Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia hingga sesi penutupan perdagangan Senin (12/01/2026) berkurang 52,03 poin atau setara dengan 0,58% ke level 8.884. Penurunan ini terjadi meskipun indeks sempat membuat reli kuat pada awal sesi.
Pelemahan indeks komposit Jakarta itu terjadi seiring meningkatnya aksi ambil untung (profit taking) oleh investor, menyusul reli kuat dalam beberapa hari terakhir. Tekanan jual semakin terasa pada sesi perdagangan kedua, sehingga indeks berbalik arah dari zona hijau ke zona merah menjelang penutupan.
Pada awal sesi, IHSG dibuka menguat dan menunjukkan optimisme pasar. Indeks sempat mencatatkan penguatan signifikan hingga mendekati level tertinggi harian. Namun, memasuki siang hingga sore hari, tekanan jual mulai mendominasi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar, mencerminkan tingginya volatilitas dan kehati-hatian investor dalam mengambil posisi menjelang penutupan pasar.
Aktivitas transaksi di pasar saham tercatat tetap tinggi. Nilai transaksi mencapai hampir Rp40 triliun, dengan volume perdagangan lebih dari 70 miliar saham. Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan harga lebih banyak dibandingkan saham yang menguat, menandakan tekanan pasar yang cukup luas.
Pelemahan terjadi di berbagai sektor, dengan sektor energi, infrastruktur, teknologi, dan konsumer menjadi penekan utama pergerakan indeks pada penutupan perdagangan.
Analis menilai pelemahan IHSG hari ini lebih disebabkan oleh faktor teknikal, terutama aksi ambil untung setelah indeks menyentuh level penting secara psikologis. Selain itu, investor cenderung bersikap wait and see terhadap perkembangan sentimen global serta arah kebijakan ekonomi ke depan.
Meski demikian, kondisi fundamental pasar dinilai masih relatif solid, sehingga koreksi yang terjadi saat ini dianggap sebagai bagian dari proses konsolidasi yang wajar.
Data: AI
