Jakarta, TopBusiness — PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan wilayah berbasis lingkungan dan ekonomi lokal di Dusun Gunungsari, Desa Ngesrepbalong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Program tersebut dijalankan melalui pendekatan rantai nilai (value chain) yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, serta transfer pengetahuan kepada warga setempat.
Senior Manager Unit PT PLN Indonesia Power UBP Semarang, Flavianus Erwin Putranto, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari berbagai permasalahan yang sebelumnya dihadapi masyarakat di kawasan tersebut, seperti penebangan liar, dampak perubahan iklim, konflik pengelolaan sampah antar dusun, hingga budidaya kopi yang belum terintegrasi dengan baik.
“Berbagai persoalan sebelumnya muncul, mulai dari penebangan liar, perubahan iklim, konflik sampah antar dusun, hingga budidaya kopi yang belum terintegrasi. Karena itu kami mencoba menggerakkan masyarakat secara bersama-sama agar dapat menemukan solusi yang berkelanjutan,” ujar Erwin kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2026 yang berlangsung secara daring di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut turut hadir Assistant Manager Keamanan dan Humas PLN Indonesia Power UBP Semarang Retno Wulandari, Officer Community Development Dadan Budiansyah, Officer Lingkungan MNH Fadli Zaka, serta Community Development Officer Siti Imroatus S.
Melalui program yang dikenal sebagai Kembang Desa, PLN Indonesia Power memanfaatkan limbah non-bahan berbahaya dan beracun (non-B3) sekaligus melakukan transfer pengetahuan kepada masyarakat. Salah satu implementasinya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang ramah lingkungan.
Selain penguatan di sektor energi terbarukan, perusahaan juga menggandeng berbagai kelompok masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal. Salah satunya melalui kerja sama dengan Kelompok Tani (KT) Berkah Wana Lestari dalam pengembangan budidaya kopi.
Hasil produksi kopi tersebut kemudian dikelola dan dipasarkan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kopi Endemica. Produk kopi lokal itu juga didukung oleh keberadaan Cafe Pucu’e Kendal yang dikelola masyarakat setempat di kawasan wisata desa.
Di sisi lain, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dari program ini. PLN Indonesia Power bekerja sama dengan Karang Taruna dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunungsari yang mengelola kawasan wisata Pucu’e Kendal.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan potensi wilayahnya, baik di sektor pariwisata, lingkungan, maupun ekonomi kreatif,” kata Erwin.
Program ini juga mencakup berbagai kegiatan konservasi lingkungan melalui Inisiatif Konservasi Regional (IKR), termasuk konservasi mata air serta pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang dan DAS Blorong yang dilaksanakan secara bertahap pada tahun 2024 hingga 2025.
Seiring berjalannya waktu, berbagai inisiatif yang dijalankan mulai menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah destinasi wisata berbasis alam dan edukasi mulai berkembang, seperti Wisata Curug Lawe Secepit, area coffee washing process atau pengolahan kopi, serta Kebun Hidup Kopi yang menjadi pusat edukasi budidaya kopi bagi masyarakat dan pengunjung.
Di bidang pengelolaan lingkungan, Bank Sampah Gunungsari juga semakin aktif dalam menggerakkan masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan.
Tidak hanya itu, masyarakat juga mengembangkan produk kreatif berbasis sumber daya alam lokal melalui kegiatan batik dan ecoprint Puspandari. Program ini dijalankan oleh KT Berkah Wana Lestari bersama UMKM Omah Sawah, yang melibatkan berbagai kegiatan edukatif seperti pembibitan tanaman, pengolahan daun Indigovera sebagai pewarna alami, budidaya anggrek, hingga pelatihan membatik dan teknik ecoprint.
Menurut Erwin, pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat tersebut mulai memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan warga.
“Melalui berbagai program ini, risiko bencana seperti banjir dan longsor mulai berkurang, kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan meningkat, serta peluang ekonomi baru bagi masyarakat juga semakin terbuka,” ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut diharapkan mampu mendorong pemulihan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
“Harapannya, kawasan ini dapat berkembang menjadi wilayah yang mandiri secara ekonomi sekaligus mampu menjaga kelestarian lingkungan sehingga pemulihan ekonomi masyarakat dapat berlangsung secara berkelanjutan,” kata Erwin.
Melalui sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, Dusun Gunungsari kini mulai bertransformasi menjadi kawasan yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi wilayah.
