Jakarta, TopBusiness – Laporan terbaru Deloitte menunjukkan bahwa pasar penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering atau IPO) di Asia Tenggara selama tahun ini 2025 ini paling banyak terjadi di Malaysia. Kemudian posisi kedua baru disusul pasar modal Indonesia.
Malaysia memimpin dari sisi jumlah banyaknya IPO, dengan 48 IPO yang menghimpun US$1,1 miliar atau Rp 18,33 triliun — sebagian besar melalui ACE Market.
Meskipun mengalami penurunan di total dana IPO terhimpun, market capitalization IPO, dan jumlah pencatatan IPO, Malaysia tetap on track untuk mencapai target 60 IPO di akhir tahun ini.
“Kinerja ini didorong oleh kepercayaan investor yang tetap solid serta pipeline perusahaan yang terus bertambah untuk menghimpun modal melalui bursa saham,” Wong Kar Choon, Capital Markets Services Partner, Deloitte Malaysia, dalam konferensi pers, Selasa (18/11/2025).
Sektor produk industri dan konsumer tetap memberika performa terbaik, dengan THMY Holdings Berhad dan Oriental Kopi Holdings Berhad mencatat debut yang kuat dan kenaikan harga pada hari pertama sebesar 193,55% dan 98,86%.
Malaysia juga mencatat secondary listing pertama dari UMS Integration Ltd, perusahaan yang sebelumnya telah tercatat di SGX. Selain itu, Cuckoo International (MAL) Berhad — anak perusahaan dari Cuckoo Holdings Co Ltd yang terdaftar di Korea — turut melantai di bursa Malaysia.
“Pipeline IPO Malaysia sangat beragam, dengan aktivitas signifikan di sektor barang consumer (consumer goods), produk industri, serta energi dan sumber daya, berkat dukungan insentif pemerintah dan meningkatnya minat investor,” katanya.
Meski terdapat ketidakpastian geopolitik, tarif perdagangan yang berdampak pada perusahaan yang berorientasi ekspor, serta tekanan pada supply chain, perusahaan-perusahaan konsumer yang sudah mapan tetap menjadi tulang punggung pasar IPO dan lanskap ekonomi Malaysia.
“Pasar IPO Malaysia pada 2025 ditandai oleh keberagaman sektor yang kuat, sentimen investor yang positif, dan lingkungan regulasi yang mendukung, menjadikannya pasar modal yang tangguh sekaligus tujuan yang menarik bagi IPO di Kawasan Asia Tenggara,” lanjutnya.
Sementara di Indonesia, terdapat 24 IPO dengan total dana yang dihimpun sebesar US$ 921 juta (Rp 15,35 triliun). Sektor energi dan sumber daya menjadi penyumbang dana terbesar, dengan aktivitas IPO mencakup perusahaan minyak dan gas, energi terbarukan, serta jasa penunjang pertambangan.
Kinerja ini terutama didorong oleh pencatatan PT Merdeka Gold Resource Tbk dan PT Chandra Data Investasi Tbk, yang masing-masing menghimpun US$279 juta (Rp 4,65 triliun) dan US$144 juta (Rp 2,4 triliun).
Posisi berikutnya ditempati sektor real estat, didukung oleh pencatatan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk, perusahaan yang berafiliasi dengan Agung Sedayu Group, salah satu pengembang properti terintegrasi terbesar di Indonesia. Sektor konsumer berada di peringkat ketiga, dipimpin oleh pencatatan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk.
Tay Hwee Ling, Capital Markets Services Leade, Deloitte Southeast Asia mengatakan, aktivitas IPO di Indonesia didorong oleh sektor industri, energi, konsumer, dan layanan kesehatan, dengan preferensi investor yang kuat terhadap perusahaan yang memiliki fundamental kuat, prospek jangka panjang, dan dukungan pemerintah.
“Sektor infrastruktur dan energi, khususnya energi terbarukan, juga mencatat peningkatan minat seiring meningkatnya pipeline proyek strategis Indonesia dan percepatan transisi menuju energi bersih,” kata Tay.
Hwee Ling menambahkan, meskipun sentimen pasar menguat setelah pemilu, investor tetap berhati-hati di tengah tekanan makroekonomi seperti penurunan harga komoditas, ketegangan perdagangan global, dan penyesuaian tenaga kerja.
“Pipeline IPO pada kuartal IV 2025 mencakup perusahaan teknologi, logistik, dan jasa keuangan, yang diperkirakan menarik minat besar apabila mereka mampu menunjukkan profitabilitas dan ketahanan yang jelas,” katanya.
Adapun dari nilai dana terhimpun, IPO di Singapura menempati posisi teratas pasar IPO Asia Tenggara. Dengan sembilan IPO dana yang dikumpulkan US$1,6 miliar atau Rp 26,67 triliun, dalam 10,5 bulan pertama tahun ini.
Kinerja ini didorong oleh dua IPO Real Estate Investment Trust (REIT) berskala besar — NTT DC REIT dan Centurion Accommodation REIT — yang diuntungkan oleh reformasi regulasi yang memperbaiki sentimen pasar.
Didorong oleh dua transaksi besar tersebut, masing-masing bernilai lebih dari US$500 juta dan secara kolektif menyumbang 88% dari total dana terhimpun, pasar IPO Singapura mencatat perolehan tertinggi sejak 2019.
“Pasar modal Singapura menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan yang konsisten, didukung oleh meningkatnya tren pencatatan IPO di bursa utama serta dua secondary listing — China Medical System Holdings Limited dan AvePoint Inc. Kinerja pasca-IPO juga terlihat kuat, dengan kenaikan harga saham pada hari pertama sebesar 12% dan kenaikan tahun berjalan sekitar 29%,” kata Tay.
Di sisi lain, Vietnam mencatat dua IPO besar di sektor keuangan — Techcom Securities Joint Stock Company dan VP Bank Securities — yang secara kolektif berhasil menghimpun dana sebesar US$1 miliar (Rp 16,67 triliun). Pencapaian ini membuka jalan bagi siklus pertumbuhan baru bagi pasar IPO Vietnam setelah bertahun-tahun mengalami stagnasi sejak 2018.
Trinh Bui, Capital Markets Services Partner, Deloitte Vietnam mengatakan, pasar IPO Vietnam tengah memasuki siklus baru dengan deretan rencana penawaran berkualitas tinggi di sektor keuangan, real estat, ritel, pertanian, dan teknologi.
“Kebangkitan ini didorong oleh pertumbuhan makroekonomi yang solid, serta didukung oleh kebijakan moneter yang akomodatif dan pengelolaan nilai tukar yang fleksibel. Klasifikasi baru Vietnam sebagai Secondary Emerging Market yang akan berlaku pada September 2026 menjadi tonggak penting yang diperkirakan akan membuka aliran modal asing yang signifikan dan semakin memperkuat optimisme investor,” ujar Trinh.
