TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Outlook Ekonomi 2026: Indonesia dan Filipina bakal Catatkan Pertumbuhan Paling Tinggi

Busthomi
12 December 2025 | 16:28
rubrik: Ekonomi
FOTO – 30.137 Pekerja di Jakarta Kena PHK

Foto: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Mastercard Economics Institute (MEI) baru saja merilis Outlook Ekonomi 2026 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan Asia Pasifik diperkirakan tetap stabil meski perekonomian global tengah beradaptasi terhadap perubahan tarif yang cepat, percepatan investasi kecerdasan buatan (AI), serta tren konsumen yang terus berkembang.

Secara global, MEI memproyeksikan pertumbuhan PDB riil dunia akan sedikit melambat menjadi 3,1 persen pada 2026, dibandingkan perkiraan 3,2 persen pada 2025.

MEI mencatat bahwa outlook ekonomi global 2026 dibentuk oleh kombinasi faktor risiko dan peluang. Stimulus fiskal serta kemajuan teknologi yang pesat—khususnya integrasi AI dalam operasi bisnis—diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan, meski manfaatnya tidak akan merata di seluruh kawasan.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang berlanjut dan rekonfigurasi rantai pasok menciptakan fragmentasi baru, menambah ketidakpastian dalam perdagangan dan produksi. Distribusi manfaat teknologi yang tidak merata juga berpotensi menciptakan hambatan kebijakan dan pertumbuhan di sejumlah pasar.

Di tengah tantangan yang kompleks ini, MEI memperkirakan pertumbuhan PDB Asia Pasifik akan tetap terjaga pada 2026. Kombinasi inflasi yang mereda, kebijakan moneter yang lebih akomodatif, serta peningkatan pendapatan riil di beberapa pasar mendorong perbaikan ekonomi rumah tangga dan memperkuat stabilitas kawasan.

Konsumen diperkirakan tetap tech-enabled namun makin cermat dalam berbelanja, mengutamakan pengalaman yang bermakna seperti travel dan live experiences, sembari tetap sensitif terhadap harga kebutuhan pokok.

Sektor pariwisata terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi penting, dengan pariwisata mancanegara maupun intra-regional terus menunjukkan peningkatan.

“Sebagai pusat perdagangan global, Asia Pasifik menunjukkan ketahanan yang luar biasa di saat ketidakpastian tarif dan pergeseran rantai pasok berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional,” kata David Mann, Chief Economist, Asia Pasific, Mastercard, dalam rilisnya, Jumat (12/12/2025).

BACA JUGA:   Pasar Potensial Asean: Kota Menengah-Kecil

“Prospek konsumen yang tetap positif di banyak pasar Asia Pasifik menjadi ciri penting tahun 2026: meski realokasi perdagangan dan perubahan teknologi mendominasi narasi global, kondisi mikroekonomi di kawasan justru semakin membaik. Bagi pelaku usaha, memahami tren permintaan yang mendasari ini akan menjadi krusial,” imbuh David.

Outlook Asia Pasifik: Sorotan 2026

Tiongkok diproyeksikan tumbuh 4,5 persen, dengan konsumsi yang menguat sepanjang tahun seiring berkembangnya kategori “konsumsi baru” seperti kecantikan dan wellness, peningkatan gaya hidup, dan collectible berbasis fandom—didukung oleh potensi penurunan suku bunga serta stimulus fiskal dalam rencana pembangunan lima tahun berikutnya.

Pergeseran menuju “trading smart”—di mana konsumen mencari kualitas dan pengalaman unik, bukan hanya harga murah—mendorong transformasi ritel dan kanal digital, khususnya di kota Tier 3–4 seperti Yantai dan Luoyang.

Asia Selatan mempertahankan momentum kuat. India diperkirakan tumbuh 6,6 persen didukung permintaan domestik, pelonggaran moneter, serta pertumbuhan sektor digital dan jasa.

Sri Lanka diproyeksikan tumbuh 3,7 persen berkat konsumsi swasta, peningkatan devisa pariwisata, dan kebijakan moneter yang akomodatif. Sementara Bangladesh diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen, ditopang inflasi yang mereda dan arus masuk remitansi meski tantangan struktural tetap ada.

Jepang diperkirakan tumbuh 1,0 persen, dengan pendapatan riil yang meningkat serta sentimen rumah tangga yang lebih kuat menggeser ekonomi menuju siklus yang lebih berkelanjutan berbasis upah.

Investasi strategis di bidang AI, semikonduktor, dan ketahanan energi terus berjalan, sementara kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif membantu meredam tekanan dari perlambatan ekspor akibat tarif AS.

ASEAN-5 menunjukkan kinerja yang bervariasi. Indonesia dan Filipina diperkirakan tetap menjadi negara dengan pertumbuhan tercepat di kawasan ini, masing-masing 5,0 persen dan 5,6 persen.

BACA JUGA:   Kemenperin Terus Dorong Hilirisasi Industri

Malaysia dan Singapura diperkirakan tumbuh stabil pada 4,2 persen dan 2,2 persen, sementara Thailand diproyeksikan 1,8 persen. Risiko utama mencakup volatilitas harga energi serta perubahan permintaan global yang dapat mempengaruhi lapangan kerja.

Australia dan Selandia Baru diproyeksikan tumbuh 2,3 persen dan 2,4 persen seiring meredanya tekanan biaya dan penurunan suku bunga yang meningkatkan belanja rumah tangga. Pengeluaran untuk pengalaman, mulai dari perjalanan wisata hingga hiburan, tetap menjadi pendorong utama pemulihan.

Pergeseran Perdagangan

Perdagangan global terus beradaptasi pasca perubahan tarif pada 2025, dengan Tiongkok semakin mendiversifikasi ekspornya ke koridor baru setelah porsi penjualan e-commerce ke AS turun dari 28 persen pada 2024 menjadi 24 persen pada Agustus 2025.

Sementara terkait AI, analisis MEI menunjukkan, adopsi AI serta dukungan kebijakan fiskal terarah akan menjadi pendorong penting pada 2026. Dalam AI Spending Index milik MEI, Korea Selatan, Jepang, India, dan Hong Kong SAR menunjukkan momentum kuat baik pada sisi korporasi maupun konsumen.

Adaapun tekait tren sektor pariwisata, disebut dia, pariwisata tetap menjadi salah satu pendorong ekonomi paling tangguh di Asia Pasifik.

Pada semester pertama 2025, belanja outbound Singapura tercatat USD 2,7 miliar lebih tinggi dibanding 2019, sementara Indonesia dan Filipina memimpin pertumbuhan kawasan dengan peningkatan belanja perjalanan keluar negeri masing-masing sebesar 40 persen dan 28 persen.

Pariwisata inbound di Jepang dan beberapa negara ASEAN telah kembali normal, sementara perjalanan intra-regional terus meningkat seiring konsumen memprioritaskan experience dibanding barang. Tren ini menggarisbawahi kekuatan sektor jasa Asia Pasifik dan kontribusinya terhadap prospek ekonomi kawasan yang lebih luas.

“Meski prospek Asia Pasifik secara umum positif, kawasan tetap menghadapi rangkaian risiko yang kompleks pada 2026—mulai dari fragmentasi perdagangan dan tekanan tarif yang berkelanjutan, hingga guncangan eksternal dan kesenjangan kemajuan teknologi,” pungkas Mann.

Tags: analisis mastercardeconomy outlookpertumbuhan ekonomi
Previous Post

Kanada Kuatkan Kerjasama Agrifood dengan RI

Next Post

Inovasi Efisiensi Energi, Chandra Asri Group Gaet Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR