TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tekanan Dolar Tak Berhenti, Rupiah Diproyeksi Bergerak di Zona Rawan Pekan Depan

Busthomi
16 January 2026 | 09:31
rubrik: Ekonomi
Kurs Rupiah Terkerek Kenaikan Peringkat Moody’s

ilustrasi perdagangan valas. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — Nilai tukar rupiah kembali mencatat pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jelang pekan transaksi baru. Pada perdagangan 15 Januari 2026, rupiah dibuka di kisaran sekitar Rp16.840 per USD, seiring laju dolar AS yang masih menunjukkan kekuatan relatif dalam pasar global.

Sentimen global menjadi salah satu pendorong utama pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Indeks dolar AS telah menguat terhadap sekeranjang mata uang utama, mencerminkan preferensi investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.

Selain itu, proyeksi analis pasar juga menunjukkan rentang pergerakan volatil bagi rupiah sepanjang 2026. Sejumlah lembaga riset dan pengamat ekonomi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.000 sampai lebih dari Rp17.000 per USD di pekan depan, tergantung dinamika global, arus modal, dan kondisi fundamental ekonomi domestik.

Menanggapi perkembangan ini, Ibrahim Assuaibi selaku Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas melihat bahwa pergerakan rupiah tahun ini tidak lepas dari pengaruh kombinasi faktor eksternal dan internal.

“Pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS di pasar global, volatilitas pasar komoditas, dan persepsi risiko investor terhadap aset negara berkembang. Ketegangan geopolitik turut menambah tekanan pada mata uang seperti rupiah, yang cenderung sensitif terhadap sentimen global,” ujar Ibrahim Assuaibi, dikutip Jumat (16/1/2026).

Ibrahim menambahkan bahwa dinamika kebijakan moneter AS, terutama ekspektasi suku bunga, berpotensi bermain lebih dominan di semester pertama 2026. Secara tradisional, rupiah akan cenderung mengalami tekanan ketika impor modal portofolio keluar dari pasar negara berkembang menuju aset berdenominasi dolar yang menawarkan yield lebih tinggi.

“Jika The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama atau bahkan belum memulai siklus penurunan suku bunga secara agresif, maka tekanan atas rupiah bisa berlanjut dan cenderung bergerak di level yang lebih lemah dibandingkan akhir 2025,” tambah Ibrahim.

BACA JUGA:   Ini Prediksi Terbaru Makro Ekonomi RI

Dari sisi domestik, Ibrahim juga mencermati pentingnya peran faktor ekonomi riil Indonesia dalam menahan volatilitas nilai tukar. Ia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi yang stabil dan aliran modal asing masuk, khususnya pada pasar saham dan surat utang negara, mampu meredam tekanan nilai tukar jangka menengah.

“Kinerja ekonomi Indonesia — ditopang surplus neraca perdagangan dan stabilitas makro — memberi ruang bagi rupiah untuk menahan pelemahan. Namun, fundamental perlu terus diperkuat agar tidak terjadi tekanan berlarut pada pasar valuta asing,” jelasnya.

Pengamat ini melihat bahwa rentang nilai tukar rupiah sampai akhir 2026 akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, arus modal, serta kebijakan domestik yang pro-investasi.

Proyeksi sektor independen seperti BRIN menyatakan rupiah bisa bergerak antara Rp16.678 sampai Rp17.098 per USD, sedangkan proyeksi bank sentral atau regulator domestik melihat potensi stabil di kisaran Rp16.000–Rp16.500.

Investasi dan pasar modal turut merespon fluktuasi ini. Pelaku pasar diperkirakan akan terus memonitor data ekonomi AS, keputusan suku bunga The Fed, serta perkembangan domestik seperti inflasi dan investasi asing yang berdampak langsung terhadap aliran modal.

Dengan berbagai faktor tersebut, tahun 2026 dipandang Ibrahim sebagai tahun volatil namun berpeluang tersentralisasi, tergantung pada arah kebijakan moneter global, strategi intervensi Bank Indonesia, dan persepsi risiko investor terhadap aset Indonesia.

Tags: kurs rupiahpasar uangrupiah
Previous Post

Bersekongkol Goreng Saham SWAT, OJK Kirim Tersangka ke JPU

Next Post

Ini Aliran Modal Asing Pekan Kedua Januari

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR