness – Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli, Ph.D., menegaskan bahwa dunia kerja Indonesia sedang menghadapi tantangan dan perubahan paradigma yang masif. Menghadapi hal ini, diperlukan pergeseran dari pendekatan Human Resources (SDM) menuju Human Capital, dan akhirnya ke arah organisasi yang berpusat pada manusia atau People Centric Organization.
Pernyataan ini disampaikan Yassierli dalam sambutan keynote speech acara TOP Human Capital Award 2025 yang berlangsung di Raffles Hotel, Jakarta, Selasa (4/21/2025).
“Kita tentu ingin yang bekerja di perusahaan kita adalah orang-orang hebat. Maka muncul filosofi seperti apa yang disampaikan oleh Steve Jobs: ‘We hire smart people not to tell them what to do. But we hire smart people to let them tell us what to do‘,” ucap Yassierli mengawali paparannya di hadapan sekitar 400 audiens yang mewakili perusahaan pemenang TOP Human Capital Awards 2025.
Menteri Yassierli memaparkan sejumlah PR besar yang dihadapi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Ia menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja bukan hanya tanggung jawab Kemnaker, melainkan PR bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas kementerian teknis, seperti investasi, pertanian, dan hilirisasi.
Selain itu, tantangan lain yang menonjol adalah masalah link and match, di mana kompetensi tenaga kerja seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan industri. “Ini problem kita,” tegasnya. PR lainnya mencakup inklusivitas, penegakan regulasi dan norma K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), serta transformasi birokrasi internal Kemnaker sendiri.
Dari Human Resources menuju Human Potential
Yassierli menjelaskan bahwa pengelolaan tenaga kerja Indonesia sedang dalam perjalanan transformasi. “Seperti kita ketahui, kini muncul pula aspek meaningfull work, AI (artificial intelligence), personal growth, dan lain-lain, dalam dunia kerja,” kata dia.
Semua hal itu penting karena ada tantangan ke depan. Lanskap ketenagakerjaan berubah oleh adanya AI; sejumlah tuntutan demografi; dan green transition sustainibility.
Transformasi dilakukan dari Human Resource yang lebih fokus pada efisiensi, kepatuhan, dan penyederhanaan kepada Human Capital di mana sudah berbicara tentang talent mobility, pelatihan, engagement, dan pengembangan.
Namun ke depan, pengembangan SDM akan banyak berbicara tentang Human Potential. Inilah masa depan yang harus dipersiapkan dari sekarang. “Kita harus juga berbicara future. Kita berbicara human potential,” ujarnya.
Konsep Human Potential ini, menurut Yassierli, menjawab tren seperti meaningful work (pekerjaan yang bermakna), purpose, perlakuan yang unik untuk setiap individu, personal growth, dan motivasi intrinsik.
Tantangan Demografi dan Karakter Gen Z/Milenial
Salah satu poin yang mendapat perhatian khusus adalah perubahan demografi. Yassierli mengungkapkan bahwa 60% tenaga kerja Indonesia ke depan akan diisi oleh Generasi Milenial dan Gen Z.
“Dan kita akan bertemu dengan makhluk yang berbeda dengan apa yang pernah kita tangani sebelumnya,” ujarnya, disambut tawa audiens.
Ia mengingatkan para orang tua yang sering mendengar keluhan, “Bapak dan Ibu tidak mengerti kami.” Karakter inilah, kata dia, yang harus dipahami oleh dunia kerja. Survei menunjukkan, 97% dari generasi ini menganggap sense of purpose sangat penting untuk kepuasan kerja. Bahkan, 24% bersedia meninggalkan perusahaan jika dirasa perusahaannya tidak memiliki tujuan yang jelas.
“Driver mereka itu lebih dominan apa yang disebut dengan intrinsic motivation,” jelas Yassierli.
Kesenjangan Kompetensi dan Program Magang
Menyoroti data yang memprediksi 170 juta pekerjaan baru akan tercipta pada 2030, sementara 92 juta hilang, Yassierli menekankan pentingnya upskilling dan reskilling. Tantangan semakin besar mengingat 86% tenaga kerja Indonesia maksimal berlatar belakang pendidikan SMA/SMK.
Ia juga menyoroti dua keterampilan kunci masa depan: Learning Agility dan Design Thinking. Sayangnya, menurutnya, budaya di banyak perusahaan masih berorientasi jangka pendek untuk memenuhi KPI, sehingga investasi SDM sering terabaikan.
Sebagai salah satu solusi konkret, Yassierli kembali menggaungkan Program Magang Bersertifikat yang menargetkan 100.000 peserta. Dalam program ini, pemerintah membayar uang saku peserta magang selama 6 bulan sebesar Upah Minimum Provinsi (UMP).
“Kenapa magang ini penting? Giving them exposure,” tegasnya. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman dunia kerja yang nyata dan membangun growth mindset pada generasi muda.
Desain Ulang Organisasi dan Gaya Kepemimpinan
Yassierli mengkritik desain organisasi dan gaya kepemimpinan lama yang dianggapnya sudah tidak relevan. “Mentalitas kita adalah mentalitas yang dibangun dari generasi supervisor pabrik: ‘Hey, you do what I told you‘,” katanya.
Padahal, pekerjaan masa depan bersifat inovatif dan tidak terstruktur, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda. “Kotak organisasi yang kaku bisa menjadi tidak relevan untuk mereka.”
Ia pun mendorong semua pihak, terutama para pemimpin, untuk beradaptasi dengan esensi People Centric Organization. Pergeseran ini menjadi tanggung jawab bersama, mengingat generasi milenial dan Gen Z akan menjadi tulang punggung organisasi dan perusahaan di masa depan.
Di akhir sambutannya, Yassierli mengucapkan selamat kepada para pemenang Top Human Capital Award 2025 dan berharap ajang tersebut dapat terus menginspirasi pengelolaan tenaga kerja yang lebih baik.
