Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 46,72 poin atau 0,68% ke level 6.858,89 pada akhir perdagangan Selasa (12/5/2026). Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan jual investor dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 32,81 miliar saham, dengan total nilai transaksi sebesar Rp16,10 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat ramai sejak sesi pertama hingga penutupan, namun tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG bertahan di zona merah hingga akhir sesi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami pelemahan dan berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor di pasar saham domestik, terutama terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap pergerakan kurs dan arus modal asing.
Secara sektoral, pelemahan IHSG dipimpin oleh saham-saham teknologi, infrastruktur, dan industri dasar. Saham sektor perbankan besar juga mengalami tekanan akibat aksi ambil untung investor setelah penguatan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Di kelompok saham unggulan, beberapa emiten perbankan dan telekomunikasi tercatat melemah. Saham PT Bank Central Asia Tbk turun Rp125 atau 1,3% ke posisi Rp9.425 per saham. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terkoreksi Rp70 atau 1,8% ke level Rp3.820 per saham. Sementara saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melemah Rp40 atau 1,4% menjadi Rp2.810 per saham.
Di sisi lain, masih terdapat sejumlah saham yang mampu menguat di tengah tekanan pasar. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk naik Rp225 atau 2,7% ke level Rp8.575 per saham, sedangkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk menguat Rp150 atau 2,1% menjadi Rp7.250 per saham.
Analis pasar menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Penguatan dolar AS serta ketidakpastian arah suku bunga global membuat investor cenderung melakukan repositioning portofolio ke aset yang dianggap lebih aman. Selain itu, pelemahan rupiah turut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan biaya impor dan tekanan terhadap kinerja emiten berbasis bahan baku impor.
Meski demikian, aktivitas perdagangan yang tetap tinggi menunjukkan minat investor terhadap pasar saham domestik masih terjaga. Pelaku pasar menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka apabila stabilitas nilai tukar rupiah membaik dan tekanan jual asing mulai mereda dalam beberapa hari perdagangan mendatang.
Data AI
