Jakarta, BusinessNews Indonesia – Sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia, Indonesia selama ini melihat bursa Rotterdam dan Malaysia sebagai acuan harga minyak sawit dunia.
Acuan harga tersebut saat ada alternatif lain setelah PT Indeks Komoditas Indonesia meluncurkan Indonesian Crude Palm Oil Index (ICPOI). Indeks tersebut akan menjadi pelengkap indeks harga CPO yang selama ini masih mengacu pada bursa perdagangan Rotterdam dan Malaysia.
Direktur Utama Indeks Komoditas Indonesia Maydin Sipayung mengatakan hingga saat ini belum ada harga acuan independen. “Tujuannya supaya sawit punya harga acuan, seperti batu bara,” kata Maydin di Jakarta, Kamis (12/4).
Pasalnya, informasi referensi harga sawit bisa memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha. Karenanya ICPOI ini diharapkan bisa menjadi pelengkap indeks acuan, bukan kompetitor dalam membandingkan harga sawit.
“Semakin banyak indeks semakin baik, para pelaku usaha bisa membandingkan mana yang baik sebagai acuan,” ujar Maydin.
Penetapan indeks acuan atau ICPOI ini menggunakan gabungan metodologi panel assesment dan professional independent assesement supaya tercapai harga yang berorientasi terhadap pasar.
Terdapat 16 panelis pembentuk harga yang terdiri dari produsen, konsumen, dan pedagang. Nantinya, bersama pelaku profesional, harga sawit Indonesia akan dirilis secara mingguan pada hari Jumat.
Formatur Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kacuk Sumarto meminta supaya Indeks Komoditas Indonesia bisa memberikan informasi harga acuan yang tepat dan adil. Sehingga, indeks harga sawit Indonesia bisa menjadi sumber daya yang akurat, transparan, dan memiliki akuntabilitas tinggi.
Kacuk mengakui indeks harga ini mungkin masih akan menjadi alternatif indeks harga Rotterdam dan Malaysia. “Secara alamiah, jika akuntabilitsnya tinggi, alternatif bisa menjadi rujukan dan meninggalkan indeks lain di masa depan,” katanya.
Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Perdagangan Jasa, Kementerian Perdagangan, Lasminingsih mengatakan sawit dan produk turunannya merupakan komoditas strategis Indonesia. Sehingga, dia mengakui manfaat indeks harga sawit sebagai referensi.
Menurutnya, pemerintah akan memiliki harga acuan kredibel untuk penghitungan pajak, pungutan ekspor, dan devisa. Informasi yang akurat bisa membantu upaya pencegahan fluktuasi harga dalam negeri dengan tujuan stabilisasi.
