TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pelemahan Rupiah Tekan Industri Logistik dan Daya Saing Produk Nasional, Pengusaha Minta Pemerintah Serius

Busthomi
14 May 2026 | 11:36
rubrik: Ekonomi
Kembangkan Lini Bisnis Baru, PADA Dukung Pertumbuhan Sektor Kurir dan Logistik

Ilustrasi bisnis di sektor kurir dan logistik. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai semakin menekan dunia usaha, khususnya sektor logistik dan transportasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor.

CEO Lorena Group, Eka Surbakti, menilai pemerintah perlu lebih serius dalam menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.535 per dolar AS pada 13 Mei 2026.

Menurut Eka, fluktuasi nilai tukar bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, melainkan memiliki dampak langsung terhadap biaya operasional pelaku usaha.

“Industri logistik sangat terpengaruh fluktuasi dolar. Harga BBM bisa naik bukan hanya karena perang, tetapi juga karena rupiah terus turun. BBM kita impor, belinya memakai dolar, sementara jualnya menggunakan rupiah,” ujar Eka, dikutip dari media sosialnya, Kamis (14/5/2026).

“Dari dulu, dari jaman saya jadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat ORGANDA, saya selalu menyampaikan, industri logistik sangat terpengaruh fluktuasi dolar,” tandasnya lagi.

Ia menjelaskan, tekanan biaya tidak hanya berasal dari bahan bakar minyak, tetapi juga dari kenaikan harga suku cadang kendaraan yang mayoritas masih bergantung pada impor, khususnya komponen mesin.

“Komponen kendaraan dan suku cadang banyak yang impor, terutama bagian mesin. Ketika dolar naik, biaya operasional otomatis ikut meningkat,” katanya.

Eka menilai dunia usaha selama ini terus berupaya mencari solusi agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi, mulai dari melakukan efisiensi hingga membuka pasar baru. Namun, menurut dia, upaya tersebut akan sulit optimal apabila kondisi ekonomi makro tidak stabil.

“Pengusaha terus mencari terobosan, mencari pasar, membuat efisiensi, dan berbagai cara untuk bertahan. Tapi kalau kondisi makro berantakan, hasilnya sami mawon (sama saja),” tegasnya.

BACA JUGA:   Kecelakaan Tol Cipularang, DPR: Industri Logistik Tak Baik-Baik Saja!

Ia juga menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap daya saing produk nasional. Menurutnya, daya saing tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk atau desain, tetapi juga oleh biaya produksi yang ikut terdampak kenaikan harga bahan baku impor.

“Daya saing produk bukan hanya soal desain atau kualitas rasa, tetapi juga biaya produksi. Packaging misalnya, masih banyak menggunakan bahan impor seperti plastik. Kalau rupiah melemah dan harga plastik naik, produsen kehilangan daya saing,” ujar Eka.

Sebagai pelaku usaha, Eka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap stabilitas ekonomi nasional demi menjaga keberlangsungan dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja.

“Kami para pengusaha dan entrepreneur terus berusaha membuka lapangan pekerjaan dan mendukung pergerakan ekonomi. Karena itu pemerintah perlu membantu menjaga kondisi ekonomi agar tetap kondusif,” katanya.

Tags: Eka SurbaktiIndustri logistik nasionalnilai tukar rupiahpengusaha otomotif
Previous Post

Peredaran Uang Palsu Semakin Terbatas

Next Post

WIKA Beton Bagikan Dividen Pada RUPST Tahun Buku 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR