Jakarta, TopBusiness – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudi Sadewa memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tidak hanya bergantung pada belanja pemerintah. Menurut dia, konsumsi masyarakat dan investasi justru menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Purbaya menyampaikan hal tersebut menanggapi pandangan sejumlah pihak yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% rentan karena dipicu oleh tingginya pengeluaran pemerintah.
“Strategi kita bukan hanya belanja pemerintah, tapi kita juga mengaktifkan sektor swasta. Makanya pertumbuhan ekonomi bisa 5,6% dari awal tahun karena swasta juga mulai bergerak,” ujar Purbaya kepada media, Senin (19/5/2026).
Ia memaparkan, kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 2,9%. Sementara investasi menyumbang sekitar 1,7% dan belanja pemerintah sekitar 1,3%.
“Kalau dilihat dari pangsanya, yang masih memberi kontribusi terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat. Artinya daya beli masih cukup bagus,” katanya.
Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tantangan global dan perlambatan ekonomi dunia. Ia juga menepis anggapan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini bermasalah.
“APBN kita bagus sekali. Mereka tidak mengerti apa yang kita kerjakan,” ujarnya.
Menurut dia, berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi mulai menunjukkan hasil sejak triwulan IV 2025 dan berlanjut pada awal 2026. Pertumbuhan ekonomi nasional, kata dia, kini bergerak lebih cepat dibanding periode sebelumnya.
“Kita betul-betul memperbaiki ekonomi dan sudah kelihatan di kuartal keempat tahun lalu dan kuartal pertama tahun ini. Kita sudah tumbuh semakin cepat,” tutur Purbaya.
Ia memastikan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan dengan mendorong konsumsi domestik dan aktivitas sektor swasta agar ekonomi nasional tetap solid ke depan.
