Jakarta, TopBusiness – PT Komatsu Remanufacturing Asia (KRA) atau Reman memperkuat komitmen keberlanjutan melalui berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan.
Inisiatif tersebut dipaparkan manajemen KRA dalam sesi presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (16/4/2026).
Membawakan materi presentasi berjudul KRA’s Program CSR UMKM Eksis, tim KRA diwakili oleh Hendy Nugroho (General Manager Human Capital and Finance), Adi Sulistyo (Manager Human Capital Services yang membawahi fungsi CSR), Bayu Wicaksono (CSR & TJSL), dan Agus Firmansyah (CSR & TJSL).
Dalam presentasinya, tim KRA menekankan pendekatan strategis yang selaras dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) guna menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Hendy Nugroho menjelaskan bahwa perusahaan memandang CSR sebagai bagian integral dari strategi bisnis berkelanjutan.
“Bagi kami, CSR bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem yang sehat antara perusahaan dan masyarakat. Dengan pendekatan ESG, program-program yang dijalankan diharapkan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata,” ujar Hendy.
Sebagai bagian dari Komatsu Group dan United Tractors, KRA juga membawa standar global ke dalam operasional perusahaan. Hal ini tercermin dari implementasi berbagai sistem manajemen seperti ISO 9001 untuk kualitas, ISO 14001 untuk lingkungan, dan ISO 45001 untuk kesehatan dan keselamatan kerja.
“Namun bagi kami, sertifikasi itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah bentuk komitmen bahwa setiap proses yang kami jalankan harus memberikan kualitas terbaik bagi pelanggan, aman bagi karyawan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tutur Hendy
Kesadaran tersebut, kata Hendy, menjadi titik awal bagi perusahaan dalam merancang pendekatan CSR yang lebih strategis. Pihaknya tidak ingin CSR menjadi program yang terpisah dari bisnis, tetapi menjadi bagian yang terintegrasi dalam cara kami menjalankan perusahaan.
“Oleh karena itu, kami menurunkan komitmen keberlanjutan dari SDGs ke dalam kerangka Triple P Strategy, yaitu People, Portfolio, dan Public Contribution,” tuturnya.
People memastikan bahwa internal organisasi memiliki kompetensi, budaya, dan kesadaran terhadap sustainability. Portfolio memastikan bahwa bisnis yang dijalankan KRA tetap relevan dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sedangkan Public Contribution menjadi bentuk nyata kontribusi perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan. “Yang membedakan pendekatan kami adalah CSR tidak kami posisikan sebagai aktivitas tambahan, tetapi menjadi bagian dari value creation strategy,” ujar Hendy.
Empat Pilar Program CSR
KRA menjalankan program CSR melalui empat pilar utama, yakni pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan. Keempat pilar ini dirancang berdasarkan hasil pemetaan sosial (social mapping) di wilayah Balikpapan Utara yang merupakan kawasan sekitar operasional perusahaan.
Di bidang pendidikan, perusahaan menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan melalui program link and match serta pendidikan vokasi. Kerja sama tersebut melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan sekolah kejuruan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal.
Manager KRA, Adi Sulistyo, menambahkan bahwa penguatan pendidikan vokasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang siap kerja.
“Kami bekerja sama dengan berbagai institusi pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM lokal. Harapannya, lulusan-lulusan ini dapat memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri,” kata Adi.
Dalam dua tahun terakhir, program pendidikan perusahaan telah menjangkau sekitar 860 siswa melalui berbagai kegiatan pembinaan, pelatihan, dan kerja sama pendidikan.
Sementara pada pilar kesehatan, perusahaan menjalankan berbagai program peningkatan layanan kesehatan masyarakat, antara lain penguatan posyandu balita dan lansia, pemeriksaan kesehatan, program perbaikan gizi, hingga penanganan stunting di wilayah sekitar perusahaan.
Pemberdayaan UMKM Melalui Program Eksis
Salah satu program CSR unggulan KRA adalah Eksis (Empowerment Komunitas melalui Sinergi, Inovasi, dan Sustainability). Program Eksis ini berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan kapasitas usaha, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan di wilayah sekitar operasional perusahaan.
