TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

BMM Tawarkan Model Filantropi Hybrid, Integrasikan Wakaf, CSR, dan UMKM

Mi’roji
30 April 2026 | 13:46
rubrik: Business Info, CSR, Event
BMM Tawarkan Model Filantropi Hybrid, Integrasikan Wakaf, CSR, dan UMKM

Jakarta, TopBusiness – Baitulmaal Muamalat (BMM) memperkenalkan pendekatan Hybrid Filantropi Model dalam wawancara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness, Rabu (29/4/2026). Model ini mengintegrasikan wakaf, corporate social responsibility (CSR), dan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam satu rantai nilai yang berkelanjutan.

Direktur Wakaf dan CSR BMM, Galeh Pujonegoro, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut lahir dari kebutuhan akan sistem filantropi yang lebih terstruktur dan berdampak luas.

“Hybrid Filantropi Model merupakan pendekatan strategis yang menghubungkan wakaf sebagai fondasi aset produktif jangka panjang, CSR sebagai katalis pembiayaan program, dan UMKM sebagai ujung tombak pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya. 

Ia menambahkan, selama ini aset filantropi kerap berjalan sendiri-sendiri sehingga dampaknya belum optimal. Melalui integrasi tersebut, BMM berupaya mengubah potensi menjadi dampak nyata yang berkelanjutan dan terukur. Konsep *from asset to impact* menjadi dasar dalam memastikan bahwa program tidak hanya berhenti pada bantuan, tetapi mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. 

Implementasi model ini diwujudkan melalui Program Sentra UMKM Tegalwaru di Desa Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Program berbasis wakaf produktif ini dikembangkan sebagai pusat ekosistem pemberdayaan ekonomi lokal dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Hingga 2026, jumlah UMKM binaan tercatat mencapai 112 unit. 

Program tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pendampingan intensif dan pelatihan terarah, mencakup aspek produksi, manajemen usaha, keuangan, hingga pemasaran digital. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan pelaku UMKM memiliki standar usaha yang lebih baik, legalitas yang jelas, serta daya saing produk di pasar. 

Dalam paparan program, BMM mengidentifikasi sejumlah tantangan utama UMKM, antara lain keterbatasan akses pasar, rendahnya kapasitas manajerial, minimnya literasi digital, serta rendahnya daya saing produk. Untuk menjawab hal tersebut, dilakukan berbagai intervensi seperti pelatihan kewirausahaan, pendampingan legalitas usaha, pengembangan produk dan kemasan, hingga fasilitasi akses marketplace dan promosi digital. 

BACA JUGA:   Direksi Terlibat Aktif, Kunci Sukses Implementasi CSR Adira Finance

Hasilnya, program menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Pendapatan rata-rata UMKM binaan mengalami tren peningkatan, dengan lonjakan tertinggi pada periode 2024–2025. Hal ini mencerminkan keberhasilan strategi penguatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar. 

Selain itu, jumlah UMKM binaan juga meningkat pesat dari 20 unit pada 2022 menjadi 112 unit pada 2026. Pertumbuhan ini turut mendorong terciptanya lapangan kerja baru di sektor produksi, pemasaran, dan distribusi di tingkat lokal. 

Program ini juga mengedepankan prinsip keberlanjutan melalui praktik usaha ramah lingkungan, seperti pemanfaatan bahan baku lokal, efisiensi sumber daya, serta inovasi pengurangan limbah. Dari sisi sosial, program turut memberdayakan kelompok rentan, termasuk perempuan, lansia, dan masyarakat dhuafa, serta memperluas akses pembinaan ekonomi inklusif. 

BMM juga menerapkan sistem monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas program. Evaluasi dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna mendorong perbaikan berkelanjutan dan menjaga keberlanjutan program. 

“Esensi dari model ini adalah memastikan filantropi menghasilkan perubahan nyata. Tidak hanya memberi, tetapi menciptakan ekosistem yang mampu tumbuh mandiri,” kata Galeh. 

Melalui pendekatan tersebut, BMM menegaskan komitmennya dalam mengembangkan model CSR berbasis ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Model ini juga dinilai sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, serta penciptaan lapangan kerja.

Tags: Baitulmaal MuamalatBMMTOP CSR Awards 2026
Previous Post

Pameran & Konferensi Indonesia Supply Chain Resmi Diluncurkan, Didukung oleh CeMAT dan CargoNOW

Next Post

Walimatu Safar BDI Pertamina Drilling, Bekali Calon Jemaah dengan Pesan Ibadah dan Kesehatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR