Jakarta, BusinessNews Indonesia – Pasar saham Indonesia pada penutupan perdagangan hari ini (Rabu, 4/4/2018) turun cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 71 poin atau 1,15% ke 6.157.
Menutup perdagangan, ada 113 saham menguat, 262 saham melemah, dan 106 saham stagnan. Sore ini, transaksi perdagangan mencapai Rp6,39 triliun dari 8,53 miliar lembar saham diperdagangkan.
Indeks LQ45 turun 13 poin atau 1,35% menjadi 1.003, Jakarta Islamic Index (JII) melemah 6,14 poin atau 0,86% ke 708, indeks IDX30 turun 8,01 poin atau 1,44% ke 547 dan indeks MNC36 terkoreksi 4,15 poin atau 1,2% ke 342.
Sektor-sektor penggerak IHSG kompak melemah, dengan sektor tambang turun paling dalam 2,14%. Menyusul sektor tambang, sektor keuangan juga turun 1,78% dan sektor aneka industri turun 1,35%.
Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) naik Rp56 atau 24,35% ke Rp286, saham PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI) naik Rp26 atau 13,98% ke Rp212, dan saham PT Intikeramik Alamasari Industries Tbk (IKAI) naik Rp52 atau 11,61% ke Rp500.
Sedangkan saham-saham yang berada di deretan top losers, antara lain Saham PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) turun Rp40 atau 14,71% ke Rp232, saham PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk turun Rp11 atau 7,48% ke Rp136, dan saham PT Tanah Laut Tbk (INDX) turun Rp10 atau 7,09% ke Rp131.
Bursa Asia
Di wilayah Asia lainnya, hanya bursa saham Jepang yang ditutup menguat, dengan indeks Topix naik 0,14% atau 2,33 poin ke level 1.706,13, sedangkan indeks Nikkei 225 ditutup naik 0,13% atau 27,26 poin ke level 21.319,55.
Sementara itu, indeks Kospi Korsel berakhir melemah 1,41%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing turun 0,18% dan 0,2%.
Ketegangan perdagangan sekali lagi menjadi fokus yang menggerakkan pasar saham Asia di tengah meningkatnya retorika proteksionis antara dua negara dengan ekonomi teratas dunia.
Pasar telah dilanda kekhawatiran perang perdagangan yang berkembang antara AS dan China terhadap kemungkinan langkah-langkah yang memiliki dampak yang berarti pada pertumbuhan global.
“Kuncinya adalah apakah ada konfrontasi, atau dialog,” kata Richard Titherington, kepala investasi untuk pasar negara berkembang dan ekuitas Asia-Pasifik di JPMorgan Asset Management, seperti dikutip Bloomberg.
“Selama kita tidak melihat peningkatan yang sangat signifikan dalam proteksionisme perdagangan dan dolar tetap stabil, saham Asia dan pasar negara berkembang lebih luas akan tetap menguat,” katanya di Bloomberg Television.
