Jakarta, TopBusiness — Human capital tidak boleh lagi dipandang sebagai fungsi administratif atau sekadar pelengkap operasional perusahaan. Sumber daya manusia (SDM) harus menjadi mitra strategis bisnis (strategic business partner) untuk mendorong daya saing organisasi.
Hal itu disampaikan oleh praktisi SDM dalam acara puncak Top Human Capital Awards 2025, Umi Mahmudah Hani, dalam sesi berbagi pengetahuan tentang peran human capital dalam mendukung strategi bisnis perusahaan.
Menurut Umi, posisi human resources (HR) seharusnya “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” dengan divisi lain dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
“Human capital itu bukan ‘konco wingking’. HR harus duduk sejajar sehingga ketika mengambil keputusan posisinya sama. Setiap keputusan bisnis wajib mempertimbangkan aspek SDM,” ujar Umi yang juga anggota Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2025.
Umi menekankan bahwa profesional human capital tidak boleh hanya memahami rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan SDM. Mereka harus memiliki kompetensi bisnis yang komprehensif.
“Bagaimana kalau kita tidak bisa membaca laporan keuangan? Tidak memahami bisnis, marketing, atau IT? HR harus tahu bagaimana perusahaan menciptakan uang, siapa kompetitornya, dan bagaimana strategi bisnisnya,” katanya.
Ia menegaskan, HR yang efektif harus mampu menganalisis data bisnis, memahami laporan keuangan, dan terlibat aktif dalam pengembangan strategi perusahaan.
Kunci HR sebagai Strategic Partner
Umi menjelaskan, agar mampu menjadi mitra strategis, HR harus membangun beberapa kompetensi inti, antara lain mindset dan pemahaman bisnis, data literacy dan kemampuan analisis, kemampuan membangun pengaruh dan kolaborasi, eksekusi strategi yang konsisten, serta leadership dan agility.
Menurutnya, strategi dan visi hanya akan menjadi slogan jika tidak diiringi eksekusi yang nyata. “Percuma ada strategi, percuma ada visi-misi kalau action-nya tidak ada. Ukuran strategi sukses itu ketika implementasinya berjalan,” tegasnya.
Peran HR Menghadapi Dinamika Generasi dan Teknologi
Umi juga menyinggung perubahan karakter tenaga kerja lintas generasi, mulai dari baby boomers hingga Gen Z, yang menuntut pendekatan berbeda dalam pengelolaan SDM.
Selain itu, ia menyoroti urgensi pemahaman teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). “AI itu bukan musuh. Yang harus kita takutkan adalah kalau kita tidak meng-upgrade diri, maka kita akan digantikan oleh teman-teman yang mengerti AI,” ungkapnya.
Dengan pendekatan strategis dan berbasis data, HR diyakini mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, employee engagement, sekaligus membangun keunggulan kompetitif perusahaan.
“Human capital harus mampu menunjukkan kontribusinya secara kualitatif dan kuantitatif. HR yang kuat membangun daya juang perusahaan dan membedakan organisasi dari kompetitornya,” tandas Umi.
