Jakarta, TopBusiness—Strategi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dijalankan PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (NP UP) Punagaya di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, menitikberatkan pada integrasi antara penciptaan nilai bisnis dan penyelesaian persoalan sosial-lingkungan di sekitar wilayah operasional. Melalui program unggulan Sapatani Nusa, perusahaan berupaya menjawab krisis air bersih sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat secara berkelanjutan.
Team Leader SDM Umum dan CSR PLN Nusantara Power UP Punagaya, M. Firmansyah Fattah, menjelaskan bahwa strategi CSR unit ini disusun berbasis pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) yang terintegrasi dengan bisnis inti perusahaan pembangkitan listrik itu.
“Program CSR dengan demikian menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan shared value bagi masyarakat dan keberlanjutan operasional,” ujarnya dalam presentasi untuk Dewan Juri Top CSR Awards 2026, via Zoom (17/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Firmansyah didampingi Community Development Officer PLN Nusantara Power UP Punagaya, Novita Indriyani; Community Development Officer PLN Nusantara Power UP Punagaya, M. Fauzi Romadhan.
Secara konteks, program Sapatani Nusa dilatarbelakangi oleh persoalan serius di Desa Punagaya, khususnya terkait akses air bersih. Berdasarkan pemetaan sosial, ratusan kepala keluarga harus membeli air dengan harga tinggi akibat kekeringan yang diperhebat fenomena El Nino. Di sisi lain, karakteristik tanah berpasir menyebabkan rendahnya produktivitas pertanian serta tingginya ketergantungan pada pupuk kimia.
Menjawab tantangan tersebut, PLN NP UP Punagaya mengembangkan sistem pengelolaan air berbasis teknologi dan pemanfaatan limbah operasional pembangkit berupa fly ash dan bottom ash (FABA). Limbah ini diolah menjadi produk pembenah tanah (FABA-Comfe) yang mampu meningkatkan daya serap air dan kesuburan lahan.
Dari sisi implementasi, strategi CSR ini dijalankan melalui pendekatan partisipatif berbasis masyarakat. Perusahaan membentuk Kelompok Pengelola Penyedia Air Bersih (KP-PAB) serta Kelompok Tani Relief sebagai aktor utama di lapangan. Kedua kelompok ini tidak hanya mengelola infrastruktur air dan pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari tata kelola program yang transparan dan mandiri.
“Pendekatan kami adalah bottom-up, di mana masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan melalui forum musyawarah dan focus group discussion. Dengan begitu, program benar-benar menjawab kebutuhan riil,” kata Firmansyah.
Dalam aspek perencanaan, perusahaan menetapkan target yang terukur, antara lain penyediaan akses air bersih 24 jam bagi lebih dari 1.000 jiwa, penurunan biaya air hingga lebih dari 80%, serta pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 50%.
Target ini didukung investasi infrastruktur berupa jaringan pipa, pompa air, serta fasilitas edukasi pertanian berbasis riset.
Pelaksanaan program juga memanfaatkan teknologi digital melalui sistem smart water berbasis Internet of Things (IoT) untuk memastikan distribusi air berjalan efisien dan transparan. Selain itu, perusahaan mengembangkan pusat pembelajaran pertanian (Ribeltan) sebagai laboratorium inovasi sebelum replikasi program ke wilayah lain.
Dari sisi kolaborasi, strategi CSR PLN NP UP Punagaya melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam skema pentahelix, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas lokal. Keterlibatan institusi pendidikan seperti IPB University dan Universitas Hasanuddin menjadi bagian penting dalam memastikan validasi ilmiah atas inovasi yang dijalankan.
Hasilnya, program ini tidak hanya memberikan dampak sosial, tetapi juga ekonomi dan lingkungan. Biaya air masyarakat turun signifikan, produktivitas pertanian meningkat, serta limbah FABA yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan kini menjadi sumber nilai ekonomi baru. Bahkan, program ini mencatat nilai Social Return on Investment (SROI) di atas 1, yang menunjukkan manfaat yang dihasilkan melampaui nilai investasi.
Selain itu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program mencapai kategori “sangat baik”, mencerminkan penerimaan yang kuat dari komunitas penerima manfaat. Dampak lainnya adalah penguatan social license to operate perusahaan, yang menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Ke depan, PLN NP UP Punagaya berencana mereplikasi model program ini ke wilayah lain dengan penyesuaian kondisi lokal. Penguatan kelembagaan masyarakat, peningkatan kapasitas, serta pengembangan model bisnis berbasis CSR menjadi fokus dalam menjaga keberlanjutan program.
“Strategi kami adalah memastikan bahwa setiap inisiatif CSR memiliki dampak yang terukur, berkelanjutan, dan selaras dengan tujuan bisnis perusahaan. Dengan demikian, CSR menjadi investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya,” tutur Firmansyah.
Melalui pendekatan tersebut, PLN Nusantara Power UP Punagaya menunjukkan bahwa praktik CSR yang terintegrasi dengan ESG tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan sosial, tetapi juga memperkuat daya saing dan nilai perusahaan di masa depan
