Jakarta, TopBusiness — PT Pupuk Kujang mengungkap berbagai hal terkait inisiatif CSR yang dijalankan saat sesi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring, Selasa (31/3/2026).
Sesuai tema yang diangkat ‘Aligning CSR & ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development’, Pupuk Kujang menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan program CSR perusahaan dengan prinsip ESG guna menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Didirikan pada 9 Juni 1975 di Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Pupuk Kujang terus memperkuat posisinya sebagai pemain regional di bidang agrosolusi dan turunan bahan kimia. Hal tersebut sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi “Regional Player dalam Agrosolusi dan Turunan Bahan Kimia” dengan misi menghadirkan produk dan layanan yang berkelanjutan, kompetitif, serta didukung lingkungan kerja profesional dan efektif.
VP TJSL Pupuk Kujang, Agung Gustiawan, menegaskan bahwa transformasi perusahaan tidak hanya berfokus pada bisnis inti, tetapi juga pada integrasi program sosial yang berdampak luas.
“Kami ingin menunjukkan bagaimana program CSR di Pupuk Kujang tidak hanya sekadar kewajiban sosial saja, melainkan sudah terintegrasi penuh dan selaras dengan strategi bisnis perusahaan,” ujarnya di hadapan dewan juri TOP CSR Awards 2026.
Sebagai produsen pupuk, Pupuk Kujang menghasilkan beragam produk, mulai dari pupuk subsidi dan non-subsidi, pupuk organik hingga non-organik. Operasionalnya didukung sejumlah pabrik yang memproduksi urea, amonia, NPK, hingga CO2 cair, serta diperkuat oleh anak perusahaan.
Dalam menjalankan transformasi bisnis, perusahaan mengusung lima pilar utama, yakni Customer Centric Model, R&D and Innovation Driven, Excellence in Operations and Supply Chain, Feedstock Security and Optimization, serta Sustainability and Circular Economy.
Pilar-pilar tersebut menjadi fondasi dalam memperkuat daya saing sekaligus memastikan keberlanjutan usaha. Hasilnya, Pupuk Kujang berhasil meraih berbagai penghargaan CSR tingkat nasional dan internasional, termasuk predikat Proper Emas sebanyak tiga kali sejak 2022.
CSR Terintegrasi
Seperti dikatakan Agung, implementasi CSR di Pupuk Kujang memiliki kerangka kerja yang jelas dan terstruktur, dimulai dari kepatuhan terhadap regulasi pemerintah hingga berdampak langsung pada operasional bisnis.
“Landasan utama program kami adalah kepatuhan terhadap regulasi pemerintah, secara spesifik mengacu pada Permen BUMN No. 1/MBU/03/2023,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan menjadikan nilai inti BUMN AKHLAK sebagai pedoman dalam menjalankan program sosial, serta menurunkannya ke dalam kebijakan internal berbasis harmonisasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Untuk memastikan implementasi berjalan optimal, perusahaan membentuk tim khusus Creating Shared Value (CSV) sejak 2022 yang bekerja berdasarkan SOP terstandarisasi. Pendekatan ini memungkinkan program CSR tidak hanya bersifat filantropi, tetapi mampu menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan masyarakat.
“Sebagai contoh nyata CSV, pemberdayaan petani binaan telah berdampak langsung pada peningkatan penjualan Pupuk NPK Jeranti,” tambah Agung.
Pupuk Kujang juga merancang program CSR yang responsif terhadap isu global, khususnya ancaman perubahan iklim terhadap ketahanan pangan.
Salah satu program unggulan adalah Kuwatan Sadesa (Kujang Merawat Hutan Sejahterakan Desa) yang mengedepankan pertanian regeneratif. Program ini tercatat mampu menyerap emisi karbon sebesar 418.000 kg CO2 equivalent per tahun.
“Operasional CSR kami di lapangan benar-benar merespon isu-isu strategis dan menciptakan nilai tambah, baik bagi lingkungan, masyarakat, maupun perusahaan,” ujarnya.
