Jakarta, TopBusiness – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis studi Kajian Dampak Ekonomi Subsidi Transjakarta.
Hal ini seperti disebutkan Muhammad Halley Yudhistira PhD., Head Of Transport, Real Estate, and Urban Studies Project Leader Kajian Dampak Ekonomi Transjakarta dalam sesi diskusi “Diseminasi Kajian Dampak Ekonomi Transjakarta,” di Jakarta, seperti dikutip dari keterangan resmi, Minggu (15/2/2026).
Menurut Halley, studi ini menunjukkan bahwa Sepanjang 2015–2024, aktivitas Transjakarta menciptakan Rp73,8 triliun output ekonomi nasional, dengan nilai Rp62,4 triliunnya ada di DKI Jakarta.
Studi ini juga menjelaskan bahwa Transjakarta mendorong penghematan biaya transportasi hingga Rp174,4 ribu per bulan bagi warga DKI Jakarta, dan Rp245,5 ribu per bulan di wilayah Non-DKI.
“Ini berarti setara dengan proporsi pengeluaran untuk konsumsi buah-buahan dan sekitar setengah dari konsumsi beras bulanan,” ujar dia.
Dalam studi ini, ditemukan juga bahwa layanan Transjakarta juga menciptakan sekitar 32 ribu lapangan kerja setiap tahunnya. Serta juga membantu menurunkan kadar polutan berbahaya seperti PM₂.₅, CO, NO₂, dan SO₂.
Studi dirilis melalui forum diseminasi di Aula MPKP FEB UI, Kampus UI Salemba yang dihadiri oleh Suharini Eliawati (Asisten Perekonomian dan Keuangan Setda Provinsi DKI Jakarta), Nova Harian Paloh (Ketua DPRD Komisi B DKI Jakarta), Bambang Arianto (Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta).
Juga ada David Tjahyana (Advisor Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional), dan Fariz Egia Gamal (content creator urbanisme yang mewakili suara pelanggan Transjakarta), dan juga para Akademisi Universitas Indonesia, SKPD Pemprov DKI Jakarta, NGO dan komunitas.
Halley Yudhistira menutup forum dengan menegaskan, “Transportasi adalah tulang punggung sekaligus urat nadi perekonomian.”
“Semakin baik transportasinya, semakin sehat urat nadinya, semakin kuat jantungnya, dan semakin lancar aktivitas kotanya,” pungkas Halley.
