Jakarta, TopBusiness – Di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan dan penguatan aspek ESG (Environmental, Social, Governance), perusahaan sektor pertambangan dituntut tidak hanya fokus pada operasional, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Tren ini kian menguat seiring meningkatnya perhatian terhadap ketahanan pangan, ekonomi lokal, serta keberlanjutan lingkungan di wilayah operasional industri ekstraktif.
Menjawab tantangan tersebut, PT Cipta Kridatama (CK), melalui strategi CSR terintegrasi, menghadirkan program unggulan Pengembangan Klaster Pertanian Ramah Lingkungan yang menjadi salah satu inovasi dalam ajang TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah TopBusiness secara daring pada 21 April 2026.
Program ini tidak sekadar menjadi bagian dari kewajiban sosial perusahaan, tetapi telah berkembang menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
Strategi CSR Terintegrasi Berbasis ESG dan SDGs
Div. Head Corporate Communication & External Relations PT Cipta Kridatama, Reza Ardiansa, menjelaskan bahwa pendekatan CSR perusahaan telah dirancang selaras dengan strategi bisnis dan kebijakan holding.
“Sebagai perusahaan jasa pertambangan terintegrasi, kami tidak hanya berfokus pada operasional, tetapi juga mengintegrasikan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dengan program CSR yang berkelanjutan. Ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan sekaligus mendorong pembangunan sosial masyarakat di sekitar wilayah operasional,” ujar Reza dalam dalam wawancara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan secara online oleh Majalah Top Business, Selas 21 April 2026.
Ia menambahkan, program ini juga sejalan dengan kebijakan dari ABM Group sebagai holding, yang menetapkan empat pilar utama CSR, yakni pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan sosial budaya.
Lebih jauh, implementasi program CSR CK juga mendukung pencapaian berbagai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi berkelanjutan, aksi iklim, serta ekosistem darat.
Menurut Reza, Program Pengembangan Klaster Pertanian Ramah Lingkungan dirancang melalui pendekatan berbasis data dan kebutuhan riil masyarakat. CK mengombinasikan dua wilayah operasional utama, yakni site Borneo Indobara di Tanah Bumbu dan Binuang Mitra Bersama (BMB) di Tapin, Kalimantan Selatan.
Melalui proses social mapping, perusahaan mengidentifikasi bahwa sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama masyarakat di sekitar wilayah operasional. Hal ini menjadi dasar pengembangan program berbasis pertanian sebagai solusi pemberdayaan ekonomi yang relevan.
“Setelah kami melakukan social mapping, kami melihat bahwa pertanian menjadi salah satu sektor yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, kami mengembangkan program berbasis pertanian ramah lingkungan yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan secara berkelanjutan,” jelas Reza.
Program ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari petani lokal, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), pemerintah desa, hingga inovator teknologi pupuk Biotron, sehingga menciptakan ekosistem kolaboratif yang kuat.
Program Unggulan: Inovasi Biotron dan Teaching Factory Pertanian
Salah satu kekuatan utama program ini terletak pada inovasi penggunaan pupuk ramah lingkungan berbasis Biotron dan Biocar, yang dikembangkan melalui pendekatan edukatif dan praktis.
CK membangun fasilitas teaching factory di SMK 1 Tapin sebagai pusat produksi pupuk Biotron sekaligus sarana pembelajaran bagi siswa dan masyarakat. Hasil produksi kemudian didistribusikan kepada petani di wilayah Borneo Indobara untuk diaplikasikan secara langsung.
“Program ini kami desain tidak hanya sebagai bantuan, tetapi sebagai proses pembelajaran yang utuh. Mulai dari pelatihan, pendampingan produksi, penyediaan fasilitas, hingga aplikasi di lapangan dan monitoring. Dengan begitu, petani tidak hanya menerima manfaat, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mandiri,” ungkap Reza.
Ia menambahkan bahwa pendekatan klaster yang diterapkan memungkinkan terciptanya sistem pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus menjadi solusi ekonomi pascatambang.
Pencapaian Nyata: Produktivitas Naik, Petani Lebih Mandiri
Meski dijalankan dengan anggaran relatif efisien sebesar Rp75 juta, program ini berhasil mencatatkan berbagai capaian signifikan. Sebanyak 24 petani telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan intensif, sementara hasil produksi menunjukkan peningkatan yang konkret.
Di Desa Mangkerapi, program ini mampu menghasilkan sekitar 3.000 buah melon dan 4 ton padi per hektare. Capaian ini menjadi indikator keberhasilan program dalam meningkatkan produktivitas pertanian berbasis teknologi ramah lingkungan.
“Dengan pendekatan yang kami lakukan, kami melihat adanya peningkatan produktivitas sekaligus pemahaman petani terhadap praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Harapannya, setelah program ini selesai, masyarakat dapat mandiri dan terus mengembangkan sistem pertanian ini,” kata Reza.
Selain aspek ekonomi, program ini juga memperkuat hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat, yang menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan operasional di wilayah pertambangan.
Keberhasilan program ini tidak hanya terlihat dari output produksi, tetapi juga dari dampak jangka panjang yang dihasilkan. Program ini mendorong terbentuknya ekonomi lokal yang lebih mandiri, meningkatkan kapasitas petani, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat melalui penggunaan pupuk ramah lingkungan.
CK pun berencana untuk mereplikasi model program ini di berbagai site operasional lainnya pada 2026, seiring dengan transformasi organisasi yang dilakukan perusahaan untuk memperkuat fungsi CSR dan external relations.
“Ke depan, kami melihat potensi untuk mengembangkan program ini di site lain. Dengan infrastruktur dan model yang sudah terbentuk, kami optimistis program ini dapat direplikasi dengan lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih luas,” jelas Reza.
Tak hanya itu, program ini juga telah mendapatkan pengakuan nasional melalui penghargaan dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI pada 2025, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam pembangunan desa berkelanjutan.
Langkah PT Cipta Kridatama ini menjadi contoh bagaimana program CSR di sektor pertambangan dapat dikembangkan secara strategis, tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai investasi sosial jangka panjang.
Dengan mengedepankan kolaborasi, inovasi, serta pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat, program Pengembangan Klaster Pertanian Ramah Lingkungan berpotensi menjadi model CSR yang adaptif dan relevan dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.