Adi menjelaskan bahwa program ini dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan masyarakat.
“Dari hasil social mapping kami menemukan bahwa sekitar 69 persen masyarakat di Balikpapan Utara berada di sektor usaha produktif. Namun masih ada tantangan dalam hal kapasitas usaha, akses pasar, dan literasi keuangan. Program Eksis hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut,” jelas dia.
Program Eksis dijalankan melalui beberapa tahapan, mulai dari peningkatan kapasitas (capacity building), pengembangan bisnis (business development), hingga perluasan pasar (marketing expansion). Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar UMKM dapat berkembang secara mandiri.
Sebagai implementasi program ini, perusahaan membina komunitas UMKM Grin Generation yang berlokasi di Balikpapan Utara. Komunitas ini dipilih karena memiliki potensi ekonomi yang besar serta struktur organisasi yang sudah terbentuk. Pendekatan berbasis komunitas ini menjadi kunci keberhasilan program Eksis.
“Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga melakukan pendampingan secara intensif. Tujuannya agar pelaku UMKM memiliki mental wirausaha yang kuat serta mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Program ini menargetkan 30 hingga 50 UMKM binaan aktif, dengan sasaran lebih dari 50 persen peserta mengalami peningkatan omzet dalam dua tahun.
Pada 2024, total omzet komunitas ini mencapai Rp 571,7 juta. Angka tersebut meningkat menjadi Rp 1,14 miliar pada 2025 atau hampir dua kali lipat dalam periode satu tahun.
Produk yang dihasilkan oleh UMKM binaan juga semakin beragam, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga produk kerajinan. Perusahaan juga membantu peningkatan kualitas produk melalui perbaikan kemasan, standarisasi produksi, hingga sertifikasi halal.
Selain itu, perusahaan mendorong digitalisasi pemasaran melalui media sosial dan marketplace serta memperluas distribusi produk ke jaringan ritel.
“Grin Generation berhasil mendorong UMKM naik kelas dari skala rumahan ke ritel modern melalui peningkatan kualitas, branding, dan kolaborasi, sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Adi.
Dampak program pemberdayaan UMKM ini terlihat dari peningkatan jumlah tenaga kerja lokal yang terlibat.
Pada 2021, jumlah tenaga kerja yang terserap dalam program UMKM binaan mencapai sekitar 15 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 47 orang pada 2026, sementara jumlah penerima manfaat bertambah dari 29 orang menjadi 85 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa program CSR perusahaan tidak hanya meningkatkan kapasitas usaha masyarakat, tetapi juga membuka peluang lapangan kerja baru di wilayah sekitar.
Program Lingkungan dan Konservasi
Selain pemberdayaan ekonomi, kata Adi, KRA juga menjalankan berbagai program pelestarian lingkungan. Salah satu kegiatan utama adalah program konservasi mangrove di wilayah pesisir Balikpapan.
Perusahaan telah menanam sekitar 2.100 pohon mangrove dan memastikan keberhasilan tumbuhnya tanaman tersebut melalui pemantauan berkelanjutan. Program ini kini telah memasuki tahun ketiga.
KRA juga melakukan penanaman pohon endemik di sejumlah sekolah, termasuk di SMA Negeri 6 Balikpapan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda.
Selain itu, perusahaan turut berkontribusi dalam pelestarian satwa endemik Kalimantan dengan mengadopsi dua beruang madu di Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan.
Penghargaan Terkait CSR
Sebagai pengakuan atas komitmen tersebut, menurut Adi, KRA meraih sejumlah penghargaan di bidang CSR. Pada 2023, perusahaan memperoleh penghargaan Investmen Awards 2023 dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebagai perusahaan pelopor yang berkomitmen terhadap pemberdayaan UMKM.