Program tersebut juga disinergikan dengan Demplot Agrosolution untuk mengedukasi petani terkait praktik pertanian terbaik sekaligus membuktikan efektivitas produk perusahaan di lapangan.
Tak hanya itu, pendekatan inklusif juga menjadi perhatian utama dengan melibatkan kelompok rentan seperti pengangguran dan buruh tani dalam program pemberdayaan.
Sistem Monitoring dan Dampak Terukur
Untuk memastikan efektivitas program, Pupuk Kujang menerapkan sistem monitoring dan evaluasi secara berkala. Setiap program diukur tidak hanya dari sisi output, tetapi juga outcome dan dampaknya.
Perusahaan menggunakan parameter objektif seperti Social Return on Investment (SROI), indeks kepuasan masyarakat, hingga pengukuran berbasis Malcolm Baldrige.
“Program yang baik harus bisa diukur. Oleh karena itu, kami melakukan monitoring dan evaluasi secara periodik,” kata Agung.
Selain itu, transparansi dijaga melalui dokumentasi lengkap, termasuk Berita Acara Serah Terima Bantuan (BAST) serta publikasi rutin di berbagai platform.
Dalam implementasinya, seluruh program CSR Pupuk Kujang mengacu pada standar ISO 26000 tentang tanggung jawab sosial. Kepatuhan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari lingkungan, hak asasi manusia, hingga praktik ketenagakerjaan.
“Kepatuhan terhadap ISO 26000 di Pupuk Kujang bukanlah dari Departemen TJSL saja. Ini adalah komitmen lintas divisi,” tegasnya.
Di sisi lingkungan, perusahaan menjalankan program net zero emission melalui pengembangan green ammonia, pemanfaatan CO2, penanaman mangrove, serta pengelolaan taman keanekaragaman hayati.
Selanjutnya, pada aspek human rights, perusahaan mengesahkan perjanjian kerja bersama dengan SP2K hingga tahun 2027 ini.
“Sebagai serikat yang mewadahi para karyawan Pupuk Kujang, pada aspek praktis, perusahaan terus melakukan pelatihan pengembangan terhadap kompetensi karyawan seperti Pelatihan Limbah B3, pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja,” jelas Agung.
Lalu pada aspek Customer Issue, Agung mengatakan bahwa melalui program Makmur, perusahaan melakukan pendampingan secara intensif bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan melalui penciptaan ekosistem.
“Kami menyelaraskan program untuk mendukung program Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang berisi mengenai 8 poin mencakup ideologi dan demokrasi. Sebagai bagian dari ekosistem industri pupuk, kontribusi terbesar kami kepada negara tentu di sektor pangan. Program ini secara langsung mendukung agenda pemerintah dalam menciptakan ketahanan dan kemandirian pangan,” ungkap Agung.
Seluruh inisiatif tersebut juga berkontribusi terhadap 14 dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Pemberdayaan Berbasis Kawasan
Pupuk Kujang menjalankan program pemberdayaan berkelanjutan di sejumlah wilayah di Jawa Barat, seperti Kampung Nanasku di Subang, Kuwatan Sadesa di Bandung, serta Tangkar Bagia di Karawang.
Program ini telah berjalan sejak 2022 hingga 2024 dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan kemandirian masyarakat.
“Indikator utama sebuah pemberdayaan CSR adalah ketika masyarakat tidak lagi bergantung pada perusahaan,” jelas Agung.
Salah satu dampak nyata terlihat pada peningkatan hasil panen kopi petani binaan, dari sebelumnya 0,7 kg per pohon menjadi 2,5 hingga 3 kg per pohon. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan inovasi sosial di sektor rempah dan budidaya lebah.
Melalui berbagai program tersebut, Pupuk Kujang menegaskan bahwa tujuan utama CSR bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan menciptakan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
“Pada akhirnya tujuan dari seluruh program CSR Pupuk Kujang adalah melihat senyuman kemandirian masyarakat,” pungkas Agung.