Selain itu, salah satu UMKM binaan perusahaan juga berhasil meraih juara pertama pada ajang UMKM BISA Awards 2024 tingkat nasional. KRA juga meraih predikat tertinggi dalam penilaian Astra Friendly Company 2025 serta menerima penghargaan UMKM Awards 2025 dari Pemerintah Kota Balikpapan dan Balikpapan Award 2026 atas kontribusinya dalam pembinaan sumber daya manusia melalui Program Pemagangan Mandiri.
Tahun 2025, KRA meraih penghargaan TOP CSR Awards 2025 bintang 4 dari Majalah TopBusiness. Tahun ini, perusahaan juga menjadi kandidat peraih TOP CSR Awards 2026.
Kontribusi Pengurangan Emisi Karbon
Dalam sesi pendalaman, Nurul Yakin Setiabudi, salah satu anggota dewan juri menilai bahwa model bisnis yang dijalankan KRA sudah berkontribusi langsung pada pengurangan emisi karbon karena memperpanjang umur produk dan mengurangi kebutuhan produksi baru. Tapi, ia menanyakan soal penghitungan nilai emisi yang dihasilkan dari proses produksi dibandingkan dengan pengurangan emisi yang diperoleh dari proses remanufaktur tersebut.
Menjawab pertanyaan tersebut, Hendy menjelaskan bahwa perusahaan mampu memperpanjang masa pakai peralatan sehingga mengurangi kebutuhan produksi komponen baru yang biasanya menghasilkan emisi karbon lebih besar.
Menurut Hendy, proses remanufacturing pada dasarnya merupakan upaya membangun kembali komponen alat berat agar memiliki performa setara dengan produk baru.
“Dalam proses remanufacturing, kami membangun ulang komponen dengan standar yang sama seperti produk baru. Bahkan performanya kami jamin 100 persen setara dengan komponen baru, termasuk dari sisi garansi yang diberikan kepada pelanggan,” ujar Hendy.
Menurut Hendy, pendekatan tersebut menjadi salah satu implementasi nyata konsep circular economy di sektor industri alat berat. Dengan memperbaiki dan menggunakan kembali komponen yang ada, kebutuhan untuk memproduksi komponen baru dapat ditekan secara signifikan.
Produksi komponen baru umumnya membutuhkan energi besar serta menghasilkan emisi karbon yang cukup tinggi. Oleh karena itu, memperpanjang siklus hidup komponen melalui remanufacturing dinilai menjadi solusi efektif untuk menekan dampak lingkungan dari aktivitas industri.
Selain memiliki dampak lingkungan yang positif, komponen hasil remanufacturing juga memberikan nilai ekonomi bagi pelanggan. Harga komponen hasil remanufacturing umumnya berada pada kisaran 50 hingga 60 persen dari harga komponen baru, namun tetap memiliki performa yang setara.
“Dengan kualitas yang sama seperti komponen baru, pelanggan bisa mendapatkan solusi yang lebih efisien secara biaya sekaligus lebih ramah lingkungan,” jelas Hendy.
Berkolaborasi dengan Institute Teknologi Sepuluh November (ITS), KRA tengah melakukan kajian life cycle assessment guna menghitung secara lebih detail siklus hidup produk dan potensi pengurangan emisi karbon.
“Melalui kajian life cycle assessment, kami dapat mengetahui berapa besar emisi karbon yang dapat direduksi ketika komponen diperbaiki dan digunakan kembali dibandingkan jika harus memproduksi komponen baru,” ujar Hendy.
Kajian tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat strategi keberlanjutan serta mendukung kebijakan dekarbonisasi sektor industri nasional.
Untuk menekan emisi dari kegiatan operasional, kata Hendy, perusahaan mulai meningkatkan penggunaan energi bersih dalam operasional pabrik. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan renewable energy certificate (REC) melalui kerja sama dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara).
“Sekitar 90 persen listrik yang digunakan di area operasional KRA saat ini berasal dari energi terbarukan melalui skema renewable energy certificate,” kata Hendy.
Selain itu, perusahaan juga mulai melakukan elektrifikasi peralatan operasional. Beberapa forklift yang sebelumnya menggunakan bahan bakar diesel secara bertahap digantikan dengan forklift listrik berbasis baterai.
